Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3111 tentang Takdir sudah ditetapkan dan setiap orang dimudahkan sesuai ketetapannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa takdir (qadar) sudah ditetapkan Allah sejak azali, dan setiap orang dimudahkan menuju apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Umar bin Al-Khaththab bertanya kepada Nabi ﷺ apakah amal kita mengikuti takdir yang sudah selesai atau yang belum, dan Nabi ﷺ menjawab bahwa semuanya sudah tertulis, namun setiap orang tetap dimudahkan sesuai apa yang ia diciptakan untuknya. Hadits ini mengajarkan keseimbangan antara beriman kepada takdir dan tetap bersungguh-sungguh beramal.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang menjadi sebab turunnya hadits ini:

QS. Hud [11]: 105

فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

Terjemahan: "Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia."

Ayat lain yang berkaitan erat:

QS. Al-Qamar [54]: 49

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab Tafsir Surah Hud, nomor 3111. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib dari jalur ini.

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا قَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ

Terjemahan: "Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah diketahui tempatnya di surga atau di neraka."

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang takdir dan "dimudahkan" menunjukkan bahwa ilmu Allah yang azali tidak memaksa hamba, tetapi Allah menciptakan jalan dan kemudahan menuju apa yang telah Dia ketahui dan tetapkan.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa beriman kepada qadar adalah rukun iman, dan tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan amal.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Syifa' al-'Alil dan Madarij as-Salikin menjelaskan secara panjang bahwa takdir tidak meniadakan usaha, melainkan justru menjadi dasar mengapa setiap orang dimudahkan.
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa perintah syariat tetap berlaku, dan takdir tidak menjadi hujjah (alasan) untuk meninggalkan ketaatan.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Ketika ayat 105 dari Surah Hud turun, Umar bin Al-Khaththab memahami bahwa ayat tersebut berbicara tentang golongan manusia: ada yang celaka (syafi) dan ada yang berbahagia (sa'id). Umar lalu bertanya kepada Nabi ﷺ: "Apakah kita beramal berdasarkan sesuatu yang sudah selesai (sudah ditetapkan) atau berdasarkan sesuatu yang belum ditetapkan?"

Pertanyaan Umar ini adalah pertanyaan yang sangat dalam. Beliau ingin memahami hubungan antara takdir dan amal. Jika semuanya sudah ditetapkan, lalu apa fungsi amal?

Nabi ﷺ menjawab dengan sangat jelas: "Bahkan berdasarkan sesuatu yang sudah selesai, dan pena telah menuliskannya, wahai Umar. Tetapi setiap orang dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan untuknya."

Pemahaman ulama:

Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa kalimat "setiap orang dimudahkan" (كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ) adalah kunci keseimbangan dalam memahami takdir. Allah tidak hanya menetapkan tujuan akhir, tetapi juga menetapkan sebab-sebab dan jalan menuju tujuan itu. Orang yang ditetapkan berbahagia akan dimudahkan untuk beramal saleh, dan orang yang ditetapkan celaka akan dimudahkan untuk beramal buruk. Ini bukan paksaan, tetapi Allah menciptakan sebab dan akibat yang saling terkait.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa ilmu Allah yang azali tidak bertentangan dengan adanya pilihan (ikhtiyar) bagi hamba. Allah mengetahui apa yang akan dipilih hamba, dan Dia menciptakan hamba dengan kemampuan memilih. Namun, Allah juga yang memudahkan hamba menuju pilihan tersebut.

Imam an-Nawawi menegaskan bahwa beriman kepada qadar wajib, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan atau meninggalkan usaha. Justru karena kita tidak tahu apa yang telah ditetapkan untuk kita, kita harus berusaha maksimal dalam kebaikan dan berdoa kepada Allah.

Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa perintah dan larangan syariat tetap berlaku sempurna. Takdir tidak menggugurkan kewajiban. Seorang hamba tetap diperintahkan untuk taat, dan dia memiliki kemampuan untuk memilih. Yang ditetapkan Allah adalah pengetahuan-Nya tentang apa yang akan dipilih hamba, bukan paksaan atas hamba.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Di kalangan ulama Ahlus Sunnah, tidak ada perbedaan dalam pokok masalah ini. Semua sepakat bahwa:

  1. Takdir adalah hakikat yang wajib diimani.
  2. Amal tetap wajib dilakukan.
  3. Takdir tidak menjadi alasan untuk meninggalkan ketaatan.

Yang ada hanyalah perbedaan dalam cara menjelaskan hubungan antara takdir dan amal, namun semuanya bermuara pada satu kesimpulan: beriman kepada takdir, dan tetap beramal dengan sungguh-sungguh.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah dan kitab-kitab aqidahnya menjelaskan bahwa takdir ada empat tingkatan: ilmu Allah, penulisan, kehendak, dan penciptaan. Semuanya harus diimani. Dan beliau menegaskan bahwa takdir tidak menghilangkan usaha, karena Allah menetapkan segala sesuatu beserta sebabnya.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat "فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ" menunjukkan bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan berdasarkan pilihan dan amal mereka, dan Allah mengetahui sejak azali siapa yang akan memilih jalan mana.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin Al-Khaththab adalah seorang yang sangat teliti dalam memahami agama. Ketika ayat tentang orang celaka dan berbahagia turun, beliau tidak serta-merta diam, tetapi bertanya langsung kepada Nabi ﷺ. Ini menunjukkan adab seorang sahabat yang mulia: bertanya untuk memahami, bukan untuk membantah.

Nabi ﷺ menjawab dengan lembut dan jelas, memberikan kaidah yang sangat penting: "Setiap orang dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan untuknya."

Al-Hasan al-Bashri, seorang tabi'in yang terkenal, pernah ditanya tentang takdir. Beliau menjawab dengan tegas bahwa takdir adalah hikmah Allah, dan manusia tetap memiliki tanggung jawab atas amalnya. Beliau juga mengingatkan bahwa orang yang menggunakan takdir sebagai alasan untuk berbuat dosa adalah orang yang salah memahami agama.

Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama besar tabi'ut tabi'in, pernah berkata bahwa takdir tidak pernah menjadi alasan bagi seseorang untuk meninggalkan amal. Beliau sendiri adalah contoh ulama yang sangat produktif dalam beramal, berjihad, dan mengajar, meskipun beliau sangat memahami dan mengimani takdir.

Hikmahnya: iman kepada takdir seharusnya membuat kita semakin bersungguh-sungguh, bukan semakin malas. Karena kita tidak tahu apa yang telah Allah tetapkan untuk kita, maka kita berusaha sebaik mungkin, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Berimanlah kepada takdir bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah sejak azali, dan pena telah menuliskannya.
  2. Jangan jadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan amal. Justru karena kita tidak tahu takdir kita, kita harus berusaha maksimal dalam kebaikan.
  3. Yakinlah bahwa Allah akan memudahkan setiap orang menuju apa yang telah Dia tetapkan untuknya. Jika kita mendekat kepada Allah, Allah akan memudahkan kita menuju kebaikan.
  4. Perbanyak doa dan istighfar, karena doa adalah bagian dari takdir itu sendiri. Allah menetapkan bahwa doa menjadi sebab datangnya pertolongan.
  5. Jangan sibuk mempertanyakan takdir, tetapi sibuklah beramal saleh. Umar bin Al-Khaththab bertanya untuk memahami, bukan untuk berdebat. Setelah memahami, beliau semakin giat beramal.
  6. Bergaullah dengan orang-orang saleh, karena lingkungan yang baik adalah salah satu sebab Allah memudahkan kita menuju ketaatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?