Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3099 tentang Masjid Nabi adalah masjid yang dibangun atas takwa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa ketika dua orang sahabat berselisih tentang masjid mana yang dimaksud dalam firman Allah “masjid yang dibangun atas dasar takwa sejak hari pertama” (QS. At-Taubah [9]: 108), Nabi ﷺ menegaskan bahwa yang dimaksud adalah Masjid Nabawi di Madinah, bukan Masjid Quba. Hadits ini menunjukkan adab dalam menyelesaikan perselisihan, yaitu dengan merujuk kepada Nabi ﷺ dan menerima keputusannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an yang menjadi pokok pembahasan:

QS. At-Taubah [9]: 108

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

“Janganlah engkau shalat di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, masjid yang dibangun atas dasar takwa sejak hari pertama lebih berhak engkau shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersuci.”

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, melalui jalur Imran bin Abi Anas, dari Abdurrahman bin Abi Sa’id, dan dicatat oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami’ At-Tirmidzi, Kitab Tafsir, Bab tentang Surah At-Taubah, no. 3099. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib dari jalur Imran bin Abi Anas, dan disebutkan pula riwayat lain dari jalur Unais bin Abi Yahya dari ayahnya dari Abu Sa’id.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim ketika menafsirkan QS. At-Taubah [9]: 108 menyebutkan hadits ini dan menjelaskan bahwa mayoritas ulama tafsir menyatakan yang dimaksud adalah Masjid Nabawi, meskipun ada riwayat yang menyebut Masjid Quba.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas riwayat-riwayat tentang masjid yang dibangun atas dasar takwa dan menyebutkan adanya dua pendapat di kalangan salaf, lalu menjelaskan tarjih (penguatan) bahwa Masjid Nabawi lebih kuat berdasarkan hadits shahih ini.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits serupa menegaskan bahwa penegasan Nabi ﷺ merupakan penyelesaian yang mengangkat perselisihan.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Dua orang sahabat berbeda pendapat tentang identitas “masjid yang dibangun atas dasar takwa sejak hari pertama” yang disebut dalam QS. At-Taubah [9]: 108. Sebagian memahami itu adalah Masjid Quba — karena Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, dan dibangun atas dasar ketaatan kepada Allah. Sebagian lain memahami itu adalah Masjid Nabawi. Ketika perselisihan ini disampaikan kepada Nabi ﷺ, beliau menegaskan: “Itu adalah masjidku ini” — yaitu Masjid Nabawi.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  1. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Masjid Nabawi, dan hadits Abu Sa’id Al-Khudri ini menjadi dalil yang menegaskan bahwa yang dimaksud adalah Masjid Nabawi. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian salaf seperti Mujahid dan Qatadah menafsirkan ayat ini dengan Masjid Nabawi, sedangkan sebagian lain menyebut Masjid Quba. Namun riwayat yang shahih dari Nabi ﷺ lebih kuat menunjukkan Masjid Nabawi.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perbedaan pendapat ini terjadi di kalangan sahabat, dan Nabi ﷺ menyelesaikannya dengan penegasan langsung. Ini menunjukkan bahwa kebenaran dalam masalah tafsir harus dikembalikan kepada Nabi ﷺ, bukan kepada dugaan atau pendapat pribadi.
  3. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang adab dalam berselisih: para sahabat tidak bertengkar atau saling mencela, tetapi mereka mengangkat perselisihan itu kepada Nabi ﷺ dan menerima keputusan beliau dengan lapang dada.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama:

  • Sebagian ulama tafsir dari kalangan tabi’in seperti Mujahid bin Jabr dan Qatadah bin Di’amah as-Sadusi menafsirkan “masjid yang dibangun atas dasar takwa” sebagai Masjid Nabawi.
  • Sebagian lain seperti Atha’ bin Abi Rabah dan Sa’id bin al-Musayyib menyebutkan bahwa itu adalah Masjid Quba.
  • Namun hadits shahih dari Abu Sa’id Al-Khudri ini menjadi tarjih (penguat) bahwa yang dimaksud adalah Masjid Nabawi, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan Imam an-Nawawi.

Hikmah dan pelajaran:

  • Perselisihan dalam memahami ayat Al-Qur’an sudah terjadi sejak masa sahabat, dan itu bukanlah hal yang tercela selama diselesaikan dengan merujuk kepada dalil yang shahih.
  • Nabi ﷺ sebagai sumber hukum dan penjelas Al-Qur’an memiliki otoritas untuk menetapkan makna yang benar.
  • Umat Islam diajarkan untuk menerima keputusan Nabi ﷺ dengan tunduk dan lapang dada, bukan bersikeras pada pendapat pribadi.

Story Telling

Diceritakan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu — seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan dikenal kedekatannya dengan Nabi ﷺ — bahwa suatu hari dua orang berada di dalam masjid dan berselisih tentang ayat:

> “Masjid yang dibangun atas dasar takwa sejak hari pertama.”

Seorang berkata dengan yakin: “Itu adalah Masjid Quba.”

Yang lain berkata: “Itu adalah Masjid Rasulullah ﷺ.”

Keduanya sama-sama memiliki alasan. Masjid Quba memang masjid pertama yang dibangun Nabi ﷺ ketika hijrah, dan dibangun dengan niat taqwa. Masjid Nabawi juga dibangun atas dasar taqwa dan menjadi pusat ibadah kaum muslimin.

Ketika perselisihan itu sampai kepada Nabi ﷺ, beliau tidak marah, tidak mencela, dan tidak membiarkan umatnya berpecah. Dengan tenang beliau bersabda:

> “هُوَ مَسْجِدِي هَذَا”

> “Itu adalah masjidku ini.”

Yakni Masjid Nabawi. Maka selesailah perselisihan itu dengan satu kalimat yang tegas dan penuh hikmah.

Hikmah kisah ini:

  • Nabi ﷺ adalah hakim dan penjelas Al-Qur’an. Apa yang beliau tetapkan adalah kebenaran yang harus diikuti.
  • Para sahabat memberikan teladan dalam adab berselisih: mereka tidak saling menghina, tidak membuat kelompok, tetapi mengembalikan masalah kepada Rasulullah ﷺ.
  • Seorang mukmin hendaknya lapang dada ketika dalil yang shahih telah jelas, dan tidak bersikeras pada pendapat pribadi.

Kesimpulan Praktis

  1. Kembalikan perselisihan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana para sahabat mengembalikan perselisihan mereka kepada Nabi ﷺ, kita pun wajib merujuk kepada dalil yang shahih dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
  2. Terima kebenaran dengan lapang dada. Ketika dalil telah jelas, tidak ada alasan untuk bersikeras pada pendapat pribadi atau fanatik terhadap kelompok.
  3. Jaga adab dalam berbeda pendapat. Perselisihan dalam memahami ayat bisa terjadi, tetapi tidak boleh menimbulkan permusuhan, celaan, atau perpecahan.
  4. Hormati masjid dan tempat ibadah. Masjid Nabawi dan Masjid Quba keduanya memiliki keutamaan, dan keduanya dibangun atas dasar ketaatan kepada Allah. Namun penegasan Nabi ﷺ menunjukkan keutamaan khusus Masjid Nabawi.
  5. Belajar tafsir dari sumber yang shahih. Memahami Al-Qur’an harus merujuk kepada tafsir yang berdasarkan riwayat shahih dan penjelasan ulama yang terpercaya, bukan sekadar dugaan atau logika semata.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?