Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3092 tentang Empat pesan Ali saat haji tentang larangan dan perjanjian

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi empat pengumuman penting yang dibawa oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pada hari Haji Akbar (Haji Wada'), yaitu: larangan thawaf dalam keadaan telanjang, penegasan masa berlaku perjanjian dengan Nabi ﷺ, penegasan bahwa hanya orang mukmin yang masuk surga, dan larangan bercampurnya orang musyrik dengan Muslim dalam ibadah haji setelah tahun itu. Hadits ini menjelaskan tahapan akhir pembersihan Baitullah dari praktik jahiliyah dan penegakan tauhid murni.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Tafsir, Bab tentang Surat At-Tawbah, dari Zaid bin Yuthai' (atau Zaid bin Utsai'), dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. At-Tirmidzi menyatakan: "Hadits ini hasan."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan makna serupa, sebagaimana disebutkan At-Tirmidzi: "Dan dalam bab ini ada riwayat dari Abu Hurairah."

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan erat dengan hadits ini adalah firman Allah dalam Surat At-Tawbah:

QS. At-Tawbah [9]: 1

بَرَاءَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى الَّذِينَ عَاهَدتُّم مِّنَ الْمُشْرِكِينَ

"Pembebasan (dari kewajiban) dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik yang telah kamu adakan perjanjian dengan mereka."

QS. At-Tawbah [9]: 28

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا

"Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (kotor jiwanya), maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram setelah tahun mereka ini."

QS. At-Tawbah [9]: 3

وَأَذَانٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ

"Dan suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik."

Penjelasan Rinci

Pertama: Konteks Historis Hadits

Hadits ini terjadi pada tahun ke-9 Hijriyah, ketika Nabi ﷺ mengutus Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu memimpin jamaah haji. Kemudian beliau mengutus Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu untuk menyusul dan menyampaikan pengumuman-pengumuman penting ini. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Ali ditanya: "Dengan apa engkau diutus pada haji itu?" Ali menjawab dengan empat perkara tersebut.

Kedua: Empat Pengumuman yang Dibawa Ali

  1. Larangan thawaf dalam keadaan telanjang. Ini adalah praktik jahiliyah di mana sebagian kabilah Arab melakukan thawaf tanpa pakaian sebagai bentuk kesombongan dan penyimpangan. Islam menghapus praktik ini dan menetapkan bahwa thawaf harus dengan pakaian yang menutup aurat. Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari pembersihan Baitullah dari kemungkaran.
  2. Penegasan masa berlaku perjanjian. Siapa yang memiliki perjanjian dengan Nabi ﷺ, maka perjanjian itu berlaku hingga batas waktunya. Siapa yang tidak memiliki perjanjian, maka diberi tenggang waktu empat bulan. Ini sesuai dengan QS. At-Tawbah [9]: 1-5. Ibn Katsir menjelaskan bahwa ini adalah bentuk keadilan Islam: tidak memutus perjanjian secara sepihak, tetapi memberi kesempatan yang jelas.
  3. Hanya orang mukmin yang masuk surga. Ini adalah penegasan aqidah yang tegas. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa iman adalah syarat mutlak masuk surga. Orang musyrik tidak akan masuk surga, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 72.
  4. Larangan bercampurnya musyrik dan Muslim dalam haji setelah tahun itu. Ini berdasarkan QS. At-Tawbah [9]: 28. Ibn Katsir menjelaskan bahwa setelah tahun 9 H, orang musyrik tidak boleh lagi ikut serta dalam ibadah haji di Masjidil Haram. Ini adalah bentuk penjagaan kemurnian tauhid dan kesucian Baitullah.

Ketiga: Pemahaman Ulama

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam Musnad-nya meriwayatkan hadits serupa dan menjadikannya dalil bahwa orang musyrik tidak boleh masuk Masjidil Haram. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan tahapan dakwah Nabi ﷺ: dari dakwah rahasia, dakwah terbuka, hijrah, hingga pembersihan Baitullah dari syirik secara total.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat At-Tawbah di awal surat adalah "pemutusan hubungan" dengan orang musyrik yang melanggar perjanjian, dan ini adalah bentuk hikmah dan keadilan dalam berdakwah.

Keempat: Catatan Ilmiah tentang Sanad

At-Tirmidzi menyebutkan bahwa Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Abu Ishaq dari sebagian sahabatnya dari Ali. Ada perbedaan penyebutan nama: Zaid bin Utsai' atau Zaid bin Yuthai'. At-Tirmidzi menyatakan yang shahih adalah Zaid bin Utsai'. Ini menunjukkan ketelitian ulama hadits dalam meneliti sanad, sebagaimana disebutkan dalam kitab 'Ilal At-Tirmidzi.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu diutus menyusul Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dalam haji tahun 9 H, beliau berdiri di hadapan manusia di Mina dan menyampaikan pengumuman-pengumuman ini dengan lantang. Orang-orang musyrik yang mendengar larangan thawaf telanjang dan larangan ikut haji setelah tahun itu merasa berat, tetapi mereka tidak bisa membantah karena kebenaran telah nyata. Sebagian mereka kemudian masuk Islam, dan sebagian lain memilih pergi. Ini adalah momen bersejarah di mana Baitullah dibersihkan dari syirik dan kemungkaran, sebagaimana dijelaskan Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah.

Kesimpulan Praktis

  1. Tauhid adalah pondasi utama. Hanya orang mukmin yang masuk surga, maka jaga dan pelajari aqidah dengan benar.
  2. Menutup aurat dalam ibadah adalah kewajiban. Thawaf dan ibadah lainnya harus dilakukan dengan pakaian yang menutup aurat.
  3. Menepati perjanjian adalah akhlak Islam. Islam mengajarkan keadilan bahkan kepada orang yang berbeda keyakinan.
  4. Menjaga kesucian tempat ibadah. Masjidil Haram dan tempat ibadah lainnya harus dijaga dari kemusyrikan dan kemungkaran.
  5. Belajar dari sejarah. Perhatikan bagaimana Nabi ﷺ dan para sahabat membersihkan masyarakat dari jahiliyah secara bertahap dan penuh hikmah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?