Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan salah satu hikmah besar dalam pengumpulan Al-Qur'an di masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, yaitu mengapa Surah Al-Anfal dan At-Taubah digabung tanpa basmalah di antara keduanya. Ini adalah bukti bahwa penulisan dan penyusunan Al-Qur'an bukanlah hasil ijtihad para sahabat semata, melainkan mengikuti petunjuk dan arahan dari Nabi ﷺ, serta menunjukkan kehati-hatian luar biasa para sahabat dalam menjaga wahyu Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: "Dan dari Surah At-Taubah", no. 3086, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits 'Auf dari Yazid Al-Farisi dari Ibnu Abbas."
Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan penjagaan Al-Qur'an:
QS. Al-Hijr [15]: 9
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya."
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah sendiri yang menjamin penjagaan Al-Qur'an, termasuk melalui perantara para sahabat yang mengumpulkannya dengan teliti.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih-nya (Kitab Fadhail Al-Qur'an, Bab: "Pengumpulan Al-Qur'an") dari sahabat Ibnu Abbas juga. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar tentang hikmah penggabungan dua surah ini dan menguatkan bahwa hal ini berdasarkan petunjuk Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Hadits yang mulia ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Pertanyaan Ibnu Abbas kepada Utsman
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bertanya kepada Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu tentang alasan penggabungan Surah Al-Anfal dan At-Taubah tanpa basmalah. Pertanyaan ini menunjukkan semangat ilmiah para sahabat dalam memahami Al-Qur'an, dan Utsman menjawab dengan penjelasan yang memuaskan.
2. Jawaban Utsman bin Affan
Utsman menjelaskan bahwa penempatan ayat-ayat dalam surah-surah tertentu adalah berdasarkan perintah langsung dari Nabi ﷺ. Ketika wahyu turun, Nabi memanggil para penulis wahyu dan berkata: "Letakkan ayat-ayat ini di surah yang menyebutkan ini dan itu." Ini menunjukkan bahwa penyusunan Al-Qur'an adalah tawqifi (berdasarkan petunjuk ilahi), bukan ijtihad para sahabat.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa urutan surah dan ayat dalam Al-Qur'an adalah sesuai dengan arahan Nabi ﷺ, dan para sahabat hanya mengikuti apa yang telah diajarkan.
3. Alasan Penggabungan Al-Anfal dan At-Taubah
Utsman menjelaskan bahwa Surah Al-Anfal termasuk surah yang awal turun di Madinah, sedangkan At-Taubah termasuk surah yang terakhir turun. Karena kisah dan tema keduanya saling berkaitan (keduanya berbicara tentang peperangan, perjanjian, dan sikap terhadap kaum musyrikin), para sahabat mengira At-Taubah adalah bagian dari Al-Anfal. Namun Nabi ﷺ wafat sebelum menjelaskan apakah keduanya terpisah atau bersambung.
Karena itu, para sahabat menggabungkan keduanya tanpa menulis basmalah di antara keduanya, sebagai bentuk kehati-hatian. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah sikap yang sangat teliti—mereka tidak menulis basmalah karena basmalah adalah penanda pemisah antar surah, dan karena tidak ada kepastian dari Nabi ﷺ apakah At-Taubah surah tersendiri atau lanjutan dari Al-Anfal.
4. Pelajaran tentang Penjagaan Al-Qur'an
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan betapa Allah menjaga Al-Qur'an melalui para sahabat yang sangat teliti dan hati-hati. Mereka tidak berani menambah atau mengurangi sedikit pun dari wahyu, bahkan dalam hal penulisan basmalah sekalipun.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang kehati-hatian para sahabat dalam menjaga Al-Qur'an. Diriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu memerintahkan pengumpulan Al-Qur'an setelah Perang Yamamah, Umar bin Al-Khattab mendesaknya, namun Abu Bakar sempat ragu karena ini adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi ﷺ. Namun setelah Allah melapangkan dadanya, beliau menyetujuinya.
Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, yang ditugaskan untuk tugas besar ini, berkata: "Demi Allah, seandainya mereka membebani aku untuk memindahkan sebuah gunung, itu lebih ringan bagiku daripada apa yang mereka perintahkan kepadaku untuk mengumpulkan Al-Qur'an." (HR. Al-Bukhari)
Kisah ini menunjukkan betapa besar tanggung jawab yang mereka rasakan, dan betapa hati-hatinya mereka dalam menjaga setiap huruf Al-Qur'an. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk semakin mencintai dan menghormati Al-Qur'an.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Al-Qur'an yang kita baca hari ini adalah persis seperti yang diturunkan kepada Nabi ﷺ, karena Allah sendiri yang menjaganya melalui para sahabat yang sangat teliti.
- Pelajarilah sejarah pengumpulan Al-Qur'an agar semakin bertambah kecintaan dan keyakinan kita terhadap kitab suci ini.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar bacaan tanpa pemahaman dan pengamalan.
- Teladani kehati-hatian para sahabat dalam menjaga amanah, baik amanah ilmu maupun amanah lainnya.
- Perbanyak membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an sebagai wujud syukur kita atas nikmat terpeliharanya kitab suci ini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.