Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Allah memperlihatkan seluruh keturunan Adam sejak awal penciptaan, dan bahwa Adam pernah memberikan 40 tahun dari umurnya kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam, lalu hal itu terlupakan sehingga manusia pun memiliki sifat lupa dan pernah berbuat salah. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi, dan dipahami para ulama sebagai penjelasan tentang takdir, kelemahan manusia, serta kasih sayang Allah kepada keturunan Adam.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-A'raf [7]: 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا ۚ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak-anak Adam keturunan mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab: 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: 'Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).'"
Hadits terkait:
Hadits riwayat Imam At-Tirmidzi (no. 3076), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dalam Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab tentang Surah Al-A'raf. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih."
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat Al-A'raf 172 sebagai pengambilan kesaksian atas seluruh keturunan Adam, yang berkaitan erat dengan hadits ini.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits-hadits tentang penciptaan Adam dan penyebutan keturunannya.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna "masaha zhahrahu" (mengusap punggung) sebagai isyarat bahwa Allah menetapkan dan memperlihatkan seluruh keturunan Adam.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah dan Syifa' al-'Alil membahas masalah ruh dan penciptaan Adam.
Penjelasan Rinci
1. Makna "Allah mengusap punggung Adam dan jatuhlah seluruh keturunannya"
Para ulama seperti Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah gambaran tentang bagaimana Allah memperlihatkan seluruh manusia yang akan lahir sampai hari kiamat kepada Adam. Ini bukan sekadar peristiwa fisik, tetapi isyarat bahwa Allah telah menetapkan takdir setiap jiwa sebelum mereka dilahirkan.
2. Cahaya di antara kedua mata
Setiap manusia memiliki "wabish" (kilau cahaya) di antara kedua matanya. Ibn Qayyim menjelaskan bahwa ini menunjukkan kemuliaan manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isra' [17]: 70 bahwa manusia dimuliakan di atas banyak makhluk.
3. Adam memberikan 40 tahun umurnya kepada Dawud
Ini menunjukkan bahwa Adam ‘alaihissalam memiliki sifat pemurah dan kagum kepada calon keturunannya yang mulia, yaitu Nabi Dawud ‘alaihissalam. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah bentuk kedermawanan Adam, namun juga menunjukkan bahwa manusia bisa lupa terhadap janji yang pernah diucapkan.
4. "Adam mengingkari, maka keturunannya mengingkari; Adam lupa, maka keturunannya lupa; Adam salah, maka keturunannya salah"
Ini adalah bagian penting. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini bukan celaan kepada Adam, tetapi penjelasan tentang tabiat manusia yang memang memiliki kelemahan: bisa lupa, bisa salah, dan kadang mengingkari. Ini sejalan dengan QS. Al-Baqarah [2]: 286:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ
Terjemahan: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.'"
5. Perbedaan pendapat di antara ulama
Sebagian ulama seperti Ibnu Katsir menerima hadits ini sebagai penjelasan tentang takdir dan tabiat manusia. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hadits ini memiliki jalur-jalur lain yang menguatkan. Imam At-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini hasan shahih, dan menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalur dari Abu Hurairah.
Yang paling kuat: hadits ini diterima dan dipahami sebagai penjelasan tentang:
- Takdir Allah yang telah menetapkan umur setiap manusia
- Tabiat manusia yang memiliki sifat lupa dan salah
- Kasih sayang Allah yang tidak menghukum manusia karena lupa atau keliru (selama tidak sengaja dan tidak menentang)
Story Telling
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menceritakan bahwa ketika Allah menciptakan Adam, Allah memperlihatkan kepadanya seluruh keturunannya. Adam melihat seorang pemuda yang wajahnya bercahaya, dan ia sangat kagum. Allah memberitahu bahwa itu adalah Dawud, seorang nabi dari umat terakhir. Adam yang pemurah memberikan 40 tahun dari umurnya. Ketika Malaikat Maut datang menjemput Adam, Adam merasa umurnya belum habis. Namun Allah telah menetapkan bahwa pemberian itu sah, dan Adam lupa akan janjinya.
Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa manusia memang tempatnya lupa dan salah, tetapi Allah Maha Pengampun. Sebagaimana Ibn Qayyim menyebutkan, manusia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, dan hendaknya selalu bertaubat.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah pada takdir Allah — umur, rezeki, dan segala sesuatu telah ditetapkan sejak sebelum kita lahir.
- Sadari kelemahan diri — manusia bisa lupa dan salah, maka perbanyaklah istighfar dan taubat.
- Jangan berputus asa — Allah tidak menghukum karena lupa atau keliru, selama kita tidak sengaja dan tidak menentang.
- Teladani kedermawanan Adam — memberikan sesuatu yang berharga untuk orang lain adalah akhlak mulia.
- Perbanyak doa sebagaimana diajarkan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 286: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau bersalah."
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.