Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3074 tentang Penampakan Allah pada gunung menyebabkan gunung hancur dan Musa pingsan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan bagaimana Nabi ﷺ membaca dan menjelaskan makna firman Allah tentang tajalli (penampakan diri) Allah kepada gunung pada peristiwa Nabi Musa 'alaihissalam. Dengan isyarat tangan yang sangat halus—memegang ujung ibu jari di atas ujung jari lainnya—Nabi ﷺ menunjukkan betapa kecilnya bagian gunung yang tersisa setelah Allah menampakkan diri-Nya, yaitu hancur lebur menjadi debu yang rata dengan tanah. Hadits ini mengajarkan kita tentang keagungan Allah yang tak terjangkau akal, serta pentingnya menyampaikan ilmu dengan cara yang mudah dipahami, bahkan dengan isyarat sekalipun.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ

"Maka ketika Tuhannya menampakkan diri (tajalli) kepada gunung itu, Dia menjadikannya hancur lebur, dan Musa pun jatuh pingsan." (QS. Al-A'raf [7]: 143)

Hadits:

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dari Surah Al-A'raf, no. 3074. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib shahih. Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain oleh Mu'adz bin Mu'adz dari Hammad bin Salamah, dan At-Tirmidzi menilainya hasan.

Kaitan dengan Ulama:

Peristiwa ini dijelaskan oleh para ulama tafsir dari kalangan salaf. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri dan Qatadah tentang makna dakkan (hancur lebur). Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman juga menjelaskan bahwa gunung itu hancur menjadi rata dengan tanah, dan Musa jatuh pingsan karena tak kuasa menyaksikan keagungan tajalli Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

1. Penafsiran Nabi ﷺ dengan Isyarat

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ membaca ayat tentang tajalli Allah kepada gunung. Kemudian beliau memperagakan dengan tangannya—memegang ujung ibu jari di atas ujung jari lainnya—menunjukkan bahwa setelah gunung itu hancur, yang tersisa hanyalah bagian yang sangat kecil, seperti debu yang tersisa di ujung jari. Ini adalah metode pengajaran Nabi ﷺ yang sangat efektif: beliau tidak hanya membacakan ayat, tetapi juga menjelaskan maknanya dengan bahasa tubuh agar para sahabat memahami dengan jelas.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang gunung yang hancur ini. Para ulama menjelaskan bahwa tajalli Allah kepada gunung bukanlah seperti penampakan makhluk, tetapi merupakan manifestasi kekuasaan Allah yang membuat gunung yang sangat besar itu hancur lebur.

2. Makna "Dakkan" Menurut Ulama Tafsir

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dakkan berarti hancur menjadi rata dengan tanah. Beliau menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri bahwa gunung itu hancur menjadi debu yang beterbangan. Qatadah berkata: "Gunung itu hancur lebur, dan Musa pingsan karena takut." Ini menunjukkan bahwa ketika Allah menghendaki, makhluk yang paling kokoh sekalipun akan hancur dengan mudahnya.

Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa tajalli di sini adalah penampakan sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah, bukan Allah terlihat secara langsung. Gunung yang sangat besar itu tidak mampu menahan, lalu hancur lebur. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak akan mampu melihat Allah di dunia, tetapi orang-orang beriman akan melihat-Nya di surga kelak sebagai kenikmatan terbesar.

3. Pelajaran Aqidah: Allah Tidak Terlihat di Dunia

Peristiwa ini menegaskan bahwa Nabi Musa 'alaihissalam meminta untuk melihat Allah, dan Allah menjawab: "Kamu sekali-kali tidak akan mampu melihat-Ku" (QS. Al-A'raf [7]: 143). Namun, ketika Allah menampakkan tajalli-Nya kepada gunung, gunung itu hancur. Ini menunjukkan bahwa Allah Mahaagung dan tidak mungkin dilihat di dunia ini. Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa melihat Allah hanya akan terjadi di akhirat bagi orang-orang beriman, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits shahih.

4. Adab Menyampaikan Ilmu

Hadits ini juga mengajarkan adab dalam menyampaikan ilmu. Nabi ﷺ tidak hanya menyampaikan secara lisan, tetapi juga memperagakan dengan isyarat agar lebih mudah dipahami. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama menggunakan isyarat untuk menjelaskan makna yang sulit dipahami secara lisan saja.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Imam Sufyan bin 'Uyainah—salah seorang ulama besar dari kalangan tabi'ut tabi'in—pernah ditanya tentang ayat ini. Beliau menangis dan berkata: "Bagaimana mungkin seorang hamba yang lemah ini meminta untuk melihat Tuhannya, padahal gunung yang kokoh saja hancur ketika Allah menampakkan diri-Nya?" Kemudian beliau membacakan ayat ini dan berkata: "Ini adalah pelajaran bagi kita agar tidak memaksakan diri dalam perkara yang di luar kemampuan akal, tetapi cukup beriman dan tunduk kepada kebesaran Allah."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa para ulama salaf sangat meresapi makna ayat-ayat Al-Qur'an. Mereka tidak hanya menghafal, tetapi hatinya tersentuh dan tunduk kepada kebesaran Allah. Ini berbeda dengan orang-orang yang hanya membaca tanpa merenungkan maknanya.

Kesimpulan Praktis

  1. Beriman kepada keagungan Allah tanpa mempertanyakan bagaimana hakikat tajalli-Nya, karena akal manusia tidak akan mampu menjangkaunya.
  2. Meyakini bahwa melihat Allah di dunia tidak mungkin terjadi, dan itu hanya akan dinikmati oleh orang-orang beriman di surga kelak.
  3. Meneladani Nabi ﷺ dalam menyampaikan ilmu dengan cara yang mudah dipahami, termasuk menggunakan perumpamaan atau isyarat bila diperlukan.
  4. Merendahkan diri di hadapan Allah, sebagaimana Nabi Musa yang pingsan karena takut dan kagum kepada kebesaran-Nya.
  5. Tidak memaksakan akal untuk memahami hal-hal ghaib, tetapi cukup beriman dan menerima apa yang diberitakan oleh Al-Qur'an dan hadits shahih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?