Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3058 tentang Perintah amar makruf nahi mungkar dan sabar di akhir zaman

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Ma'idah [5]: 105 ("Jagalah dirimu...") bukan izin untuk meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar. Justru Nabi ﷺ memerintahkan kita tetap menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar. Namun bila keadaan sudah rusak — keserakahan ditaati, hawa nafsu diikuti, dunia lebih diutamakan, dan setiap orang bangga dengan pendapatnya sendiri — maka fokuslah memperbaiki diri sendiri, dan bersabarlah, karena pahala amal di zaman itu sangat besar.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Ma'idah [5]: 105

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; orang yang sesat tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Kepada Allah-lah kamu semua kembali, lalu Dia akan memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."

Hadits terkait — diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 3058, Kitab Tafsir, Bab Surah Al-Ma'idah), dari sahabat Abu Tsa'labah Al-Khusyani رضي الله عنه, melalui jalur Abdullah bin Al-Mubarak (salah satu ulama dalam daftar). At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib. Hadits serupa juga diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan makna yang sama.

Penjelasan Rinci

Konteks pertanyaan Abu Umayah Asy-Sya'bani kepada Abu Tsa'labah:

Seorang tabi'in bertanya kepada sahabat Nabi ﷺ tentang bagaimana memahami ayat 105 Surah Al-Ma'idah. Sebagian orang bisa salah paham, seolah ayat ini membolehkan seseorang hanya sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak peduli pada kemungkaran di sekitarnya. Abu Tsa'labah menjawab dengan tegas: "Demi Allah, engkau telah bertanya kepada orang yang benar-benar mengetahuinya — aku sendiri bertanya langsung kepada Rasulullah ﷺ."

Penjelasan Nabi ﷺ:

Nabi ﷺ tidak membenarkan pemahaman "cuek" terhadap kemungkaran. Beliau bersabda: "Bahkan, perintahkanlah kepada yang ma'ruf dan cegahlah dari yang mungkar..." Artinya, amar ma'ruf nahi mungkar tetap wajib selama masih memungkinkan.

Batas pengecualian yang disebutkan Nabi ﷺ — yaitu ketika muncul lima tanda:

  1. شُحًّا مُطَاعًا — keserakahan/kikir yang ditaati
  2. هَوًى مُتَّبَعًا — hawa nafsu yang diikuti
  3. دُنْيَا مُؤْثَرَةً — dunia lebih diutamakan
  4. إِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ — setiap orang bangga dengan pendapatnya sendiri
  5. (implisit) tidak ada lagi yang mau menerima nasihat

Maka dalam kondisi seperti itu, seseorang fokus pada perbaikan diri sendiri ('alaika bikhaashshati nafsik) dan tidak lagi menghabiskan tenaga untuk orang awam yang menolak.

Pemahaman ulama dalam daftar:

  • Abdullah bin Al-Mubarak (perawi langsung hadits ini) menambahkan riwayat tentang pertanyaan: "Pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?" Nabi ﷺ menjawab: "Bahkan dari kalian." Ini menunjukkan keutamaan besar umat akhir zaman yang berpegang teguh di tengah kerusakan.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini tidak menasakhkan kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar, tetapi mengarahkan agar seseorang tidak merasa bertanggung jawab atas kesesatan orang lain setelah ia menunaikan kewajibannya.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa amar ma'ruf nahi mungkar tetap wajib sesuai kemampuan; yang dilarang adalah memaksakan diri hingga merusak diri sendiri.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perintah amar ma'ruf nahi mungkar bersifat fardhu kifayah, dan gugur dari seseorang bila sudah ada yang menegakkan atau bila tidak lagi bermanfaat.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan ayat ini bermakna: "Jagalah diri kalian dengan menunaikan perintah dan menjauhi larangan; kesesatan orang lain tidak membahayakan kalian selama kalian di atas petunjuk." Beliau juga menekankan bahwa ini bukan dalih meninggalkan dakwah, tetapi penenang bagi hati ketika dakwah tidak diterima.

Kesimpulan ulama: Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan dua hal — tetap menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar sesuai kemampuan, dan fokus memperbaiki diri ketika masyarakat sudah menolak dan rusak parah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Al-Mubarak — seorang ulama besar yang hidup di zaman fitnah dan perpecahan — sangat memperhatikan hadits ini. Beliau dikenal sebagai ulama yang tetap tegas dalam amar ma'ruf nahi mungkar, namun juga sangat menjaga diri dan murid-muridnya dari perdebatan yang tidak bermanfaat. Beliau pernah berkata tentang pentingnya menjaga niat dan ilmu dalam beramal. Hadits Abu Tsa'labah ini menjadi salah satu landasan beliau dalam bersikap di tengah zaman yang penuh ujian — tetap berdakwah, namun tidak membinasakan diri dalam pertengkaran yang sia-sia.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan salah paham terhadap QS. Al-Ma'idah [5]: 105 — ayat ini bukan izin meninggalkan dakwah.
  2. Tetap tegakkan amar ma'ruf nahi mungkar sesuai kemampuan, dengan cara yang baik dan penuh hikmah.
  3. Kenali tanda-tanda zaman kerusakan yang disebut Nabi ﷺ: kikir ditaati, hawa nafsu diikuti, dunia diutamakan, dan setiap orang bangga dengan pendapatnya.
  4. Fokus perbaiki diri sendiri ketika masyarakat sudah menolak nasihat dan kemungkaran merajalela — bukan karena malas, tetapi karena menjaga diri dari kerusakan.
  5. Bersabarlah — pahala amal di zaman fitnah sangat besar, seperti pahala lima puluh orang, sebagaimana sabda Nabi ﷺ.
  6. Jangan tinggalkan ilmu dan nasihat kepada keluarga dan orang terdekat yang masih mau mendengar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?