Penjelasan Hadits At-Tirmidzi No. 3057
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menegaskan bahwa ayat Al-Ma'idah [5]: 105 — "jagalah dirimu sendiri" — bukan alasan untuk membiarkan kemungkaran. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu mengoreksi pemahaman keliru itu dengan sabda Nabi ﷺ: jika umat membiarkan kezaliman tanpa dicegah, Allah akan menurunkan azab yang merata. Jadi, menjaga diri tetap wajib, tetapi amar ma'ruf nahi mungkar juga wajib sesuai kemampuan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Ma'idah [5]: 105
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tidak akan memberi mudarat kepadamu orang yang sesat apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
Hadits — Shahih, riwayat At-Tirmidzi no. 3057
Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا ظَالِمًا فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ
"Sesungguhnya apabila manusia melihat orang zalim lalu mereka tidak mencegahnya, hampir-hampir Allah menimpakan azab yang merata kepada mereka."
At-Tirmidzi berkata: hasan shahih.
Kaitan ulama:
- Ibnu Katsir (Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim) menjelaskan ayat ini bukan izin meninggalkan amar ma'ruf, tetapi perintah menjaga iman dan istiqamah, seraya tetap menegakkan kebenaran.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari) menukil hadits ini sebagai dalil kewajiban mengingkari kemungkaran.
- Imam an-Nawawi (Syarh Shahih Muslim) menegaskan amar ma'ruf nahi mungkar adalah fardhu kifayah, gugur bila sudah ada yang menegakkan.
- Syaikh Abdurrahman as-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman) menyatakan ayat ini memotivasi perbaikan diri sekaligus perbaikan masyarakat.
Penjelasan Rinci
1. Konteks ayat dan koreksi Abu Bakar.
Sebagian sahabat memahami ayat 105 secara keliru: cukup memperbaiki diri, tidak perlu peduli kemungkaran orang lain. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu — khalifah pertama, sahabat terdekat Nabi ﷺ — langsung mengoreksi dengan sabda Nabi ﷺ yang beliau dengar sendiri. Ini menunjukkan pentingnya ilmu riwayat dalam memahami Al-Qur'an, dan bahaya menafsirkan ayat hanya dengan akal.
2. Makna "عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ".
Ibnu Katsir menjelaskan: jaga iman dan amalmu, dan jangan biarkan kesesatan orang lain menjerumuskanmu. Tetapi bukan berarti diam terhadap kemungkaran. As-Sa'di menambahkan: keselamatan diri diraih dengan istiqamah dan menunaikan kewajiban sosial, termasuk amar ma'ruf.
3. Bahaya membiarkan kezaliman.
Nabi ﷺ memperingatkan: bila kezaliman dibiarkan terbuka, azab bisa merata — menimpa yang zalim maupun yang diam. Ibnu Hajar menyebut ini sebagai 'uqubah 'ammah (hukuman kolektif) akibat kelalaian kolektif. An-Nawawi menegaskan: mencegah kemungkaran wajib sesuai kemampuan, tanpa menimbulkan mudarat lebih besar.
4. Tingkatan amar ma'ruf nahi mungkar.
Berdasarkan hadits lain yang shahih (riwayat Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri): dengan tangan (kekuasaan), lisan (nasihat), atau hati (mengingkari dalam hati) — dan yang terakhir adalah selemah-lemah iman. Jadi tidak ada alasan "tidak bisa apa-apa" untuk sekadar diam tanpa mengingkari dalam hati.
5. Perbedaan riwayat.
At-Tirmidzi menyebut sebagian perawi meriwayatkan secara marfu' (sabda Nabi ﷺ) dan sebagian mauquf (perkataan Abu Bakar saja). Namun riwayat marfu' lebih kuat dan dishahihkan, karena Abu Bakar menyandarkannya kepada sabda Nabi ﷺ — bukan pendapat pribadi.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu suatu hari berkhutbah di hadapan manusia. Beliau membacakan ayat Al-Ma'idah 105 yang sering dijadikan alasan sebagian orang untuk tidak peduli urusan umat. Dengan tenang namun tegas, beliau berkata: "Wahai manusia, kalian membaca ayat ini, tetapi kalian salah menempatkannya. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda…" — lalu beliau menyampaikan peringatan tentang azab yang merata.
Para sahabat pun memahami: memperbaiki diri dan memperbaiki masyarakat adalah dua sayap yang tidak boleh dipisahkan. Inilah teladan salafus shalih — tegas dalam kebenaran, lembut dalam penyampaian, dan selalu merujuk kepada sabda Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Jangan jadikan ayat 105 sebagai alasan pasif. Ayat ini memerintahkan menjaga iman, bukan membiarkan kemungkaran.
- Tegakkan amar ma'ruf nahi mungkar sesuai kemampuan — dengan tangan (bagi yang berwenang), lisan (nasihat), atau minimal mengingkari dalam hati.
- Perbaiki diri lebih dulu, lalu ajak orang lain — keduanya berjalan bersama.
- Sampaikan nasihat dengan lembut dan beradab, tanpa ghuluw dan tanpa kekerasan.
- Takutlah pada azab yang merata akibat kelalaian kolektif, sebagaimana diperingatkan Nabi ﷺ.
- Rujuklah kepada ulama terpercaya dalam memahami ayat dan hadits, seperti teladan Abu Bakar yang mengoreksi pemahaman dengan sabda Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.