Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang keutamaan dan keagungan ayat terakhir yang diturunkan secara utuh dalam Al-Qur'an, yaitu firman Allah dalam QS. Al-Maidah [5]: 3. Ayat ini turun pada hari Jumat yang bertepatan dengan hari Arafah (9 Dzulhijjah) di tahun haji wada' (perpisahan). Ini menunjukkan bahwa Allah menyempurnakan agama Islam pada hari yang sangat mulia, dan seorang Yahudi yang mendengar ayat ini pun mengakui keagungannya, bahkan berandai-andai jika ayat itu turun kepada mereka, mereka akan menjadikannya hari raya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Maidah [5]: 3 (potongan yang relevan)
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu."
Hadits Terkait:
Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab: Dan Dari Surat Al-Maidah, no. 3044. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib dari jalur Ibnu Abbas dan shahih.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini adalah ayat terakhir yang turun secara utuh kepada Nabi ﷺ. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa setelah ayat ini turun, Nabi ﷺ tidak menerima wahyu lagi kecuali hanya beberapa saat sebelum wafat, yaitu ayat tentang warisan (QS. An-Nisa [4]: 176).
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini merupakan puncak nikmat Allah kepada hamba-Nya, karena dengan sempurnanya agama, maka tidak ada lagi kebutuhan kepada agama lain, dan Allah meridai Islam sebagai jalan hidup.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini turun pada tahun ke-10 Hijriyah, tepatnya pada hari Jumat di padang Arafah, ketika Nabi ﷺ sedang melaksanakan haji wada' (haji perpisahan). Ini adalah momen yang sangat bersejarah dan agung.
1. Makna "Sempurnanya Agama"
Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa kesempurnaan agama ini mencakup seluruh aspek: aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak. Tidak ada lagi ruang bagi manusia untuk menambah atau mengurangi. Setelah ayat ini, tidak ada lagi hukum yang di-nasakh (dihapus) secara total, karena agama telah sempurna.
2. Perkataan Orang Yahudi
Dalam hadits ini, seorang Yahudi yang mendengar Ibnu Abbas membaca ayat tersebut berkata, "Jika ayat ini diturunkan kepada kami, pasti kami akan menjadikan hari itu sebagai hari raya." Ini menunjukkan bahwa meskipun orang Yahudi tidak beriman kepada Al-Qur'an, mereka tetap mengakui keagungan dan keistimewaan ayat ini. Ini juga menjadi pelajaran bahwa kebenaran Islam itu nyata dan diakui oleh mereka yang jujur.
3. Jawaban Ibnu Abbas
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjawab bahwa ayat ini turun pada hari yang memiliki dua keutamaan sekaligus: hari Jumat (yang merupakan hari raya mingguan umat Islam) dan hari Arafah (yang merupakan bagian dari hari raya haji). Ini menunjukkan bahwa Allah memilih waktu yang paling mulia untuk menurunkan ayat yang menyempurnakan agama-Nya.
4. Pelajaran dari Hadits
- Ayat ini adalah bukti kasih sayang Allah kepada umat Islam.
- Hari Jumat dan hari Arafah adalah hari-hari yang agung di sisi Allah.
- Kita sebagai umat Islam harus bersyukur atas nikmat sempurnanya agama ini dengan cara mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkannya.
- Kita tidak boleh merasa cukup dengan pemahaman yang dangkal, tetapi harus terus belajar agar agama ini benar-benar sempurna dalam diri kita.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, para sahabat merasa sangat gembira. Namun, ada satu sahabat yang menangis, yaitu Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Ketika ditanya mengapa ia menangis, beliau menjawab, "Sesungguhnya ketika sesuatu disempurnakan, maka ia akan berkurang (menuju akhir)." Umar memahami bahwa dengan sempurnanya agama, maka wahyu pun akan segera berhenti, dan itu berarti Nabi ﷺ akan segera meninggalkan mereka.
Ternyata benar, tidak lama setelah ayat ini turun, Nabi ﷺ wafat. Ini menunjukkan kedalaman pemahaman para sahabat dan kecintaan mereka kepada Nabi ﷺ. Mereka lebih sedih karena akan ditinggal Nabi daripada gembira karena agama telah sempurna.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukur atas nikmat Islam yang sempurna dengan cara mempelajari dan mengamalkannya dengan ikhlas.
- Mengagungkan hari Jumat dengan memperbanyak shalawat, membaca Al-Qur'an, dan berdoa, karena ia adalah hari raya mingguan umat Islam.
- Mengambil pelajaran dari hari Arafah dengan memperbanyak doa dan dzikir, terutama bagi yang tidak berhaji.
- Tidak merasa cukup dengan ilmu yang sedikit, karena kesempurnaan agama harus diiringi dengan kesungguhan kita dalam menuntut ilmu.
- Meneladani kecerdasan para sahabat dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an, tidak hanya membaca tetapi juga merenungkan maknanya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.