Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3043 tentang Ayat kesempurnaan agama turun pada hari Arafah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan seorang Yahudi yang mengagumi ayat "al-yauma akmaltu lakum diinakum" (QS. Al-Ma'idah [5]: 3) dan berkata seandainya ayat itu turun kepada mereka, pasti mereka jadikan hari itu sebagai hari raya. Umar bin Al-Khattab menjawab bahwa beliau tahu persis kapan ayat itu turun, yaitu pada hari Arafah bertepatan hari Jumat. Pelajaran utamanya: hari turunnya ayat ini adalah hari yang sangat agung, namun kaum Muslimin tidak menjadikannya hari raya baru karena hari raya sudah ditetapkan syariat, bukan dibuat sendiri.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Ma'idah [5]: 3 (potongan yang disebut dalam hadits):

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Terjemahan ringkas: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 3043) dalam Kitab Tafsir Al-Qur'an, bab tentang Surah Al-Ma'idah, dari sahabat Tariq bin Syihab (seorang tabi'in yang meriwayatkan dari Umar bin Al-Khattab). At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Hadits serupa juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Al-Khattab dengan lafaz yang berdekatan, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab shahih.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun pada hari Arafah, di saat haji wada' (haji perpisahan) Nabi ﷺ, dan itu adalah hari Jumat.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits ini dan menyebutkan bahwa ayat ini adalah ayat terakhir yang diturunkan berkaitan dengan hukum-hukum (sebagian ulama menyebutkan demikian), dan turunnya pada hari Arafah menunjukkan keutamaan hari tersebut.
  • An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna "hari ini" dalam ayat dan kaitannya dengan hari Arafah.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Seorang Yahudi mendatangi Umar bin Al-Khattab dan mengagumi ayat Al-Ma'idah [5]: 3. Ia berkata: "Seandainya ayat ini turun kepada kami, pasti kami jadikan hari turunnya sebagai hari raya." Ucapan ini menunjukkan pengakuan orang Yahudi tersebut akan keagungan ayat dan hari turunnya. Namun Umar bin Al-Khattab — dengan ilmu yang Allah karuniakan kepadanya — menjawab dengan tegas: "Aku tahu hari apa ayat ini turun. Ayat ini turun pada hari Arafah, pada hari Jumat."

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  1. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun pada hari Arafah ketika Nabi ﷺ sedang berkhutbah di Arafah pada haji wada'. Ini adalah hari yang sangat agung, karena pada hari itu Allah menyempurnakan agama Islam. Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa ayat ini adalah ayat terakhir yang diturunkan dalam masalah halal-haram, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat lain.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Umar bin Al-Khattab dalam ilmu dan pemahaman (fiqih). Umar tidak terpengaruh oleh usulan Yahudi untuk menjadikan hari itu sebagai hari raya, karena hari raya dalam Islam sudah ditetapkan oleh syariat (Idul Fitri dan Idul Adha), dan tidak boleh menambah hari raya baru.
  3. An-Nawawi menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwa hari Arafah dan hari Jumat memiliki keutamaan yang besar. Namun, keutamaan tersebut tidak menjadikannya sebagai hari raya yang baru. An-Nawawi juga menyebutkan bahwa Umar bin Al-Khattab mengetahui hari turunnya ayat ini secara pasti, dan ini menunjukkan kedalaman ilmu beliau.
  4. Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan dan kitab-kitabnya yang lain menekankan prinsip bahwa hari raya dalam Islam bersifat tauqifiyyah (ditetapkan oleh syariat), tidak boleh ditambah atau dikurangi. Ini sejalan dengan sikap Umar yang menolak menjadikan hari Arafah sebagai hari raya baru.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang hari apa ayat ini turun. Sebagian mengatakan hari Arafah, sebagian mengatakan hari Nahr (Idul Adha), dan sebagian mengatakan hari Jumat. Namun yang paling kuat — sebagaimana disebutkan dalam hadits ini dan dikuatkan oleh Ibnu Katsir — adalah hari Arafah yang bertepatan dengan hari Jumat. Ini adalah pendapat yang paling shahih dan sesuai dengan riwayat-riwayat yang ada.

Pelajaran penting:

  • Hari raya dalam Islam hanya dua: Idul Fitri dan Idul Adha. Tidak boleh menambah hari raya baru, meskipun hari itu adalah hari yang agung seperti hari Arafah.
  • Umar bin Al-Khattab menunjukkan sikap seorang pemimpin yang berilmu dan tidak terpengaruh oleh usulan yang tidak sesuai syariat.
  • Ayat Al-Ma'idah [5]: 3 adalah ayat yang sangat agung karena menandakan kesempurnaan agama Islam.

Story Telling

Dikisahkan bahwa seorang Yahudi datang kepada Umar bin Al-Khattab dengan maksud menguji atau mungkin mengagumi ayat Al-Qur'an. Ia berkata: "Wahai Amirul Mukminin, seandainya ayat ini turun kepada kami, pasti kami jadikan hari itu sebagai hari raya." Umar bin Al-Khattab — yang dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan berilmu — tidak terburu-buru menjawab dengan emosi. Beliau justru menjawab dengan ilmu: "Aku tahu hari apa ayat ini turun. Ayat ini turun pada hari Arafah, pada hari Jumat."

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Umar bin Al-Khattab pernah menangis ketika membaca ayat ini, karena beliau memahami bahwa kesempurnaan agama ini adalah nikmat yang sangat besar, namun juga menandakan bahwa tugas Nabi ﷺ telah selesai dan ajal beliau semakin dekat. Ini menunjukkan kedalaman pemahaman Umar bin Al-Khattab terhadap Al-Qur'an.

Hikmah dari kisah ini: seorang pemimpin yang berilmu akan menjawab dengan hujjah dan dalil, bukan dengan emosi. Dan seorang Muslim harus memahami bahwa hari raya adalah ketetapan syariat, bukan sesuatu yang bisa dibuat-buat sendiri.

Kesimpulan Praktis

  1. Hari raya dalam Islam hanya dua: Idul Fitri dan Idul Adha. Tidak boleh menambah hari raya baru, meskipun hari itu adalah hari yang agung seperti hari Arafah atau hari Jumat.
  2. Hari Arafah dan hari Jumat memiliki keutamaan besar, tetapi keutamaan tersebut tidak menjadikannya sebagai hari raya.
  3. Ayat Al-Ma'idah [5]: 3 adalah ayat yang sangat agung karena menandakan kesempurnaan agama Islam. Hendaknya kita merenungkan maknanya dan bersyukur atas nikmat Islam.
  4. Meneladani Umar bin Al-Khattab dalam ilmu, ketegasan, dan sikap tidak terpengaruh oleh usulan yang tidak sesuai syariat.
  5. Menuntut ilmu agama adalah jalan untuk memahami dalil dan menjawab syubhat dengan hujjah yang benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?