Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya mengikuti ayat-ayat mutasyabihat (yang samar maknanya) dan meninggalkan ayat-ayat muhkamat (yang jelas). Beliau memerintahkan kita untuk berhati-hati dan waspada terhadap orang-orang yang sengaja mengikuti ayat-ayat yang samar untuk menimbulkan fitnah dan kesesatan. Ini adalah pelajaran penting agar kita selalu merujuk kepada ulama yang mendalam ilmunya dalam memahami Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
- Nama Surah dan Nomor Ayat: QS. Ali 'Imran [3]: 7
- Teks Arab (dengan harakat lengkap):
> هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
- Terjemahan/Makna Ringkas: "Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antara (isi)-nya ada ayat-ayat yang muhkamat (jelas maknanya), itulah pokok-pokok isi Kitab (induk) dan yang lain (ada) ayat-ayat mutasyabihat (samar). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami.' Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal."
Hadits Terkait:
Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya (no. 2994) dari sahabat 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini adalah penjelasan langsung dari Nabi ﷺ tentang makna ayat di atas. Para ulama, seperti Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman, dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari, menjadikan hadits ini sebagai landasan utama dalam menjelaskan ayat tentang muhkamat dan mutasyabihat.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur'an terbagi menjadi dua kategori utama:
- Ayat Muhkamat: Ayat-ayat yang maknanya jelas, tegas, dan tidak samar. Ini adalah "induk" Al-Qur'an (Ummul Kitab), seperti ayat-ayat tentang hukum halal-haram, ibadah, dan akhlak. Ayat-ayat ini menjadi rujukan utama dan dasar dalam beragama.
- Ayat Mutasyabihat: Ayat-ayat yang maknanya samar bagi sebagian orang, atau hanya diketahui secara mendalam oleh Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Contohnya adalah ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah, hakikat hari kiamat, dan ruh.
Syaikh As-Sa'di menjelaskan, orang-orang yang hatinya sehat dan lurus akan beriman kepada semua ayat, baik yang muhkamat maupun yang mutasyabihat. Mereka mengembalikan pemahaman ayat yang samar kepada ayat yang jelas. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit (zaygh), yaitu kebencian dan kesesatan, maka mereka akan mencari-cari ayat-ayat mutasyabihat untuk dijadikan alat memecah belah umat dan menimbulkan fitnah. Mereka tidak mencari kebenaran, tetapi mencari-cari takwil yang menyimpang.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil perkataan Mujahid dan Qatadah bahwa yang dimaksud dengan "mengikuti yang mutasyabihat" adalah mereka yang sengaja mengambil ayat-ayat yang samar untuk dijadikan hujjah dalam kebatilan mereka, serta meninggalkan ayat-ayat yang jelas yang menjelaskan makna sebenarnya.
Nabi ﷺ dalam hadits ini memberikan resep yang sangat jelas: "Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti apa yang tidak jelas darinya, maka mereka itulah yang telah disebutkan Allah, maka waspadalah terhadap mereka." Perintah "waspada" di sini mencakup dua hal:
- Waspada dari kesesatan mereka: Jangan sampai kita tertipu dan ikut dalam pemahaman mereka yang menyimpang.
- Waspada dari bahaya mereka: Jangan sampai kita mendekati mereka atau membiarkan mereka merusak akidah dan persatuan umat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika, 'Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang ayat ini. Beliau kemudian membacakan ayat tersebut dan langsung memberikan peringatan keras ini. Ini menunjukkan betapa pentingnya masalah ini, sampai-sampai Nabi ﷺ menyebut mereka sebagai orang-orang yang "disebutkan Allah" dalam Al-Qur'an, yaitu orang-orang yang hatinya berpenyakit. Peringatan ini bukan hanya untuk para sahabat saat itu, tetapi untuk seluruh umat Islam hingga akhir zaman. Kita diperintahkan untuk menjauhi perdebatan yang sia-sia dalam masalah-masalah samar yang tidak ada faedahnya, dan fokus pada ilmu yang bermanfaat serta amal yang shalih.
Kesimpulan Praktis
Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan:
- Berpegang Teguh pada Ayat Muhkamat: Jadikan ayat-ayat yang jelas (tentang hukum, akidah, dan akhlak) sebagai pedoman utama dalam memahami Islam.
- Iman kepada Ayat Mutasyabihat: Kita wajib mengimani semua ayat Al-Qur'an, termasuk yang samar, tanpa mempertanyakan hakikatnya secara mendalam yang tidak kita ketahui.
- Menjauhi Ahli Fitnah: Jangan mendekati atau mengikuti orang-orang yang suka memperdebatkan ayat-ayat samar untuk memecah belah umat. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai pemilik hati yang menyimpang.
- Merujuk pada Ulama: Jika ada pertanyaan tentang ayat atau hadits yang samar, kembalikanlah kepada ulama yang mendalam ilmunya, sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut (ar-rasikhuna fil 'ilm).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.