Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2972 tentang Tafsir ayat berinfak di jalan Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Baqarah [2]: 195 — "Dan belanjakanlah di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kehancuran" — bukan larangan berjihad atau maju ke medan perang. Ayat itu turun menegur sebagian sahabat Anshar yang ingin berhenti berjihad dan sibuk mengurus harta setelah Islam kuat. Jadi "kehancuran" yang dimaksud adalah meninggalkan jihad dan tenggelam dalam urusan dunia, bukan maju ke medan perang.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Baqarah [2]: 195

وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

"Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

Hadits terkait

Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 2972, dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Aslam Abu 'Imran At-Tujibi. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib.

Kaitan dengan ulama

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini dan menyebutkan riwayat Abu Ayyub ini sebagai penjelas makna yang benar.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits serupa (dari Abu Ayyub) dan menegaskan bahwa ayat ini tidak boleh dipakai untuk melarang seseorang maju berjihad dengan alasan "menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan".
  • At-Tirmidzi sendiri meriwayatkan dan menilai hadits ini sebagai hasan shahih.

Penjelasan Rinci

Konteks turunnya ayat. Ketika Islam sudah kuat dan banyak penolongnya, sebagian sahabat Anshar berbicara di antara mereka sendiri (tanpa sepengetahuan Nabi ﷺ): "Harta kita sudah banyak yang rusak/hilang, sementara Islam sudah kuat. Sebaiknya kita tinggal dan mengurus harta kita." Lalu Allah menurunkan ayat 195 Surah Al-Baqarah sebagai teguran.

Pemahaman yang keliru. Di kota Romawi, seorang Muslim maju menerobos barisan musuh. Orang-orang pun berteriak: "Dia menjatuhkan dirinya ke dalam kehancuran!" Mereka menyangka ayat ini melarang tindakan tersebut. Abu Ayyub Al-Anshari langsung membantah dan menjelaskan bahwa ayat itu turun bukan untuk melarang maju berperang, tetapi untuk menegur sikap meninggalkan jihad karena sibuk harta.

Makna "kehancuran" (at-tahlukah). Menurut penjelasan Abu Ayyub dalam hadits ini, kehancuran yang dimaksud adalah tinggal di rumah mengurus harta dan meninggalkan jihad. Ini dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar yang menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami "at-tahlukah" sebagai meninggalkan kewajiban berjihad dan berinfak di jalan Allah.

Pelajaran dari sikap Abu Ayyub. Setelah memahami ayat dengan benar, Abu Ayyub radhiyallahu 'anhu tidak berhenti berjihad hingga akhir hayatnya, sampai beliau wafat dan dimakamkan di tanah Romawi (Konstantinopel). Ini menunjukkan bahwa pemahaman yang benar melahirkan amal yang benar.

Catatan penting. Ayat ini tetap mengandung larangan umum: seorang Muslim tidak boleh sengaja menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan tanpa maslahat syar'i. Namun menerapkan larangan itu untuk menghalangi jihad di jalan Allah — sebagaimana dilakukan sebagian orang pada masa itu — adalah tafsiran yang salah, dan itulah yang dikoreksi oleh Abu Ayyub.

Story Telling

Di medan perang Romawi, seorang Muslim menerobos barisan musuh sendirian. Kaum Muslimin terkejut dan berkata, "Subhanallah, dia menjatuhkan dirinya ke dalam kehancuran!" Mereka mengira ayat 195 Surah Al-Baqarah melarang tindakan itu.

Maka berdirilah Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu 'anhu — sahabat yang rumahnya menjadi tempat singgah pertama Nabi ﷺ di Madinah — dan berkata dengan tenang namun tegas:

"Wahai manusia, kalian menafsirkan ayat ini dengan tafsiran yang salah. Ayat ini turun tentang kami, orang-orang Anshar. Ketika Allah memuliakan Islam dan memperbanyak penolongnya, sebagian kami berkata: 'Harta kita telah hilang, sebaiknya kita urus harta kita dan tinggalkan perang.' Maka Allah menurunkan ayat: 'Dan belanjakanlah di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kehancuran.' Kehancuran itu adalah tinggal mengurus harta dan meninggalkan jihad."

Sejak hari itu, Abu Ayyub tidak pernah berhenti berjihad di jalan Allah. Beliau terus berjuang hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di tanah Romawi — di dekat tembok Konstantinopel — sebagaimana disebutkan dalam hadits ini dan riwayat-riwayat lain yang dibahas Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar.

Hikmahnya: pemahaman yang benar terhadap Al-Qur'an melahirkan semangat beramal yang benar, dan sebaliknya, tafsiran yang salah dapat mematikan semangat berjihad dan berinfak.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menafsirkan ayat Al-Qur'an dengan hawa nafsu atau untuk membenarkan kemalasan dan kecintaan pada dunia.
  2. Ayat 195 Surah Al-Baqarah menegur sikap sibuk harta hingga meninggalkan kewajiban jihad dan infak — bukan melarang maju ke medan perang.
  3. Belajarlah tafsir dari para ulama yang terpercaya, sebagaimana dicontohkan Abu Ayyub Al-Anshari yang mengoreksi pemahaman yang keliru.
  4. Cintailah akhirat di atas dunia; jangan biarkan harta melalaikan dari ketaatan kepada Allah.
  5. Berinfaklah di jalan Allah sesuai kemampuan, karena itu tanda keimanan dan sebab datangnya pertolongan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?