Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2962 tentang Perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau shalat menghadap Baitul Maqdis (Yerusalem) selama sekitar 16–17 bulan, lalu Allah menurunkan perintah untuk menghadap Ka'bah. Perubahan arah kiblat ini terjadi bahkan saat sebagian sahabat sedang rukuk dalam shalat Ashar, dan mereka langsung memutar badan menghadap Ka'bah. Hadits ini menunjukkan ketaatan sahabat dan keutamaan mengikuti perintah Allah dengan segera.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Baqarah [2]: 144

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ

Terjemahan: "Sungguh, Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana pun kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arahnya."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 2962) dari Al-Bara' bin 'Azib, dan beliau menyatakan: "Hadits ini hasan shahih." Imam At-Tirmidzi juga menyebut bahwa Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan hadits ini dari Abu Ishaq.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam At-Tirmidzi memasukkan hadits ini dalam Kitab Tafsir, bab Surah Al-Baqarah, menunjukkan bahwa hadits ini menjadi penjelasan (tafsir) praktis atas ayat 144.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perpindahan kiblat ini terjadi pada bulan Rajab tahun ke-2 Hijriah, dan merupakan ujian bagi kaum muslimin serta pembeda antara yang taat dan yang ragu.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa peristiwa ini menunjukkan betapa besar keinginan Nabi ﷺ untuk menghadap Ka'bah, dan Allah mengabulkannya.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menceritakan tiga hal penting:

  1. Sebelum perintah menghadap Ka'bah, Nabi ﷺ dan para sahabat shalat menghadap Baitul Maqdis selama sekitar 16–17 bulan setelah hijrah ke Madinah.
  2. Nabi ﷺ sangat ingin (berharap) agar kiblat dipindahkan ke Ka'bah, dan beliau sering menengadah ke langit menunggu wahyu.
  3. Allah menurunkan QS. Al-Baqarah [2]: 144 sebagai jawaban, lalu Nabi ﷺ langsung menghadap Ka'bah. Ketika seorang sahabat melewati jamaah shalat Ashar yang sedang rukuk menghadap Baitul Maqdis, ia memberi kabar, dan mereka langsung memutar badan menghadap Ka'bah tanpa membatalkan shalat.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  • Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perpindahan kiblat adalah salah satu keistimewaan Nabi ﷺ, karena beliau diberi kiblat yang beliau sukai. Ibnu Katsir juga menyebut bahwa peristiwa ini terjadi di Masjid Bani Salamah (kemudian dikenal sebagai Masjid Qiblatain), di mana jamaah shalat Ashar berpindah arah di tengah shalat.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berijtihad dalam menentukan arah kiblat, dan bahwa berita dari satu orang yang terpercaya dapat diterima dalam hal kiblat.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perpindahan kiblat ini terjadi setelah Nabi ﷺ hijrah, dan merupakan penghapusan (naskh) hukum sebelumnya. Beliau juga menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Al-Bara' bin 'Azib sebagai perawi yang menceritakan peristiwa penting ini.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan betapa Allah memperhatikan keinginan Nabi-Nya, dan bahwa perpindahan kiblat adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat Islam, karena Ka'bah adalah kiblat Nabi Ibrahim yang merupakan bapak para nabi.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang berapa lama Nabi ﷺ menghadap Baitul Maqdis. Al-Bara' bin 'Azib menyebut "16 atau 17 bulan" dalam riwayat ini. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa pendapat yang masyhur adalah 17 bulan. Namun perbedaan ini tidak mempengaruhi hukum, karena yang penting adalah peristiwa perpindahan kiblat itu sendiri.

Pendapat yang paling kuat:

Yang paling kuat adalah bahwa Nabi ﷺ menghadap Baitul Maqdis selama sekitar 16–17 bulan, kemudian Allah memerintahkan menghadap Ka'bah. Ini berdasarkan hadits shahih dari Al-Bara' bin 'Azib yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan dikuatkan oleh riwayat-riwayat lain dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Story Telling

Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu menceritakan kisah ini dengan sangat hidup. Beliau adalah salah satu sahabat muda dari kaum Anshar yang banyak meriwayatkan hadits.

Suatu hari, setelah Nabi ﷺ menerima wahyu untuk menghadap Ka'bah, seorang sahabat yang telah shalat Ashar bersama Nabi ﷺ berjalan melewati sebuah masjid di Madinah. Di sana, ia melihat jamaah sedang rukuk dalam shalat Ashar menghadap Baitul Maqdis. Sahabat itu lalu berseru dengan lantang: "Aku bersaksi bahwa aku telah shalat bersama Rasulullah ﷺ, dan beliau telah diarahkan menghadap Ka'bah!"

Mendengar seruan itu, jamaah yang sedang rukuk langsung memutar badan mereka menghadap Ka'bah, tanpa membatalkan shalat. Mereka tidak menunggu, tidak bertanya, tidak ragu. Begitu mendengar perintah Allah, mereka langsung taat.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa masjid itu kemudian dikenal sebagai Masjid Qiblatain (masjid dua kiblat), karena di sanalah terjadi perpindahan arah kiblat dalam satu shalat.

Hikmah dari kisah ini: ketaatan sahabat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan yang langsung, tanpa menunda, bahkan dalam keadaan rukuk. Ini menunjukkan betapa dalamnya keimanan mereka dan betapa besar kecintaan mereka kepada perintah Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Ketaatan kepada Allah harus segera — para sahabat langsung memutar badan menghadap Ka'bah saat mendengar perintah, bahkan di tengah shalat. Ini contoh ketaatan yang patut kita teladani.
  2. Allah memperhatikan keinginan hamba-Nya yang saleh — Nabi ﷺ ingin menghadap Ka'bah, dan Allah mengabulkannya. Ini menunjukkan bahwa doa dan harapan seorang mukmin yang baik akan diperhatikan oleh Allah.
  3. Perpindahan kiblat adalah ujian iman — Ibnu Katsir menjelaskan bahwa peristiwa ini menjadi ujian bagi kaum muslimin, apakah mereka taat atau ragu. Kita pun diuji dengan berbagai perintah Allah; hendaknya kita taat dengan segera.
  4. Menerima berita dari orang terpercaya — jamaah shalat menerima kabar dari satu orang sahabat dan langsung mengubah arah kiblat. Ini menunjukkan bahwa berita dari orang yang terpercaya dapat diterima dalam hal ibadah.
  5. Menghadap Ka'bah adalah kiblat umat Islam — sampai sekarang, kita shalat menghadap Ka'bah. Ini adalah nikmat besar dari Allah yang harus kita syukuri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?