Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2956 tentang Perubahan perintah Allah oleh orang zalim

Penjelasan Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 2956

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan dua peristiwa penting tentang Bani Israil: (1) ketika Allah memerintahkan mereka masuk ke pintu (Baitul Maqdis) dengan bersujud, mereka justru masuk dengan merangkak di atas pantat mereka sebagai bentuk penentangan; dan (2) ketika Allah memerintahkan mereka mengucapkan kata "hiththatun" (ampunilah kami), mereka justru menggantinya dengan kata "habbah fi sya'rah" (biji dalam jelai) sebagai bentuk penghinaan dan pengubahan. Hadits ini menunjukkan betapa buruknya sikap mengubah perintah Allah dengan ejekan, dan ini menjadi pelajaran bagi umat Islam agar tidak menyerupai mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang menjadi topik hadits:

Firman Allah tentang masuk pintu dengan sujud:

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ ۚ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman: 'Masuklah ke negeri ini, maka makanlah dengan senang dan leluasa di mana saja kamu suka, dan masuklah ke pintu itu dengan bersujud, serta katakanlah: hiththatun (ampunilah kami), niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan Kami akan menambah (kebaikan) bagi orang-orang yang berbuat baik.'" (QS. Al-Baqarah [2]: 58)

Firman Allah tentang pengubahan perkataan:

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِّنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

"Maka orang-orang yang zalim itu mengganti perkataan (yang diperintahkan) kepada mereka dengan perkataan yang lain. Lalu Kami turunkan kepada orang-orang yang zalim itu azab dari langit, karena mereka telah berbuat fasik." (QS. Al-Baqarah [2]: 59)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab tentang Surah Al-Baqarah, dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menyatakan: "Hadits ini hasan shahih."

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, dengan lafaz yang menjelaskan bahwa Bani Israil diperintahkan mengucapkan "hiththatun" namun mereka menggantinya dan masuk dengan merangkak.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pengubahan ini adalah bentuk penentangan dan ejekan terhadap perintah Allah.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Bani Israil mengganti perintah dengan kalimat yang mengandung penghinaan.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa perbuatan mereka adalah bentuk istihza' (ejekan) terhadap syariat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan dua bentuk penyimpangan Bani Israil terhadap perintah Allah:

Pertama, Allah memerintahkan mereka masuk ke pintu (Baitul Maqdis) dengan sujud, yaitu dengan menundukkan kepala sebagai tanda ketundukan dan kerendahan hati kepada Allah. Namun mereka justru masuk dengan "mutazahhifin 'ala awrakihim" — merangkak di atas pantat mereka. Ini adalah bentuk penentangan fisik terhadap perintah sujud.

Kedua, Allah memerintahkan mereka mengucapkan "hiththatun" yang berarti "ampunilah kami" atau "lepaskanlah dosa kami" — sebuah kalimat permohonan ampun yang penuh tawadhu. Namun mereka menggantinya dengan "habbah fi sya'rah" — "biji dalam jelai" — sebuah kalimat yang tidak bermakna dan mengandung ejekan.

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Bani Israil diperintahkan untuk masuk dengan sujud dan mengucapkan permohonan ampun, tetapi mereka mengubahnya dengan masuk secara terbalik (merangkak) dan mengucapkan kalimat ejekan. Ini menunjukkan sikap sombong dan tidak mau tunduk kepada perintah Allah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perbuatan mereka ini adalah bentuk "tabdil" (pengubahan) terhadap syariat, baik secara perbuatan maupun ucapan. Beliau juga menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa berbahayanya sikap meremehkan perintah Allah.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil tentang haramnya mengubah atau memodifikasi syariat dengan ejekan, dan bahwa hukuman bagi mereka yang melakukan hal itu adalah azab dari Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya dengan perintah yang mudah dan penuh hikmah, namun orang-orang zalim justru menentangnya dengan cara yang hina. Beliau juga menegaskan bahwa azab yang diturunkan kepada mereka adalah akibat dari kefasikan dan kezaliman mereka.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa mengubah perintah Allah dengan ejekan adalah dosa besar, dan bahwa umat Islam harus menjauhi sikap seperti ini.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Bani Israil diperintahkan untuk masuk ke Baitul Maqdis, mereka diperintahkan untuk bersujud sebagai tanda syukur dan tunduk kepada Allah. Namun, karena kesombongan mereka, mereka justru masuk dengan cara yang tidak pantas — merangkak di atas pantat mereka — seolah-olah mengejek perintah Allah.

Ketika mereka diperintahkan mengucapkan "hiththatun" (ampunilah kami), mereka justru menggantinya dengan "habbah fi sya'rah" (biji dalam jelai). Mereka mengucapkan kalimat itu sambil mengejek dan tertawa, seolah-olah menganggap remeh perintah Allah.

Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya bahwa ketika mereka melakukan hal itu, Allah menurunkan azab dari langit kepada mereka. Ini menjadi pelajaran bagi umat manusia bahwa menentang perintah Allah dengan ejekan adalah jalan menuju kehancuran.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh kalian, tetapi melihat kepada hati dan amal kalian. Bani Israil gagal dalam ujian ini karena hati mereka penuh dengan kesombongan.

Kesimpulan Praktis

  1. Taat kepada perintah Allah tanpa mengubahnya — Jangan menambah, mengurangi, atau mengubah perintah Allah dengan alasan apapun, terutama dengan ejekan.
  2. Hindari sikap sombong dan meremehkan syariat — Bani Israil dihukum karena kesombongan mereka. Kita harus tawadhu dan menerima perintah Allah dengan lapang dada.
  3. Bertaubat dengan sungguh-sungguh — Kalimat "hiththatun" adalah kalimat permohonan ampun. Kita harus banyak memohon ampun kepada Allah dengan kalimat yang benar dan penuh adab.
  4. Jauhi ejekan terhadap agama — Mengubah atau mengejek perintah Allah adalah dosa besar yang bisa mendatangkan azab.
  5. Belajar dari sejarah umat terdahulu — Kisah Bani Israil adalah pelajaran berharga agar kita tidak mengulangi kesalahan mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?