Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2924 tentang Fleksibilitas tata cara ibadah Nabi dalam witir, bacaan, dan junub

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki keluwesan (sa'ah) dalam beberapa ibadah, yaitu waktu shalat witir, cara membaca Al-Qur'an (jahr atau sirr), dan sikap ketika junub sebelum tidur. Ini mengajarkan kita bahwa Islam adalah agama yang mudah dan tidak mempersempit, selama seseorang mengikuti tuntunan yang ada. Hadits ini juga menegaskan bahwa Nabi ﷺ terkadang melakukan satu cara dan terkadang cara lain, agar umatnya tidak merasa berat dengan satu ketentuan yang kaku.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Pahala Al-Qur'an, Bab Bagaimana Bacaan Nabi ﷺ, nomor 2924. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib dari jalur ini.

Teks Arab hadits (potongan yang relevan):

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ وِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كَيْفَ كَانَ يُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ؟ فَقَالَتْ: كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَصْنَعُ، رُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَرُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ آخِرِهِ

Terjemahan: Dari Abdullah bin Abi Qais, ia berkata: "Aku bertanya kepada Aisyah tentang witir Rasulullah ﷺ, bagaimana beliau witir, apakah di awal malam atau di akhir malam? Ia menjawab: 'Semua itu pernah beliau lakukan. Kadang beliau witir di awal malam dan kadang di akhir malam.'"

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Ayat ini menunjukkan prinsip syariat yang memperhatikan kemampuan hamba-Nya, sejalan dengan makna hadits tentang adanya kelapangan dalam beramal.

Kaitan dengan ulama:

Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih-nya, dan para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa beragamnya cara Nabi ﷺ dalam beribadah adalah untuk menunjukkan bolehnya beberapa cara, bukan untuk membingungkan umat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan para ulama:

1. Keluwesan dalam Waktu Shalat Witir

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa witir boleh dilakukan di awal malam, pertengahan, atau akhir malam. Yang paling utama adalah di akhir malam bagi yang mampu, karena Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, maka hendaknya ia witir di awal malam. Dan barangsiapa yang yakin bisa bangun di akhir malam, maka witir di akhir malam lebih utama." (HR. Muslim). Namun hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sendiri terkadang witir di awal malam, untuk mengajarkan bahwa hal itu dibolehkan.

2. Keluwesan dalam Jahr dan Sirr (Keras dan Pelan) dalam Bacaan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa shalat malam (qiyamul lail) disunnahkan terkadang dengan bacaan pelan dan terkadang keras. Beliau menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah shalat malam dengan suara keras di kamarnya sehingga para sahabat mendengarnya, dan pernah pula pelan. Yang penting adalah tidak mengganggu orang lain dan menjaga kekhusyukan.

3. Sikap ketika Junub Sebelum Tidur

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya orang junub tidur sebelum mandi, dengan syarat berwudhu terlebih dahulu. Ini adalah keringanan dari Allah. Namun mandi sebelum tidur lebih utama. Para ulama bersepakat bahwa tidur dalam keadaan junub tanpa berwudhu adalah makruh, tetapi dengan berwudhu menjadi boleh.

4. Pelajaran tentang "Al-Hamdulillah alladzi ja'ala fil amri sa'ah"

Ucapan Abdullah bin Abi Qais ini menunjukkan sikap seorang muslim yang bersyukur ketika mengetahui luasnya syariat. Ini mengajarkan kita untuk tidak mempersempit agama yang telah Allah lapangkan. Imam As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa syariat Islam dibangun di atas kemudahan, dan siapa yang mempersempit dirinya sendiri, maka ia akan kesulitan.

5. Hikmah Perbedaan Cara Ibadah Nabi ﷺ

Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sengaja melakukan berbagai cara dalam ibadah agar umatnya tidak terikat pada satu bentuk saja, dan agar setiap orang bisa memilih sesuai kondisi dan kemampuannya. Ini adalah rahmat dari Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sekelompok sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ibadah beliau, seolah-olah mereka menganggap ibadah mereka sedikit. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah di antara kalian, tetapi aku tetap berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, serta menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan dari golonganku." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan keseimbangan dan tidak berlebihan dalam ibadah. Beliau tidak pernah mempersulit diri sendiri atau umatnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sering mengingatkan bahwa "Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan" dan bahwa syariat datang untuk memudahkan, bukan menyulitkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat witir boleh dilakukan di awal, pertengahan, atau akhir malam. Akhir malam lebih utama bagi yang mampu.
  2. Bacaan dalam shalat malam boleh pelan atau keras, sesuaikan dengan kondisi dan tidak mengganggu orang lain.
  3. Orang junub boleh tidur sebelum mandi dengan berwudhu terlebih dahulu, dan mandi lebih utama.
  4. Jangan mempersempit agama yang telah Allah lapangkan. Islam memberi kelonggaran dalam banyak hal.
  5. Bersyukurlah atas kemudahan syariat, sebagaimana Abdullah bin Abi Qais mengucapkan hamdalah ketika mengetahui luasnya pilihan dalam beribadah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?