Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2880 tentang Keutamaan membaca Ayat Kursi untuk perlindungan dari setan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 2880 ini menceritakan Abu Ayyub Al-Anshari yang gudang kurmanya diganggu oleh makhluk halus (ghul). Nabi ﷺ mengajarinya menangkapnya, lalu makhluk itu mengajarkan bahwa membaca Ayat Kursi di rumah akan menghalau syaitan. Nabi ﷺ membenarkan isi ajarannya ("shadaqat") namun menegaskan bahwa ia tetap pendusta ("wa hiya kadzub"). Pelajaran utamanya: Ayat Kursi adalah benteng rumah dari gangguan syaitan, dan kita tidak mengambil ilmu dari jin meski ucapannya benar.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — Ayat Kursi:

QS. Al-Baqarah [2]: 255

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

"Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di hadapan-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar."

Hadits terkait — Ayat Kursi sebagai pelindung:

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dalam Shahih Al-Bukhari, kisah syaitan yang mencuri zakat dan mengajarkan Ayat Kursi, lalu Nabi ﷺ bersabda bahwa ia berkata benar meski pendusta. Ini dikuatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya.

Kaitan ulama:

  • Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits ini dan menilainya hasan gharib.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas keutamaan Ayat Kursi dan kisah Abu Hurairah.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa jin dan syaitan bisa menampakkan diri dan berbicara, namun tidak dijadikan sumber syariat.
  • Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad dan Badai'ul Fawaid menegaskan bahwa syaitan kadang berkata benar untuk menyesatkan, maka ucapannya tidak diambil kecuali jika dibenarkan syariat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:

1. Gangguan jin/syaitan itu nyata.

Abu Ayyub Al-Anshari رضي الله عنه mengalami sendiri gangguan berupa makhluk yang mengambil kurmanya. Nabi ﷺ tidak mengingkari keberadaan ghul, bahkan memberi solusi praktis. Ini menunjukkan bahwa gangguan jin adalah perkara yang diakui dalam syariat, bukan takhayul semata.

2. Adab menangkap dan menundukkan jin.

Nabi ﷺ mengajarkan kalimat: "Bismillah, ajibi rasulallah" (Dengan nama Allah, jawablah utusan Allah). Ini menunjukkan bahwa seorang muslim menundukkan jin dengan nama Allah dan otoritas risalah, bukan dengan mantra atau sesajen.

3. Jin itu pendusta, meski kadang benar.

Ketika makhluk itu bersumpah tidak akan kembali, Nabi ﷺ bersabda: "Kadzabat wa hiya mu'awidatun lil kadzib" — ia berdusta dan biasa mengulangi dusta. Ini pelajaran bahwa sumpah jin tidak bisa dipercaya.

4. Ayat Kursi adalah pelindung rumah.

Di akhir kisah, jin itu mengajarkan Ayat Kursi. Nabi ﷺ bersabda: "Shadaqat wa hiya kadzub" — ia benar (dalam ucapan itu) namun ia pendusta. Artinya: isi ajarannya sesuai syariat, tetapi ia tetap pendusta yang tidak boleh dijadikan guru.

5. Kaidah penting: kebenaran tidak diambil dari pendusta.

Para ulama seperti Ibnul Qayyim dan Ibnu Hajar menegaskan bahwa kita tidak belajar agama dari jin, meski ucapannya benar. Kebenaran diambil dari Al-Qur'an dan Sunnah. Kebetulan jin menyebut Ayat Kursi, dan Nabi ﷺ membenarkannya karena memang ada dalil lain (hadits Abu Hurairah di Bukhari).

Perbedaan pendapat ulama daftar:

Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar dan An-Nawawi membahas apakah kisah ini sama dengan kisah Abu Hurairah atau berbeda. Keduanya sepakat bahwa Ayat Kursi memiliki keutamaan sebagai pelindung, dan bahwa jin tidak dijadikan sumber ilmu. Tidak ada perbedaan pokok di antara ulama daftar dalam masalah ini.

Story Telling

Suatu hari, Abu Ayyub Al-Anshari رضي الله عنه — sahabat yang rumahnya menjadi tempat singgah Nabi ﷺ saat hijrah — mendapati kurmanya berkurang. Ia melihat ada makhluk halus (ghul) mengambilnya. Ia mengadu kepada Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ bersabda: "Pergilah. Jika kamu melihatnya, katakan: 'Dengan nama Allah, jawablah utusan Allah.'"

Maka Abu Ayyub menangkapnya. Makhluk itu meronta dan bersumpah tidak akan kembali. Abu Ayyub melepaskannya. Ia kembali kepada Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ bersabda: "Ia berdusta, ia akan kembali."

Benar saja, ia kembali. Ditangkap lagi, bersumpah lagi, dilepas lagi. Nabi ﷺ tetap berkata: "Ia berdusta."

Ketiga kalinya, Abu Ayyub berkata: "Aku tidak akan melepaskanmu sampai aku membawamu kepada Nabi ﷺ."

Makhluk itu pun berkata: "Aku akan memberitahumu sesuatu yang bermanfaat: Bacalah Ayat Kursi di rumahmu, maka tidak ada syaitan yang akan mendekatimu."

Abu Ayyub melaporkan hal itu kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ bersabda: "Ia benar, namun ia pendusta."

Hikmahnya: kebenaran yang diucapkan pendusta tetap kebenaran, tetapi kita tidak menjadikannya guru. Kita mengambil ilmu dari wahyu dan para ulama yang terpercaya.

Kesimpulan Praktis

  1. Rutinkan membaca Ayat Kursi di rumah, terutama sebelum tidur dan setelah shalat wajib, sebagai benteng dari gangguan syaitan.
  2. Jangan mengambil ilmu dari jin atau dukun, meski ucapannya benar. Kebenaran diambil dari Al-Qur'an, Sunnah, dan ulama Ahlus Sunnah.
  3. Gunakan nama Allah dalam menghadapi gangguan, bukan mantra atau jimat.
  4. Jangan percaya sumpah jin — ia pendusta yang biasa berdusta.
  5. Jaga adab dalam berinteraksi dengan perkara ghaib: tawakkal kepada Allah, ikuti petunjuk Nabi ﷺ, dan jauhi ghuluw.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?