Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan sebuah perumpamaan yang sangat dalam tentang hakikat kehidupan manusia. Nabi ﷺ melemparkan dua kerikil ke tanah sebagai gambaran bahwa harapan (angan-angan) manusia seringkali jauh melampaui ajal (kematian) yang bisa datang kapan saja. Pelajaran utamanya adalah agar kita tidak tenggelam dalam angan-angan panjang, tetapi selalu mempersiapkan diri untuk kematian yang bisa menjemput tanpa diduga.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab Jami' At-Tirmidzi, Kitab Perumpamaan dari Rasulullah ﷺ, Bab Apa yang Dikatakan tentang Perumpamaan Manusia dan Umurnya serta Harapannya (no. 2870). Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib dari jalur ini.
Teks Hadits (Arab Berharakat):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ حَدَّثَنَا خَلَّادُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ حَدَّثَنَا بَشِيرُ بْنُ الْمُهَاجِرِ، قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ "هَلْ تَدْرُونَ مَا هَذِهِ وَمَا هَذِهِ". وَرَمَى بِحَصَاتَيْنِ. قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ "هَذَاكَ الْأَمَلُ وَهَذَاكَ الْأَجَلُ". قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ.
Terjemahan:
Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya (Buraidah bin al-Hushaib), bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Apakah kalian tahu apa (perumpamaan) ini dan ini?" — dan beliau melemparkan dua kerikil. Mereka (para sahabat) berkata: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Beliau bersabda: "Yang itu (yang lebih jauh) adalah al-amal (harapan/angan-angan), dan yang ini (yang lebih dekat) adalah al-ajal (kematian)." Abu 'Isa (At-Tirmidzi) berkata: "Ini adalah hadits hasan gharib dari jalur ini."
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
QS. Luqman [31]: 34
"Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."
Hadits lain yang mendukung:
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, Nabi ﷺ bersabda:
"Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang musafir." (HR. Al-Bukhari)
Penjelasan Rinci
Makna Umum Hadits:
Nabi ﷺ dalam hadits ini menggunakan metode pengajaran yang sangat visual dan menyentuh. Beliau melemparkan dua kerikil ke tanah — satu ke arah yang jauh, satu lagi dekat. Lalu beliau bertanya kepada para sahabat tentang makna kedua kerikil tersebut. Para sahabat, dengan adab yang tinggi, menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kerikil yang jauh adalah al-amal (angan-angan/harapan) dan kerikil yang dekat adalah al-ajal (kematian).
Pemahaman Para Ulama:
1. Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Al-Fawa'id menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang panjangnya angan-angan manusia dan dekatnya kematian. Manusia seringkali merencanakan hal-hal besar untuk masa depan yang jauh, padahal kematian bisa saja berada lebih dekat daripada apa yang ia rencanakan. Ibnul Qayyim berkata bahwa angan-angan yang panjang adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya, karena ia membuat seseorang lalai dari akhirat dan menunda taubat.
2. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits-hadits tentang zuhud, menekankan bahwa mengingat kematian adalah obat bagi hati yang lalai. Beliau menjelaskan bahwa seorang mukmin seharusnya hidup dengan kesadaran bahwa ajal bisa datang kapan saja, sehingga ia tidak menunda amal saleh.
3. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perumpamaan dengan kerikil ini menunjukkan perbedaan jarak yang signifikan antara angan-angan manusia dengan kematian. Angan-angan manusia seringkali sangat jauh, sementara kematian bisa sangat dekat — bahkan lebih dekat dari apa pun yang kita bayangkan.
4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitabnya Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan QS. Luqman [31]: 34, menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan agar manusia tidak bergantung pada angan-angan kosong, karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi besok, apalagi apakah ia masih hidup besok atau tidak.
5. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan tiga hal penting:
- Pertama, al-amal (angan-angan) adalah sesuatu yang fitrah ada pada manusia, tetapi harus dikendalikan.
- Kedua, al-ajal (kematian) adalah kepastian yang tidak bisa ditunda atau dipercepat.
- Ketiga, seorang mukmin harus menyeimbangkan antara berusaha untuk dunia dan mempersiapkan diri untuk akhirat.
Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama:
Para ulama dari daftar yang disebutkan sepakat bahwa hadits ini adalah anjuran untuk tidak tenggelam dalam angan-angan panjang dan untuk selalu mengingat kematian. Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan dalam hal ini. Yang ada hanyalah perbedaan penekanan: sebagian ulama menekankan aspek zuhud (tidak berlebihan cinta dunia), sebagian menekankan aspek taubat (segera bertaubat sebelum ajal datang), dan sebagian menekankan aspek amal saleh (bersegera dalam kebaikan).
Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan semuanya: bahwa seorang mukmin harus mengingat kematian untuk mendorong dirinya bersegera dalam amal saleh dan tidak menunda taubat, serta tidak berlebihan dalam angan-angan duniawi yang membuatnya lalai dari akhirat.
Story Telling
Kisah Buraidah bin al-Hushaib radhiyallahu 'anhu:
Buraidah bin al-Hushaib adalah seorang sahabat Nabi ﷺ yang mulia. Beliau masuk Islam bersama kaumnya dari Bani Aslam, dan Nabi ﷺ pernah memuji beliau. Beliau meriwayatkan banyak hadits dari Nabi ﷺ, termasuk hadits ini yang diriwayatkan oleh anaknya, Abdullah bin Buraidah.
Dalam suatu kesempatan, ketika Nabi ﷺ sedang duduk bersama para sahabat, beliau mengambil dua kerikil dan melemparkannya. Para sahabat memperhatikan dengan penuh perhatian. Nabi ﷺ bertanya: "Apakah kalian tahu apa ini dan ini?" Para sahabat yang penuh adab menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Nabi ﷺ kemudian menjelaskan bahwa kerikil yang jauh adalah angan-angan manusia, dan kerikil yang dekat adalah kematian.
Hikmah dari kisah ini:
Para sahabat tidak pernah mendahului Nabi ﷺ dalam menjawab pertanyaan, bahkan ketika mereka tidak tahu. Mereka menunjukkan adab yang luar biasa dengan mengatakan "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Ini mengajarkan kita bahwa dalam menghadapi hal-hal yang belum kita ketahui, hendaknya kita tidak berspekulasi dan tidak berbicara tanpa ilmu.
Kisah Salaf tentang Mengingat Kematian:
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih jelas dari kematian, namun manusia tetap lalai." Beliau juga berkata: "Anak Adam (manusia) itu seperti musafir yang sedang dalam perjalanan, dan kematian adalah tujuan akhirnya."
Fudail bin 'Iyadh rahimahullah pernah berkata: "Jika engkau bertanya tentang kematian, maka ketahuilah bahwa ia adalah pintu yang harus dilalui setiap jiwa. Barangsiapa yang mengingatnya, maka ia akan bersegera dalam kebaikan."
Kesimpulan Praktis
Poin-poin yang bisa diamalkan:
- Ingatlah kematian setiap hari — bukan untuk membuat kita sedih, tetapi untuk membuat kita bersegera dalam amal saleh dan tidak menunda taubat.
- Kendalikan angan-angan — boleh bermimpi dan merencanakan masa depan, tetapi jangan sampai angan-angan itu membuat kita lalai dari kewajiban kepada Allah dan dari mempersiapkan bekal akhirat.
- Jangan menunda amal saleh — jika ada kesempatan untuk berbuat baik, lakukan sekarang. Jangan tunggu besok, karena kita tidak tahu apakah besok masih ada untuk kita.
- Bersegera dalam taubat — jika kita melakukan kesalahan, segera bertaubat. Jangan menunda dengan alasan "nanti saja" atau "masih muda".
- Seimbangkan dunia dan akhirat — bekerja untuk dunia adalah bagian dari ibadah, tetapi jangan sampai dunia membuat kita melupakan akhirat.
- Perbanyak mengingat kematian — sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (kematian)." (HR. At-Tirmidzi)
Doa:
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.