Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2868 tentang Perumpamaan shalat lima waktu menghapus dosa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat lima waktu itu seperti sungai di depan rumah yang dipakai mandi lima kali sehari: kotoran (dosa kecil) akan hilang. Ini menunjukkan besarnya rahmat Allah dan pentingnya menjaga shalat tepat waktu. Namun para ulama menjelaskan bahwa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar perlu taubat khusus.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (Shahih):

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ

"Apakah kalian tidak berpikir bahwa jika ada sebuah sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, dan ia mandi di dalamnya lima kali setiap hari, apakah akan tersisa kotoran di tubuhnya?"

Mereka menjawab: "Tidak ada kotoran yang akan tersisa." Beliau bersabda:

فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

"Itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dosa-dosa dengan shalat tersebut."

(HR. At-Tirmidzi no. 2868, kata At-Tirmidzi: hasan shahih; juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz serupa)

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Hud [11]: 114

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

"Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)."

Kaitan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini menunjukkan keutamaan shalat lima waktu sebagai penghapus dosa kecil.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil (shagha'ir), bukan dosa besar (kaba'ir), kecuali dengan taubat.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menyebutkan bahwa perumpamaan ini menggabungkan dua makna: pembersihan dan pembaruan (tajdid) iman setiap hari.

Penjelasan Rinci

Makna perumpamaan (tasybih):

Nabi ﷺ menggunakan gambar yang sangat mudah dipahami: seseorang yang rumahnya berada tepat di tepi sungai, lalu ia mandi lima kali sehari. Secara logika, tidak mungkin ada kotoran yang tersisa di badannya. Demikian pula shalat lima waktu — setiap kali seseorang shalat, dosa-dosa kecilnya diampuni, sehingga pada akhir hari jiwanya bersih kembali.

Pendapat ulama daftar:

  1. Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim:
  • Hadits ini menunjukkan bahwa shalat lima waktu menghapus dosa kecil.
  • Dosa besar (kaba'ir) tidak cukup hanya dengan shalat, tetapi wajib taubat.
  • Syaratnya: shalat dilakukan dengan ikhlas, sesuai sunnah, dan menjauhi hal-hal yang membatalkan.
  1. Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari:
  • Beliau mengutip hadits lain yang semakna, seperti hadits "Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, Ramadhan ke Ramadhan, menjadi penghapus dosa di antara keduanya selama dosa besar dijauhi" (HR. Muslim).
  • Jadi hadits ini harus dipahami bersama hadits tersebut: penghapusan dosa berlaku untuk dosa kecil, dengan syarat dosa besar ditinggalkan.
  1. Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam:
  • Beliau menjelaskan bahwa perumpamaan "sungai" menunjukkan bahwa iman itu bisa kotor seperti badan, dan shalat adalah pembersihnya.
  • Setiap shalat menjadi tajdid (pembaruan) iman dan penghapus kelalaian.
  1. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (wafat 1376 H) dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan QS. Hud [11]: 114:
  • "Al-hasanat" (kebaikan) di sini mencakup shalat, dan "as-sayyi'at" (keburukan) adalah dosa kecil.
  • Ini menunjukkan rahmat Allah yang luas, tetapi bukan berarti seseorang boleh bermaksiat dengan sengaja.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda apakah dosa besar juga bisa terhapus dengan shalat. Pendapat yang paling kuat (rajih) menurut jumhur ulama daftar — seperti an-Nawawi dan Ibnu Hajar — adalah bahwa shalat lima waktu menghapus dosa kecil saja, sedangkan dosa besar memerlukan taubat khusus. Ini didukung hadits shahih riwayat Muslim tentang syarat "selama dosa besar dijauhi."

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri (wafat 110 H), seorang tabi'in yang terkenal zuhud, pernah ditanya tentang orang yang berbuat dosa lalu shalat dan beristighfar, kemudian mengulangi dosanya lagi. Beliau menjawab dengan tegas: "Orang seperti itu adalah orang yang mempermainkan Allah." (disebutkan dalam kitab-kitab zuhud, seperti Az-Zuhd karya Imam Ahmad).

Kisah ini mengajarkan bahwa shalat bukan sekadar ritual penggugur dosa, tetapi harus disertai kesungguhan untuk meninggalkan maksiat. Perumpamaan sungai dalam hadits di atas mengandaikan seseorang benar-benar mandi — bukan hanya menyentuh air lalu pergi.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat lima waktu tepat waktu — ini adalah pembersih harian bagi jiwa kita.
  2. Pahami bahwa yang dihapus adalah dosa kecil — dosa besar tetap butuh taubat khusus (taubat nasuha).
  3. Shalat harus dilakukan dengan ikhlas dan sesuai sunnah — bukan sekadar gerakan tanpa hati.
  4. Jangan bermain-main dengan dosa — perumpamaan sungai mengajarkan kesungguhan dalam bersuci.
  5. Perbanyak istighfar — sebagai pelengkap shalat, karena manusia tidak lepas dari kelalaian.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?