Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah wasiat agung dari Nabi ﷺ yang berisi sepuluh perkara pokok: lima perintah yang dulu diwasiatkan kepada Nabi Yahya dan Bani Isra'il (tauhid, shalat, puasa, sedekah, dan dzikir), lalu lima perintah khusus untuk umat Nabi Muhammad ﷺ (mendengar dan taat, jihad, hijrah, dan berjamaah). Hadits ini mengajarkan bahwa amalan-amalan ini adalah benteng keselamatan, dan peringatan keras bagi siapa yang memisahkan diri dari jamaah atau menyerukan seruan jahiliyah—meskipun ia shalat dan puasa.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Perumpamaan dari Rasulullah ﷺ, Bab Perumpamaan Shalat, Puasa, dan Sedekah, nomor 2863. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib.
Terdapat juga riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, dan Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya. Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Al-Harits Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.
Adapun dalil Al-Qur'an yang relevan dengan kandungan hadits ini, di antaranya:
QS. Ali 'Imran [3]: 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, serta ingatlah nikmat Allah atasmu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara."
QS. Al-Ankabut [29]: 45
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sungguh, mengingat Allah (dzikir) itu lebih besar (keutamaannya)."
Penjelasan Rinci
Hadits ini sangat agung karena memuat wasiat-wasiat para nabi yang disampaikan secara berantai. Mari kita pahami satu per satu:
1. Wasiat Pertama: Tauhid (Tidak Syirik)
Nabi Yahya 'alaihis salam memulai dengan perintah yang paling fundamental: beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Ini adalah inti dakwah seluruh nabi.
Perumpamaan yang diberikan sangat dalam: orang yang syirik itu seperti budak yang dibeli tuannya dengan harta yang halal, lalu budak itu bekerja tetapi memberikan hasilnya kepada orang lain—bukan kepada tuannya yang sah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa syirik adalah kezaliman terbesar karena menempatkan ibadah—yang seharusnya hanya untuk Allah—kepada selain-Nya. Ini seperti budak yang mengkhianati tuannya yang telah membelinya dengan harga mahal.
2. Wasiat Kedua: Shalat dengan Khusyuk
Nabi Yahya memerintahkan shalat dan melarang berpaling (menoleh) saat shalat. Penjelasannya: "Allah menghadapkan wajah-Nya kepada wajah hamba-Nya selama ia tidak berpaling."
Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Wabilush Shayyib menjelaskan bahwa hakikat shalat adalah menghadap Allah dengan hati dan badan. Berpalingnya hati dari Allah dalam shalat—entah karena was-was atau pikiran dunia—adalah penyakit yang harus diobati. Adapun menoleh dengan leher dalam shalat, para ulama membedakan: jika sedikit dan karena kebutuhan, maka dimakruhkan; jika banyak dan tanpa hajat, bisa membatalkan kekhusyukan bahkan shalatnya.
3. Wasiat Ketiga: Puasa
Perumpamaan puasa seperti seseorang yang membawa kantong minyak kesturi di tengah kerumunan orang—semua orang menikmati harumnya. Demikian pula bau mulut orang yang berpuasa (karena tidak makan dan minum) lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah keutamaan besar bagi orang yang berpuasa: Allah menyukai bau yang mungkin terasa tidak sedap bagi manusia, tetapi harum di sisi-Nya. Ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi ibadah yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah.
4. Wasiat Keempat: Sedekah
Perumpamaan sedekah seperti seorang tawanan yang tangannya diikat ke lehernya, siap dipenggal, lalu ia menebus dirinya dengan harta—sedikit atau banyak. Sedekah adalah fidyah (tebusan) yang menyelamatkan seseorang dari azab dan kesulitan.
Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa sedekah memiliki efek luar biasa dalam menolak bala dan musibah. Ini sebagaimana dipahami para ulama dari hadits-hadits tentang sedekah.
5. Wasiat Kelima: Dzikir kepada Allah
Perumpamaan dzikir seperti seseorang yang dikejar musuh, lalu ia berlindung di benteng yang kokoh. Demikian pula seorang hamba—ia tidak dapat melindungi dirinya dari setan kecuali dengan dzikir kepada Allah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa-nya menjelaskan bahwa dzikir adalah benteng pertahanan hati dari serangan setan. Setan selalu berusaha menjauhkan manusia dari Allah, dan dzikir adalah senjata yang paling efektif untuk mengusirnya.
6. Lima Perintah Khusus untuk Umat Nabi Muhammad ﷺ
Setelah menyampaikan wasiat para nabi terdahulu, Nabi ﷺ menambahkan lima perintah khusus untuk umatnya:
- As-Sam'u (mendengar) dan Ath-Tha'ah (taat) kepada pemimpin kaum muslimin dalam kebaikan
- Al-Jihad (berjuang di jalan Allah)
- Al-Hijrah (meninggalkan negeri kekufuran menuju negeri Islam, atau meninggalkan maksiat)
- Al-Jama'ah (bersatu di atas kebenaran)
Kemudian beliau memberi peringatan keras: "Barangsiapa memisahkan diri dari jamaah sejengkal, maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya, kecuali jika ia kembali."
Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam Syarah-nya menjelaskan bahwa yang dimaksud jamaah di sini adalah jamaah kaum muslimin yang berada di atas kebenaran—yaitu Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Memisahkan diri dari mereka—baik dalam masalah aqidah maupun manhaj—adalah bahaya besar.
Adapun "menyerukan seruan jahiliyah"—seperti fanatisme kesukuan, golongan, atau partai yang mengalahkan ukuran syariat—maka pelakunya termasuk Jutsa Jahannam (tumpukan kayu bakar neraka), meskipun ia shalat dan puasa. Ini karena perbuatan tersebut menunjukkan bahwa loyalitasnya kepada kelompok melebihi loyalitasnya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Imam Al-Barbahari dalam kitabnya Syarhus Sunnah menegaskan bahwa wajib atas kaum muslimin untuk bersatu di atas Al-Qur'an dan Sunnah serta pemahaman para sahabat, dan haram berpecah-belah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Nabi Yahya 'alaihis salam menerima perintah ini, beliau merasa berat untuk menyampaikannya sendirian. Maka Nabi Isa 'alaihis salam menawarkan diri untuk menyampaikannya. Namun Nabi Yahya khawatir jika Isa yang mendahuluinya, maka ia akan ditimpa azab karena menunda perintah Allah.
Akhirnya Nabi Yahya mengumpulkan seluruh Bani Isra'il di Baitul Maqdis. Masjid penuh sesak hingga orang-orang duduk di balkon-balkon. Beliau menyampaikan wasiat ini dengan penuh kejujuran dan keberanian, meskipun ia tahu bahwa menyampaikan kebenaran bisa berakibat buruk baginya. Dan memang, akhirnya Nabi Yahya wafat sebagai syahid karena mempertahankan kebenaran—ia dibunuh oleh penguasa zalim karena menolak membenarkan pernikahan haram.
Dari kisah ini kita belajar: menyampaikan kebenaran butuh keberanian, dan Allah akan memuliakan hamba-Nya yang jujur dalam menyampaikan agama-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Jaga tauhid — jangan pernah mencampur ibadah kepada Allah dengan kesyirikan dalam bentuk apa pun.
- Perbaiki shalat — jaga kekhusyukan, hindari berpaling tanpa kebutuhan.
- Jaga puasa — ia memiliki keutamaan besar di sisi Allah.
- Perbanyak sedekah — ia adalah tebusan dari berbagai kesulitan.
- Perbanyak dzikir — ia adalah benteng dari gangguan setan.
- Wajib taat kepada pemimpin dalam kebaikan, berjihad, berhijrah dari kemaksiatan, dan bersatu di atas jamaah Ahlus Sunnah.
- Jauhi perpecahan dan fanatisme golongan — meskipun seseorang rajin shalat dan puasa, menyerukan seruan jahiliyah bisa menjerumuskannya ke neraka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.