Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2656 tentang Kewajiban menyampaikan hadits yang didengar dengan benar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa menyampaikan ilmu (hadits) kepada orang lain adalah amal yang sangat mulia dan mendapat doa kebaikan dari Nabi ﷺ. Yang penting bukan hanya sekadar menghafal, tetapi memahami dan menyampaikannya dengan benar. Terkadang orang yang menyampaikan justru bukan yang paling paham, dan yang menerima bisa lebih paham darinya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ

Terjemahan: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Semoga Allah memperindah (wajah) seseorang yang mendengar hadits dari kami lalu menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain. Betapa banyak pembawa ilmu (fiqih) menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan betapa banyak pembawa ilmu (fiqih) yang bukan seorang yang paham (faqih).'"

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Ilmu, bab tentang pentingnya menyampaikan apa yang didengar. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan. Hadits semakna juga diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, Jubair bin Muth'im, Abu Darda', dan Anas radhiyallahu 'anhum.

Ayat Al-Qur'an yang relevan — perintah menyampaikan dan mengajarkan ilmu:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

QS. Ali 'Imran [3]: 104

Terjemahan: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Penjelasan Rinci

Makna "نَضَّرَ اللَّهُ" (Nadhdhara Allah): Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah doa Nabi ﷺ agar Allah memperindah, menyegarkan, dan menjadikan wajah orang tersebut bercahaya di dunia dan akhirat. Ibnul Atsir dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa maknanya mencakup keindahan lahir dan batin, serta keselamatan dari kesusahan.

Makna "فَحَفِظَهُ" (menghafalnya): Bukan hanya hafal lafazh, tetapi juga menjaga maknanya, tidak menambah, tidak mengurangi, dan tidak menyimpangkan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa yang dimaksud adalah menghafal lafazh dan memahami maknanya, lalu menyampaikannya dengan amanah.

Makna "فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ": Ini menunjukkan bahwa ilmu itu berjenjang. Seseorang bisa membawa hadits kepada orang yang lebih paham darinya, sehingga orang yang lebih paham itu bisa mengeluarkan faedah yang lebih dalam. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fadhlu 'Ilmis Salaf menjelaskan bahwa ini adalah dorongan untuk saling berbagi ilmu, karena bisa jadi yang mendengar lebih memahami daripada yang menyampaikan.

Makna "وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ": Ini peringatan penting. Ada orang yang menghafal banyak hadits tetapi tidak memahami maknanya dengan benar, sehingga bisa salah dalam menyimpulkan. Ibnul Qayyim dalam I'lamul Muwaqqi'in menekankan bahwa ilmu bukan sekadar riwayat, tetapi pemahaman (fiqh) terhadap riwayat itu. Karena itu, seorang penuntut ilmu harus menggabungkan hafalan dengan pemahaman.

Kaitan dengan sanad hadits: Hadits ini memiliki sanad yang menarik: dari 'Abdurrahman bin Aban bin 'Utsman, dari ayahnya (Aban bin 'Utsman), dari Zaid bin Tsabit. Ini menunjukkan bahwa para sahabat dan tabi'in sangat antusias menyampaikan hadits, bahkan di tengah hari yang panas, mereka tetap bertanya dan menyampaikan.

Pendapat ulama tentang derajat hadits: At-Tirmidzi menilai hasan. Sebagian ulama menilainya shahih karena memiliki banyak jalur (syawahid), sebagaimana disebutkan bahwa hadits ini juga diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, Mu'adz, Jubair bin Muth'im, Abu Darda', dan Anas. Al-Albani dalam Shahihul Jami' menilainya shahih.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, salah satu penulis wahyu dan ahli faraidh (ilmu waris) yang paling terkenal, keluar dari rumah Marwan bin Al-Hakam pada tengah hari — waktu yang biasanya orang beristirahat karena panas. Para sahabat yang melihatnya bertanya-tanya: "Tidak mungkin Marwan memanggilnya pada jam seperti ini kecuali untuk sesuatu yang penting."

Ketika mereka bertanya kepada Zaid, beliau menjawab: "Ya, Marwan bertanya kepadaku tentang beberapa hal yang kami dengar dari Rasulullah ﷺ." Lalu beliau menyebutkan hadits ini.

Hikmahnya: Zaid bin Tsabit, seorang ulama besar, tetap menyampaikan ilmu meskipun di waktu yang tidak biasa. Beliau tidak menyimpan ilmu untuk dirinya sendiri, tetapi menyampaikannya dengan penuh tanggung jawab. Ini menunjukkan bahwa menyampaikan ilmu adalah amanah, dan seorang alim tidak boleh pelit dengan ilmunya.

Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan dalam Fadhlu 'Ilmis Salaf bahwa para salaf sangat bersemangat menyampaikan hadits, bahkan jika hanya satu hadits, mereka sampaikan. Mereka takut jika ilmu itu hilang atau tidak sampai kepada generasi berikutnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Sampaikan ilmu yang benar — jika kita mendengar hadits atau ilmu yang shahih, sampaikan kepada orang lain dengan cara yang benar, tidak menambah atau mengurangi.
  2. Gabungkan hafalan dengan pemahaman — jangan hanya menghafal teks, tetapi pahami maknanya agar tidak menjadi "pembawa fiqih yang bukan faqih".
  3. Jangan remehkan orang lain — bisa jadi orang yang kita anggap kurang paham justru lebih paham dari kita, atau sebaliknya.
  4. Ikhlas dalam menyampaikan — tujuan menyampaikan ilmu adalah untuk mencari ridha Allah, bukan untuk pamer atau mencari kedudukan.
  5. Doakan kebaikan untuk penyampai ilmu — sebagaimana Nabi ﷺ mendoakan "Nadhdhara Allah" bagi orang yang menyampaikan hadits.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?