Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil terbesar Ahlus Sunnah tentang melihat Allah ﷻ di akhirat nanti. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka di surga dengan penglihatan yang nyata, tanpa keraguan dan tanpa berdesak-desakan, sebagaimana mereka melihat bulan purnama dan matahari di dunia dengan jelas. Ini adalah kenikmatan terbesar bagi penghuni surga, dan keyakinan ini adalah bagian dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Sifat Surga, Bab "Dari Surga", nomor 2554. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib.
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
- Nama surah dan nomor ayat: QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23
- Teks Arab (dengan harakat lengkap):
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
- Terjemahan/makna ringkas: "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat."
Dalil pendukung dari hadits lain yang shahih:
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhuma. Dalam riwayat lain (HR. Muslim), disebutkan bahwa setelah melihat Allah, Allah bertanya kepada mereka, "Apakah kalian menginginkan sesuatu yang lain?" Mereka menjawab, "Tidak, wahai Rabb kami." Ini menunjukkan bahwa melihat Allah adalah puncak kenikmatan yang tidak bisa ditandingi oleh kenikmatan surga lainnya.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Asy-Syafi'i dan para ulama salaf lainnya menetapkan bahwa ayat di atas dan hadits-hadits tentang ru'yah (melihat Allah) adalah benar dan harus diimani tanpa menanyakan "bagaimana" (bila kaif).
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menukil ijma' (kesepakatan) para sahabat dan tabi'in bahwa ayat ini menetapkan bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah ﷻ di akhirat.
Penjelasan Rinci
Hadits yang mulia ini mengandung kabar gembira yang sangat agung bagi kaum mukminin. Mari kita pahami maknanya secara mendalam:
1. Makna "Tudhaammun" (تُضَامُّونَ)
Kata ini bermakna "kalian berdesak-desakan" atau "kalian merasa sempit dan saling menindih karena berdesakan". Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat, "Apakah kalian berdesak-desakan ketika melihat bulan purnama atau matahari yang terang?" Tentu saja tidak. Karena keduanya adalah benda yang sangat jelas dan terang, sehingga semua orang bisa melihatnya dengan mudah tanpa harus berebut atau berdesakan.
2. Perumpamaan yang Agung
Rasulullah ﷺ mengumpamakan melihat Allah di akhirat seperti melihat bulan purnama dan matahari. Ini adalah perumpamaan tentang kejelasan dan kepastian penglihatan tersebut, bukan tentang bentuk atau wujud Allah. Karena Allah ﷻ tidak menyerupai makhluk-Nya. Yang dimaksud adalah:
- Kejelasannya: Sebagaimana tidak ada keraguan saat melihat bulan purnama, maka tidak ada keraguan bagi penghuni surga bahwa yang mereka lihat adalah Allah ﷻ.
- Ketenangannya: Sebagaimana tidak ada kesulitan dan desakan untuk melihatnya, maka melihat Allah pun akan menjadi penglihatan yang paling sempurna, tenang, dan tanpa halangan.
3. Pandangan Ulama tentang Hadits Ini
- Imam At-Tirmidzi (penyusun kitab ini) menilai hadits ini hasan shahih gharib, dan beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan dari jalur lain dari Abu Sa'id Al-Khudri yang shahih.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil terkuat untuk menetapkan ru'yah (melihat Allah) di akhirat. Beliau menukil bahwa para ulama salaf sepakat (ijma') atas hal ini.
- Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa melihat Allah adalah kenikmatan terbesar dan puncak dari segala kenikmatan surga. Beliau menegaskan bahwa Allah ﷻ akan menampakkan Diri-Nya kepada para wali-Nya di surga sebagai karunia tertinggi.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Aqidah Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini menetapkan sifat ru'yah bagi Allah di akhirat, dan kita mengimaninya tanpa menanyakan kaifiyah (bagaimana caranya), karena itu adalah hak prerogatif Allah.
4. Perbedaan Pendapat yang Perlu Diketahui
Ada kelompok yang menyimpang (seperti Mu'tazilah dan Khawarij) yang mengingkari bahwa Allah bisa dilihat di akhirat. Mereka menafsirkan ayat "Ila Rabbiha Nazhirah" dengan "menunggu pahala Rabb-nya", bukan "melihat Rabb-nya". Namun, pendapat ini tertolak karena:
- Bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang mutawatir (diriwayatkan banyak sahabat) tentang ru'yah.
- Penafsiran tersebut tidak sesuai dengan bahasa Arab dan konteks ayat.
- Para sahabat, tabi'in, dan imam-imam Ahlus Sunnah telah sepakat menetapkan ru'yah ini.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa pada suatu hari, para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat?" Beliau menjawab, "Apakah kalian merasa kesulitan untuk melihat matahari dan bulan di siang yang cerah?" Mereka menjawab, "Tidak." Beliau bersabda, "Maka sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti itu." (HR. Bukhari dan Muslim).
Kemudian, dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menggambarkan bagaimana Allah ﷻ menampakkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya di surga. Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah akan berkata kepada penduduk surga, 'Wahai penduduk surga!' Mereka menjawab, 'Kami penuhi panggilan-Mu, wahai Rabb kami, dan kami siap berbuat baik.' Allah bertanya, 'Apakah kalian menginginkan sesuatu yang lebih?' Mereka menjawab, 'Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?' Maka Allah menyingkap hijab-Nya, dan mereka pun melihat-Nya. Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih mereka cintai daripada melihat Rabb mereka, dan itulah tambahan (kenikmatan) yang paling besar." (HR. Muslim).
Hikmah dari kisah ini: Bahwa kenikmatan melihat Allah adalah kenikmatan yang paling agung dan paling dicintai oleh penghuni surga. Ini adalah balasan bagi orang-orang yang di dunia selalu merindukan perjumpaan dengan Allah, yang beribadah dengan ikhlas dan mengharap wajah-Nya semata.
Kesimpulan Praktis
Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Yakinlah dengan sepenuh hati bahwa Allah ﷻ akan terlihat oleh orang-orang beriman di akhirat nanti. Ini adalah bagian dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
- Jangan menanyakan "bagaimana" bentuk penglihatan tersebut, karena itu adalah perkara ghaib yang hanya Allah yang tahu. Cukup imani dan serahkan ilmunya kepada Allah.
- Jadikanlah kerinduan untuk bertemu Allah sebagai motivasi terbesar dalam beribadah. Sebagaimana para salaf, mereka beribadah karena rindu untuk melihat wajah Allah yang mulia.
- Jauhilah perdebatan yang tidak bermanfaat tentang sifat-sifat Allah. Fokuslah pada amal shalih dan memperbaiki hati.
- Perbanyaklah doa agar kita termasuk golongan yang akan mendapatkan kenikmatan melihat Allah di surga, sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ, "Allahumma inni as'aluka ladzdzatan-nazhari ila wajhika" (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.