Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa tawakal kepada Allah tidak berarti meninggalkan usaha. Seorang muslim wajib melakukan ikhtiar (usaha) yang maksimal sesuai kemampuannya, lalu setelah itu berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Perintah Nabi ﷺ, "Ikatlah dan bertawakkallah," adalah prinsip agung yang menggabungkan antara usaha lahiriah dan keyakinan batiniah.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Hadits Riwayat At-Tirmidzi
Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Sifat Kiamat, Raqaiq, dan Warak, Bab (tentang tawakal), nomor 2517. Meskipun Imam At-Tirmidzi dan Yahya bin Sa'id Al-Qaththan menilai sanad hadits ini gharib dan munkar dari jalur Anas bin Malik, makna hadits ini sangat shahih dan didukung oleh dalil-dalil lain yang kuat.
2. Dalil Al-Qur'an tentang Perintah Berusaha dan Bertawakal
Allah Ta'ala berfirman:
QS. At-Talaq [65]: 3
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا
"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu."
Ayat ini menunjukkan bahwa tawakal adalah sebab datangnya kecukupan dari Allah. Namun, tawakal ini tidaklah benar tanpa adanya usaha, karena Allah juga memerintahkan untuk mengambil sebab.
QS. Al-Mulk [67]: 15
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ
"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."
Ayat ini dengan jelas memerintahkan untuk berjalan (berusaha) di muka bumi untuk mencari rezeki. Ini adalah ikhtiar lahiriah.
3. Penjelasan Ulama dari Daftar Rujukan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Majmu' Al-Fatawa (8/169) menjelaskan tentang makna tawakal yang benar. Beliau berkata, "Tawakal adalah gabungan antara keyakinan hati kepada Allah (sebagai satu-satunya pemberi manfaat dan mudharat) dan melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan. Barangsiapa yang meninggalkan sebab, maka ia telah mencela syariat. Dan barangsiapa yang hanya bersandar pada sebab, maka ia telah mencela tauhid."
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin (2/106) berkata, "Tawakal tidaklah menafikan penggunaan sebab-sebab yang diperintahkan oleh Allah. Bahkan, tawakal justru mengharuskan adanya sebab, karena tawakal adalah ibadah hati, sedangkan berusaha adalah ibadah anggota badan. Keduanya tidak saling bertentangan."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir As-Sa'di (hlm. 874) saat menafsirkan QS. At-Talaq [65]: 3 berkata, "Tawakal yang benar adalah dengan menggabungkan antara ketergantungan hati kepada Allah dan melakukan sebab-sebab yang diperintahkan. Maka, barangsiapa yang bertawakal dengan benar, Allah akan mencukupinya."
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam tentang hubungan antara ikhtiar (usaha) dan tawakal (berserah diri). Pertanyaan sahabat kepada Nabi ﷺ, "Apakah saya ikat untanya lalu bertawakal, atau saya lepaskan saja dan bertawakal?" menunjukkan adanya kebingungan di kalangan sebagian sahabat tentang konsep tawakal. Mereka mengira bahwa tawakal berarti meninggalkan semua usaha lahiriah.
Jawaban Nabi ﷺ yang tegas, "Ikatlah dan bertawakkallah," adalah bantahan terhadap pemahaman yang keliru ini. Beliau memerintahkan untuk melakukan usaha (mengikat unta) sebagai bentuk ikhtiar, dan setelah itu barulah bertawakal kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa tawakal bukanlah sikap pasif, melainkan sikap aktif yang dimulai dengan usaha maksimal.
Mengapa hadits ini dinilai munkar oleh Yahya bin Sa'id Al-Qaththan?
Penilaian ini terkait dengan jalur sanad dari Anas bin Malik. Namun, makna hadits ini sangat shahih karena diriwayatkan dari jalur lain yang lebih kuat, seperti dari sahabat 'Amr bin Umayyah Adh-Dhamri yang disebutkan oleh Imam At-Tirmidzi. Yang terpenting, kandungan hadits ini selaras dengan Al-Qur'an dan hadits-hadits shahih lainnya.
Kesalahan dalam Memahami Tawakal:
- Tawakal yang Salah (Tawakal Murni Tanpa Usaha): Ini adalah sikap orang yang malas dan bodoh. Mereka mengaku bertawakal, namun meninggalkan kewajiban berusaha. Ini adalah bentuk tawakal yang tercela dan tidak diajarkan oleh Islam.
- Usaha Tanpa Tawakal (Bergantung pada Sebab): Ini adalah sikap orang yang sombong dan lupa kepada Allah. Mereka menganggap bahwa hasil semata-mata dari usaha mereka, sehingga mereka tidak merasa perlu bergantung kepada Allah. Ini adalah bentuk kesyirikan kecil.
Tawakal yang Benar:
Tawakal yang benar adalah usaha yang maksimal diiringi dengan keyakinan penuh bahwa hasil sepenuhnya di tangan Allah. Hati seorang mukmin tidak bergantung pada usahanya, tetapi bergantung sepenuhnya kepada Allah. Usaha hanyalah wasilah (perantara), sedangkan Allah adalah Al-Musabbib (Yang Menyebabkan segala sebab).
Story Telling
Kisah Sahabat yang Berdagang dan Bertawakal
Diriwayatkan dari sahabat Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu, salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau tidak memiliki apa-apa. Nabi ﷺ mempersaudarakan beliau dengan Sa'ad bin Ar-Rabi' Al-Anshari yang kaya raya.
Sa'ad berkata kepada Abdurrahman, "Aku memiliki dua orang istri, lihatlah mana yang paling engkau sukai, aku akan menceraikannya untukmu. Dan aku memiliki harta, ambillah setengahnya."
Namun, Abdurrahman bin Auf menjawab dengan penuh kemuliaan, "Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukup tunjukkan aku di mana pasar."
Abdurrahman bin Auf tidak hanya duduk dan berdoa meminta rezeki. Beliau pergi ke pasar, berdagang dengan susah payah. Beliau berusaha keras, berjual beli, dan tidak pernah malas. Karena kejujuran dan kerja kerasnya, Allah memberkahi usahanya hingga beliau menjadi salah satu sahabat yang paling kaya raya.
Kisah ini menunjukkan bahwa tawakal Abdurrahman bin Auf tidak menghalanginya untuk berusaha. Justru, tawakalnya yang benar kepada Allah membuatnya bersemangat dalam berusaha, karena ia yakin bahwa Allah akan memberkahi usahanya.
Kesimpulan Praktis
- Jangan Pernah Meninggalkan Usaha: Dalam setiap urusan, baik urusan dunia maupun akhirat, lakukanlah usaha yang maksimal dan sesuai dengan syariat. Jangan malas dan berdalih tawakal.
- Iringi Usaha dengan Tawakal: Setelah berusaha, serahkanlah hasilnya sepenuhnya kepada Allah. Jangan gelisah jika hasilnya belum sesuai harapan. Yakinlah bahwa Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.
- Jadikan Tawakal sebagai Ibadah Hati: Tawakal adalah keyakinan dalam hati bahwa hanya Allah yang memberi manfaat dan mudharat. Usaha hanyalah perantara, bukan sumber hasil.
- Teladani Para Sahabat dan Salaf: Mereka adalah orang-orang yang paling kuat tawakalnya kepada Allah, namun juga paling giat dalam berusaha.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.