Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2514 tentang Iman tidak tetap karena kesibukan duniawi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah pelajaran sangat berharga dari Nabi ﷺ tentang keseimbangan hidup. Hanzhalah Al-Usaidi radhiyallahu 'anhu merasa dirinya munafik karena imannya terasa kuat saat di majelis Nabi ﷺ, tetapi melemah saat kembali ke urusan dunia. Nabi ﷺ menenangkannya dengan menjelaskan bahwa kondisi seperti itu adalah fitrah manusia, dan yang terbaik adalah menyeimbangkan antara ibadah, keluarga, dan pekerjaan. Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam beribadah sampai melupakan hak-hak lain, dan tidak pula tenggelam dalam dunia sampai melupakan akhirat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat At-Tirmidzi:

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ هِلاَلٍ الْبَصْرِيُّ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ، ح قَالَ وَحَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْبَزَّازُ، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ الْمَعْنَى، وَاحِدٌ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ، عَنْ حَنْظَلَةَ الأُسَيْدِيِّ، وَكَانَ، مِنْ كُتَّابِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ مَرَّ بِأَبِي بَكْرٍ وَهُوَ يَبْكِي فَقَالَ مَا لَكَ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا أَبَا بَكْرٍ نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى الأَزْوَاجِ وَالضَّيْعَةِ نَسِينَا كَثِيرًا. قَالَ فَوَاللَّهِ إِنَّا لَكَذَلِكَ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ. فَانْطَلَقْنَا فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَالَ " مَا لَكَ يَا حَنْظَلَةُ " . قَالَ نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ كَأَنَّا رَأْىَ عَيْنٍ فَإِذَا رَجَعْنَا عَافَسْنَا الأَزْوَاجَ وَالضَّيْعَةَ وَنَسِينَا كَثِيرًا . قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " لَوْ تَدُومُونَ عَلَى الْحَالِ الَّذِي تَقُومُونَ بِهَا مِنْ عِنْدِي لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ فِي مَجَالِسِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَعَلَى فُرُشِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً وَسَاعَةً "

Terjemahan: Dari Abu Utsman An-Nahdi, dari Hanzhalah Al-Usaidi -salah satu juru tulis Nabi ﷺ- bahwasanya ia melewati Abu Bakar yang sedang menangis. Abu Bakar bertanya, "Ada apa denganmu wahai Hanzhalah?" Ia menjawab, "Hanzhalah telah menjadi munafik, wahai Abu Bakar! Ketika kami di sisi Rasulullah ﷺ, beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala. Namun ketika kami kembali kepada istri-istri dan harta kami, kami banyak melupakan (hal itu)." Abu Bakar berkata, "Demi Allah, kami juga mengalami hal yang sama. Mari kita pergi menemui Rasulullah ﷺ." Maka mereka berdua pergi. Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, beliau bersabda, "Ada apa denganmu wahai Hanzhalah?" Ia menjawab, "Hanzhalah telah menjadi munafik, wahai Rasulullah! Ketika kami di sisimu, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala. Namun ketika kami kembali, kami bergaul dengan istri-istri dan harta kami, dan kami banyak melupakan (hal itu)." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Seandainya kalian terus-menerus dalam keadaan seperti saat kalian berada di sisiku, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di majelis-majelis kalian, di jalan-jalan kalian, dan di atas tempat tidur kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, ada waktu (untuk ibadah), dan ada waktu (untuk keluarga), dan ada waktu (untuk istirahat)." (HR. At-Tirmidzi no. 2514, beliau berkata: hadits hasan shahih)

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

QS. Al-Qashash [28]: 77

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi..."

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang mengurangi amalan sunnah agar hatinya tetap segar dan tidak jenuh. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa hati itu seperti bejana, jika diisi terus-menerus tanpa jeda ia akan tumpul. Maka manusia perlu mengatur waktu antara ibadah, istirahat, dan hak-hak keluarga.

Penjelasan Rinci

Pertama: Makna "Nifaq" yang Dimaksud Hanzhalah

Hanzhalah radhiyallahu 'anhu merasa dirinya munafik karena ia membandingkan kondisi imannya saat di majelis Nabi ﷺ dengan saat ia kembali ke keluarganya. Ia mengira bahwa turunnya semangat ibadah adalah tanda kemunafikan. Namun para ulama menjelaskan bahwa yang ia rasakan adalah kondisi manusiawi yang wajar. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa perasaan semacam ini justru tanda keimanan, karena orang munafik tidak akan merasa bersalah ketika lalai dari mengingat Allah. Perasaan sedih karena iman melemah adalah bukti hidupnya hati.

Kedua: Jawaban Nabi ﷺ tentang Keseimbangan

Sabda Nabi ﷺ, "Saat dan saat dan saat" (سَاعَةً وَسَاعَةً وَسَاعَةً) mengandung makna bahwa ada waktu khusus untuk ibadah, waktu untuk keluarga, dan waktu untuk istirahat. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa syariat tidak menuntut seorang hamba untuk terus-menerus dalam kondisi khusyuk penuh sepanjang waktu. Yang dituntut adalah menjaga kewajiban dan tidak melanggar larangan, serta mengisi waktu-waktu dengan amalan yang sesuai porsinya.

Ketiga: Pujian Nabi ﷺ terhadap Kondisi Iman yang Tinggi

Sabda beliau, "Seandainya kalian terus-menerus dalam keadaan seperti ini, niscaya malaikat akan menjabat tangan kalian" menunjukkan tingginya derajat orang yang hatinya selalu hadir mengingat akhirat. Namun Nabi ﷺ tidak menjadikan itu sebagai kewajiban, karena manusia memiliki keterbatasan. Imam Al-Qurthubi (dalam konteks penjelasan ulama yang sejalan) menyebut bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya agar tidak memberatkan diri di luar kemampuan.

Keempat: Pelajaran tentang Hak Keluarga dan Dunia

Hadits ini juga mengajarkan bahwa bekerja mencari nafkah dan melayani keluarga adalah bagian dari ibadah jika diniatkan karena Allah. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Qashash: 77 memerintahkan keseimbangan antara urusan akhirat dan dunia. Dunia bukan untuk ditinggalkan total, tetapi untuk dijadikan ladang menuju akhirat.

Kelima: Bukan Alasan untuk Bermalas-malasan

Penting dicatat: hadits ini bukan pembenaran untuk meninggalkan ibadah. Yang dimaksud adalah mengatur porsi, bukan meninggalkan kewajiban. Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa para salaf sangat membenci jika seseorang terus-menerus beribadah sampai melupakan hak keluarga, namun mereka juga sangat membenci orang yang sibuk dunia sampai melupakan shalat berjamaah dan dzikir.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian salaf -di antaranya disebutkan dari Imam Sufyan Ats-Tsauri- pernah berkata: "Sesungguhnya aku sangat membenci seseorang yang meninggalkan dunianya karena agamanya, dan yang meninggalkan agamanya karena dunianya. Akan tetapi ia mengambil dari dunia sekadar kecukupannya, dan menjadikan akhirat sebagai tujuannya."

Ini sejalan dengan hadits Hanzhalah. Para ulama memahami bahwa Nabi ﷺ tidak ingin umatnya menjadi seperti rahib yang meninggalkan dunia total, karena Islam adalah agama yang seimbang. Bahkan dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, tubuhmu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah setiap pemilik hak akan haknya." (HR. Bukhari, dari Abdullah bin 'Amr)

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menyalahkan diri secara berlebihan saat semangat ibadah naik turun. Itu adalah kondisi manusiawi, selama kita menjaga kewajiban.
  2. Atur waktu dengan baik: ada waktu untuk ibadah, waktu untuk keluarga, waktu untuk bekerja, dan waktu untuk istirahat.
  3. Niatkan urusan dunia sebagai ibadah - bekerja mencari nafkah halal, melayani keluarga, dan beristirahat untuk memulihkan tenaga, semuanya bisa bernilai pahala jika diniatkan karena Allah.
  4. Jangan meninggalkan kewajiban karena sibuk dunia, dan jangan melupakan hak keluarga karena sibuk ibadah.
  5. Perbanyak dzikir di sela-sela aktivitas agar hati tetap terhubung dengan Allah meski sedang sibuk dengan urusan dunia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.