Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ agar kita menjauhi permusuhan, kebencian, dan kerusakan hubungan antar sesama muslim. Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai "al-haliqah" (الحَالِقَةُ), yang maknanya adalah sesuatu yang "mencukur habis" agama. Artinya, permusuhan dan kebencian di antara sesama muslim itu bisa melenyapkan pahala amal dan bahkan menghancurkan keimanan seseorang, sebagaimana pisau cukur melenyapkan rambut dari kepala.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Sifat Kiamat, Raqaiq, dan Warak, no. 2508, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini shahih gharib dari jalur ini.
Teks Hadits (bagian inti):
> إِيَّاكُمْ وَسُوءَ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّهَا الْحَالِقَةُ
Terjemahan: "Hati-hatilah kalian terhadap keburukan hubungan di antara sesama (permusuhan dan kebencian), karena sesungguhnya ia adalah al-haliqah (yang mencukur habis)."
Penjelasan Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya setelah meriwayatkan hadits ini: Makna "sū' dzātil-bain" adalah permusuhan dan kebencian. Dan makna "al-haliqah" adalah ia mencukur (menghilangkan) agama.
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
> إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
QS. Al-Hujurat [49]: 10
Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."
Ayat ini menunjukkan bahwa ukhuwah (persaudaraan) adalah ikatan yang harus dijaga, dan Allah memerintahkan untuk mendamaikan yang berselisih, bukan justru menyulut permusuhan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa "sū' dzātil-bain" (سُوءُ ذَاتِ الْبَيْنِ) adalah kerusakan hubungan yang terjadi di antara orang-orang yang sebelumnya dekat dan bersaudara. Ini mencakup permusuhan, kebencian, saling membenci, saling menjauhi, dan segala bentuk perpecahan hati.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah sangat membenci perpecahan dan permusuhan di antara kaum mukminin, karena hal itu menghancurkan kekuatan umat dan menghilangkan kelembutan hati. Beliau menekankan bahwa menjaga persatuan dan kasih sayang adalah bagian dari inti ajaran Islam.
Adapun kata "al-haliqah" (الْحَالِقَةُ), Imam At-Tirmidzi menjelaskan bahwa maknanya adalah "ia mencukur agama." Ini adalah metafora yang sangat kuat. Sebagaimana pisau cukur menghilangkan rambut sampai bersih, demikian pula permusuhan dan kebencian itu "mencukur" amal kebaikan dan bahkan bisa melenyapkan agama seseorang secara perlahan.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa hati yang dipenuhi kebencian dan permusuhan adalah hati yang sakit. Ia tidak akan bisa merasakan manisnya iman, dan amal-amalnya akan kehilangan cahaya. Beliau mengutip bahwa permusuhan adalah penyakit hati yang paling berbahaya karena ia menghanguskan kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga menjelaskan bahwa perpecahan dan saling membenci adalah penyebab kehancuran umat di masa lalu. Beliau menekankan bahwa Allah memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan, dan bahwa kebencian di antara sesama muslim adalah salah satu pintu terbesar masuknya setan untuk merusak agama seseorang.
Hadits ini juga sejalan dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian saling hasud, jangan saling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Muslim)
Story Telling
Ada kisah yang sangat terkenal dari generasi salaf tentang bahaya permusuhan. Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf berkata: "Permusuhan di antara sesama muslim itu mencukur agama, sebagaimana pisau mencukur rambut." Mereka sangat berhati-hati dalam menjaga hati dari rasa benci kepada sesama muslim.
Diriwayatkan juga bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Janganlah engkau memutuskan hubungan dengan saudaramu, karena sesungguhnya orang yang memutuskan hubungan kekerabatan tidak akan masuk surga." Beliau sangat menekankan pentingnya menjaga hati tetap bersih dari dendam dan kebencian.
Para salafush shalih sangat memahami bahwa kebencian adalah racun yang membunuh hati. Mereka berlomba-lomba untuk memaafkan dan mendamaikan, karena mereka tahu bahwa pahala di sisi Allah lebih besar daripada kepuasan sesaat karena "menang" dalam perselisihan.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi permusuhan dan kebencian terhadap sesama muslim, karena ia adalah "pencukur agama" yang menghilangkan pahala amal.
- Segera perbaiki hubungan jika terjadi perselisihan. Jangan biarkan hati terisi dendam, karena itu akan merusak ibadah dan ketenangan jiwa.
- Jaga lisan dan perbuatan agar tidak menjadi pemicu perpecahan. Hindari ghibah, namimah (mengadu domba), dan sikap merendahkan orang lain.
- Jika ada orang yang berselisih, berusahalah menjadi juru damai, karena Allah memerintahkan untuk mendamaikan antara dua saudara yang bertikai.
- Perbanyak doa agar Allah membersihkan hati dari rasa dengki dan kebencian, sebagaimana doa yang diajarkan dalam Al-Qur'an: "Ya Rabbana, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman." (QS. Al-Hasyr [59]: 10)
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.