Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha, menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ wafat sementara di rumah beliau masih ada sedikit jelai (gandum/barley). Mereka memakannya tanpa menakar, dan berkahnya membuat makanan itu cukup lama. Ketika Aisyah memerintahkan pelayannya untuk menakarnya, tak lama kemudian jelai itu habis. Pelajaran utamanya: keberkahan rezeki seringkali justru hilang ketika kita terlalu sibuk menghitung dan menakar, padahal Allah telah menjamin rezeki. Ini mengajarkan tawakal, qana'ah (merasa cukup), dan tidak berlebihan dalam mengurusi dunia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama — diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 2467), dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dan beliau menyatakan: "Hadits ini shahih." Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka dari jalur Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya dari Aisyah.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 261
مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Terjemahan: "Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah melipatgandakan keberkahan harta dan rezeki bagi hamba-Nya yang bertawakal dan bersyukur — sebagaimana tercermin dalam kisah jelai Aisyah.
QS. Al-Furqan [25]: 48–49 (potongan relevan):
وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا لِّنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا
Terjemahan: "Dan Kami turunkan dari langit air yang suci, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak."
Kaitan dengan ulama:
- Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya menilai hadits ini shahih, dan menjelaskan makna kata "شَطْرٌ" (syathrun) di sini berarti "sesuatu yang sedikit" — bukan setengah secara ukuran.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keberkahan yang Allah tanamkan pada makanan yang sedikit ketika tidak dihitung-hitung, dan hilangnya keberkahan ketika ditakar.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil tentang keberkahan dalam makanan dan pentingnya tawakal serta tidak berlebihan dalam mengukur rezeki.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam mengaitkan makna hadits ini dengan prinsip qana'ah dan bahaya sifat tamak serta terlalu sibuk menghitung dunia.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran mendalam yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Keberkahan (barakah) dalam rezeki yang sedikit.
Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa setelah Rasulullah ﷺ wafat, di rumah beliau masih tersisa sedikit jelai. Mereka memakannya tanpa menakar, dan dalam waktu yang cukup lama jelai itu tetap cukup. Ini menunjukkan bahwa Allah menanamkan keberkahan pada makanan yang sedikit. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini adalah salah satu bentuk karomah (kemuliaan) yang Allah berikan kepada Aisyah, dan juga bukti nyata dari janji Allah bahwa rezeki yang disyukuri akan diberkahi.
Kedua: Hilangnya keberkahan ketika terlalu sibuk menakar dan menghitung.
Ketika Aisyah memerintahkan pelayannya untuk menakar jelai tersebut, tak lama kemudian jelai itu habis. Aisyah sendiri menyadari hal ini dan berkata: "Seandainya kami membiarkannya, pasti kami bisa memakannya lebih banyak dari itu." Ini menunjukkan bahwa terlalu sibuk menghitung dan mengukur rezeki bisa menghilangkan keberkahannya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini bukan berarti menakar itu haram, tetapi menunjukkan bahwa tawakal dan tidak berlebihan dalam mengurusi dunia adalah sebab datangnya keberkahan.
Ketiga: Kesederhanaan hidup Rasulullah ﷺ dan keluarganya.
Hadits ini juga menggambarkan betapa sederhananya kehidupan Rasulullah ﷺ dan keluarganya. Beliau wafat dalam keadaan hanya meninggalkan sedikit jelai di rumah. Ini sejalan dengan hadits-hadits lain yang menunjukkan zuhudnya Nabi ﷺ terhadap dunia. Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa ini adalah pelajaran tentang zuhud dan qana'ah — bahwa kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada cukupnya hati.
Keempat: Perbedaan pendapat ulama tentang makna "شَطْرٌ".
Imam At-Tirmidzi sendiri menjelaskan bahwa makna "شَطْرٌ" dalam hadits ini adalah "sesuatu yang sedikit", bukan setengah secara ukuran. Ini penting karena kata "syathrun" secara bahasa bisa berarti "setengah", tetapi dalam konteks hadits ini, para ulama seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi sepakat bahwa yang dimaksud adalah jumlah yang sedikit.
Kelima: Pelajaran tentang tawakal dan syukur.
Hadits ini mengajarkan bahwa rezeki yang sedikit bisa menjadi cukup dan berkah jika disyukuri dan diiringi tawakal kepada Allah. Sebaliknya, terlalu sibuk menghitung dan mengkhawatirkan rezeki bisa menghilangkan keberkahannya. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ibrahim [14]: 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'"
Story Telling
Dikisahkan bahwa setelah Rasulullah ﷺ wafat, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa. Beliau pernah berkata bahwa beliau bisa saja makan sampai kenyang setiap hari, tetapi beliau memilih untuk mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dan para sahabat yang zuhud.
Suatu ketika, Aisyah memiliki sedikit jelai di rumahnya. Setiap kali beliau ingin makan, beliau mengambil dari jelai itu tanpa menakar, dan jelai itu terus cukup untuk waktu yang lama. Namun, ketika beliau memerintahkan pelayannya untuk menakar jelai tersebut — mungkin karena ingin mengetahui berapa sisanya — tak lama kemudian jelai itu habis. Aisyah pun menyadari bahwa keberkahan itu hilang ketika beliau mulai sibuk menghitung.
Kisah ini mengingatkan kita pada kisah lain dari salafus shalih. Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Sesungguhnya Allah menjadikan keberkahan pada apa yang tidak dihitung-hitung, dan menghilangkan keberkahan pada apa yang dihitung-hitung." (Makna ini disebutkan oleh Ibn Rajab dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam).
Fudail bin 'Iyadh juga pernah menasihati: "Janganlah engkau terlalu sibuk mengurusi duniamu, karena sesungguhnya rezekimu telah dijamin oleh Allah." Nasihat ini sejalan dengan pelajaran dari hadits Aisyah ini.
Kesimpulan Praktis
- Bertawakallah kepada Allah dalam urusan rezeki. Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Terlalu sibuk menghitung dan mengkhawatirkan rezeki bisa menghilangkan keberkahannya.
- Bersyukurlah dengan apa yang ada. Rezeki yang sedikit tetapi disyukuri akan terasa cukup dan berkah. Sebaliknya, rezeki yang banyak tetapi tidak disyukuri akan terasa kurang.
- Hiduplah sederhana dan jauhi sifat tamak. Rasulullah ﷺ dan keluarganya hidup dalam kesederhanaan. Ini adalah teladan bagi kita untuk tidak berlebihan dalam mengejar dunia.
- Jangan terlalu sibuk menakar dan menghitung dunia. Fokuslah pada ibadah dan amal saleh, karena itulah yang akan menjadi bekal kita di akhirat.
- Yakinlah bahwa keberkahan datang dari Allah. Tidak ada yang bisa menambah atau mengurangi rezeki kita kecuali Allah. Maka, dekatkanlah diri kepada-Nya dengan taat dan syukur.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.