Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2453 tentang Semangat beragama ada pasang surut, jaga sikap moderat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa setiap orang yang beribadah atau beramal biasanya memiliki masa semangat yang tinggi, lalu diikuti masa melemah. Yang menjadi ukuran bukanlah semangat sesaat, melainkan istiqamah yang wajar dan seimbang. Jika seseorang terus berusaha lurus dan tidak berlebihan, maka ia layak diharapkan kebaikannya. Tetapi jika amalnya hanya menjadi bahan perbincangan orang banyak tanpa istiqamah, maka jangan dijadikan teladan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi, Kitab Shifatul Qiyamah war-Raqa'iq wal-Wara', dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dan beliau menilai hadits ini hasan shahih gharib dari jalur ini.

Teks hadits:

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً فَإِنْ كَانَ صَاحِبُهَا سَدَّدَ وَقَارَبَ فَارْجُوهُ وَإِنْ أُشِيرَ إِلَيْهِ بِالأَصَابِعِ فَلاَ تَعُدُّوهُ

Terjemahan: "Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki semangat, dan setiap semangat memiliki masa melemah. Maka jika pelakunya berusaha lurus dan seimbang, harapkanlah kebaikan untuknya. Tetapi jika ia hanya ditunjuk dengan jari (menjadi bahan perbincangan), maka jangan anggap ia (layak dijadikan teladan)."

Dalil Al-Qur'an yang sangat relevan:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

QS. Thaha [20]: 114

Terjemahan: "Dan katakanlah, 'Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'"

Juga firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

QS. Fushshilat [41]: 30

Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka beristiqamah, para malaikat akan turun kepada mereka (dan berkata), 'Janganlah kamu takut dan jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.'"

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Nabi ﷺ menjelaskan tabiat manusia dalam beramal. Setiap amal atau ibadah biasanya dimulai dengan semangat yang menyala-nyala (شِرَّةٌ), lalu setelah itu datang masa melemah atau menurun (فَتْرَةٌ). Ini adalah sunnatullah pada jiwa manusia, dan bukanlah cela selama orang tersebut tetap berusaha berada di jalan yang lurus.

Penjelasan ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits-hadits tentang amal yang berkelanjutan menegaskan bahwa yang dicintai Allah adalah amal yang konsisten meskipun sedikit, bukan amal yang banyak lalu terputus. Beliau menjelaskan bahwa hadits "أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ" menjadi kaidah penting: amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, walaupun sedikit.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa masa semangat dan masa lemah adalah dua keadaan yang bergantian pada diri manusia. Seorang mukmin hendaknya memanfaatkan masa semangat untuk beramal, dan pada masa lemah tetap menjaga kewajiban serta tidak meninggalkan amal secara total.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menjelaskan bahwa istiqamah bukan berarti selalu dalam puncak semangat, tetapi tetap berada di atas jalan yang benar meskipun semangat naik-turun. Beliau menekankan pentingnya "سَدَّدَ وَقَارَبَ" yaitu berusaha lurus dan mendekati kesempurnaan dengan cara yang wajar, tidak berlebihan (ghuluw) dan tidak pula meremehkan.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa jiwa manusia memiliki kondisi naik dan turun. Orang yang cerdas adalah yang mengelola kondisi jiwanya dengan bijak: ketika semangat tinggi ia beramal lebih, ketika lemah ia menjaga yang wajib dan tidak memaksakan diri di luar kemampuan.

Sisi "أُشِيرَ إِلَيْهِ بِالأَصَابِعِ" (ditunjuk dengan jari):

Ini adalah isyarat bahwa seseorang menjadi bahan perbincangan orang banyak, baik karena amal lahiriahnya yang mencolok namun tidak diiringi istiqamah, atau karena ia tampil berbeda untuk mencari perhatian. Nabi ﷺ mengingatkan bahwa popularitas semata bukanlah tanda keberkahan. Bahkan dalam riwayat dari Anas bin Malik yang disebutkan At-Tirmidzi dalam hadits ini, Nabi ﷺ bersabda: "Cukuplah keburukan bagi seseorang bahwa ia ditunjuk dengan jari dalam urusan agama atau dunianya, kecuali orang yang dijaga Allah."

Imam As-Sa'di dalam Taisirul Karimir Rahman menjelaskan bahwa keselamatan seorang hamba terletak pada istiqamah dan mengikuti sunnah, bukan pada banyaknya pengikut atau sorotan manusia.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang terkenal karena banyak beribadah namun tidak istiqamah. Beliau menjawab dengan mengingatkan bahwa amal yang diterima adalah yang dilakukan dengan ikhlas dan mengikuti sunnah, bukan yang menjadi tontonan manusia. Beliau sendiri dikenal sebagai ulama yang zuhud, wara', dan jauh dari mencari popularitas, meskipun Allah meninggikan namanya di kalangan umat.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata bahwa seorang mukmin adalah orang yang beramal dengan sungguh-sungguh namun tetap takut amalnya tidak diterima, sementara orang munafik adalah yang beramal untuk dilihat manusia. Ini sejalan dengan makna hadits: yang penting bukan sorotan manusia, tetapi keikhlasan dan istiqamah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan putus asa saat semangat menurun. Naik-turunnya semangat adalah tabiat manusia. Yang penting tetap menjaga kewajiban dan tidak meninggalkan amal secara total.
  2. Utamakan istiqamah, bukan banyaknya amal. Amal yang sedikit namun konsisten lebih dicintai Allah daripada amal banyak yang terputus.
  3. Hindari berlebihan (ghuluw). "سَدَّدَ وَقَارَبَ" mengajarkan sikap moderat: lurus dan seimbang, tidak ekstrem.
  4. Jangan mengejar popularitas. Menjadi bahan perbincangan manusia bukanlah ukuran keberhasilan. Ukuran sejati adalah keikhlasan dan kesesuaian dengan sunnah.
  5. Selalu berdoa agar diteguhkan. Istiqamah adalah karunia Allah; mintalah kepada-Nya agar dijaga di atas jalan yang lurus.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?