Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan keutamaan besar bagi 70.000 orang dari umat Nabi Muhammad ﷺ yang akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal) dan tanpa azab. Mereka adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat khusus: tidak meminta ruqyah (pengobatan dengan bacaan), tidak melakukan pengobatan dengan kay (kauterisasi/seterika), tidak bertathayyur (menganggap sial sesuatu), dan hanya bertawakkal kepada Allah. Hadits ini juga menunjukkan betapa besarnya jumlah umat Nabi ﷺ dan keutamaan tawakkal yang murni.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Sifat Kiamat, Raqaiq, dan Warak, nomor 2446, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang serupa.
Dalil Al-Qur'an tentang Tawakkal:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
"Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu."
(QS. Ath-Thalaq [65]: 3)
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin dan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di, menjelaskan bahwa tawakkal adalah salah satu ibadah hati yang paling agung. Mereka menafsirkan bahwa tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Gambaran Perjalanan Isra' dan Banyaknya Umat Nabi ﷺ
Dalam perjalanan Isra' Mi'raj, Nabi ﷺ melihat para nabi sebelumnya dengan kondisi yang berbeda-beda. Ada nabi yang sendirian, ada yang bersama sekelompok kecil, dan ada yang bersama banyak pengikut. Kemudian beliau melihat kumpulan besar yang sangat banyak, yaitu Nabi Musa 'alaihis salam beserta kaumnya. Setelah itu, beliau diperlihatkan umatnya sendiri yang jumlahnya sangat besar hingga memenuhi ufuk, dan di antara mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah kabar gembira bagi umat Nabi Muhammad ﷺ tentang keutamaan mereka di sisi Allah. Banyaknya umat ini adalah rahmat dari Allah.
2. Sifat-Sifat 70.000 Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab
Nabi ﷺ menjelaskan sifat mereka:
- Tidak meminta ruqyah (لا يَسْتَرْقُونَ): Mereka tidak meminta orang lain untuk membacakan ruqyah (doa pengobatan) kepada mereka. Ini bukan berarti ruqyah itu haram, tetapi mereka tidak meminta-minta karena kekuatan tawakkal mereka sangat tinggi. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa meninggalkan meminta ruqyah adalah bentuk kesempurnaan tawakkal, namun jika ruqyah dilakukan dengan bacaan Al-Qur'an dan doa-doa yang syar'i, itu diperbolehkan bahkan dianjurkan.
- Tidak melakukan kay (لا يَكْتَوُونَ): Yaitu pengobatan dengan cara menyeterika/membakar bagian tubuh yang sakit. Ini adalah pengobatan yang menyakitkan dan mereka meninggalkannya karena kesabaran dan tawakkal mereka.
- Tidak bertathayyur (لا يَتَطَيَّرُونَ): Yaitu tidak menganggap sial terhadap sesuatu (seperti burung, angka, atau kejadian). Ini adalah bentuk kesyirikan kecil yang dilarang, dan mereka menjauhinya dengan sempurna.
- Hanya bertawakkal kepada Allah (وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ): Ini adalah inti dari semua sifat di atas. Mereka menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah.
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa tawakkal adalah setengah dari agama, karena agama terdiri dari ibadah (menghamba) dan tawakkal (berserah diri). Tawakkal bukan berarti pasif, tetapi hati yang bersandar kepada Allah sambil tetap melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan.
3. Pelajaran dari Kisah 'Ukasyah bin Mihshan
Ketika Nabi ﷺ menjelaskan sifat-sifat tersebut, 'Ukasyah bin Mihshan radhiyallahu 'anhu langsung berdiri dan bertanya, "Apakah saya termasuk mereka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya." Kemudian ada orang lain yang bertanya, dan beliau menjawab, "'Ukasyah telah mendahuluimu."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini menunjukkan keutamaan bersegera dalam kebaikan. 'Ukasyah tidak ragu-ragu dan langsung bertanya, sehingga ia mendapatkan keutamaan tersebut. Ini juga menunjukkan bahwa sifat-sifat itu bisa dicapai oleh siapa saja yang berusaha, bukan hanya para nabi atau malaikat.
4. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Makna "Tidak Meminta Ruqyah"
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama:
- Pendapat pertama (mayoritas, seperti Imam An-Nawawi dan Imam Ibnul Qayyim): Yang dimaksud adalah tidak meminta ruqyah dari orang lain, karena meminta-minta menunjukkan kelemahan tawakkal. Adapun meruqyah diri sendiri atau meruqyah orang lain dengan bacaan yang syar'i adalah diperbolehkan bahkan dianjurkan.
- Pendapat kedua: Sebagian ulama memaknai larangan ini secara umum, namun mereka tetap membolehkan ruqyah dengan Al-Qur'an karena ada dalil lain yang membolehkannya.
Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, karena Nabi ﷺ sendiri pernah meruqyah dan meminta Aisyah untuk meruqyah, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih. Yang dilarang adalah meminta-minta ruqyah karena lemahnya tawakkal, bukan ruqyah itu sendiri.
Story Telling
Ada kisah indah tentang tawakkal yang dicontohkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (salah satu ulama besar dalam daftar rujukan kita). Suatu ketika, beliau berada dalam keadaan yang sangat sulit dan membutuhkan. Seorang muridnya datang membawa uang dan berkata, "Wahai Imam, ini adalah pemberian untukmu." Imam Ahmad menolaknya dan berkata, "Aku tidak membutuhkannya." Muridnya terus mendesak, namun Imam Ahmad tetap menolak dengan lembut.
Kemudian Imam Ahmad berkata, "Aku telah mendengar hadits Nabi ﷺ tentang 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab, dan aku ingin menjadi salah satu dari mereka. Aku tidak ingin meminta-minta kepada manusia, karena aku ingin bertawakkal hanya kepada Allah."
Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf benar-benar mengamalkan sifat-sifat yang disebutkan dalam hadits ini. Mereka lebih memilih bersabar dan bertawakkal kepada Allah daripada meminta-minta kepada makhluk, meskipun yang memberi adalah orang yang baik.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak tawakkal kepada Allah dalam setiap urusan, baik urusan dunia maupun akhirat. Tawakkal bukan berarti malas berusaha, tetapi berusaha dengan sungguh-sungguh lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
- Jauhi tathayyur (menganggap sial sesuatu). Jika melihat sesuatu yang dianggap buruk, jangan jadikan itu sebagai penghalang untuk berbuat baik. Ucapkan doa: "Allahumma la khaira illa khairuka" (Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu).
- Jangan mudah meminta-minta, baik meminta ruqyah, meminta bantuan, atau meminta hal lain yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri. Ini bukan berarti tidak boleh meminta tolong, tetapi jadikan meminta kepada Allah sebagai prioritas utama.
- Bersegeralah dalam kebaikan. Seperti 'Ukasyah yang langsung bertanya, kita juga harus bersegera ketika ada kesempatan berbuat baik, tanpa menunda-nunda.
- Jadikan sifat-sifat ini sebagai target untuk meraih derajat yang tinggi di sisi Allah, meskipun kita tidak tahu apakah kita termasuk di dalamnya atau tidak. Yang penting adalah berusaha semaksimal mungkin.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.