Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan salah satu bacaan istiftah (doa pembuka shalat) yang diajarkan Nabi ﷺ, yaitu: "Subhanaka Allahumma wa bihamdika wa tabarakasmuka wa ta'ala jadduka wa la ilaha ghairuk" (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan pujian-Mu, dan diberkati nama-Mu, dan Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada yang berhak disembah selain Engkau). Para ulama berbeda pendapat tentang derajat hadits ini, namun banyak ulama yang tetap mengamalkannya karena maknanya yang agung dan sesuai dengan dalil-dalil lain yang shahih.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Thaha [20]: 114
وَعَنَتِ الْوُجُوْهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّوْمِۗ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا
"Dan tunduklah semua wajah (kepada Allah) Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri. Dan sungguh rugi orang yang membawa kezaliman."
Ayat ini menunjukkan keagungan Allah sebagai Al-Hayyul Qayyum, yang maknanya selaras dengan doa istiftah ini—bahwa Allah Maha Suci, Maha Tinggi, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
2. Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Apa yang Diucapkan Saat Memulai Shalat, no. 243, dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
3. Kaitan dengan ulama:
- Imam At-Tirmidzi sendiri memberikan catatan penting: "Hadits ini tidak kami ketahui dari hadits Aisyah kecuali dari jalur ini. Dan Haritsah (bin Abi ar-Rijal) telah dikritik dari segi hafalannya."
- Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits serupa dari jalur lain, dan Imam Al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil (no. 340) menilai hadits ini shahih dengan jalur penguatnya.
- Syeikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa (11/167) menyebutkan bahwa doa istiftah ini termasuk yang shahih dan boleh diamalkan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa doa istiftah dalam shalat memiliki beberapa versi yang semuanya shahih dari Nabi ﷺ. Di antaranya:
- "Subhanaka Allahumma wa bihamdika..." (hadits yang sedang kita bahas)
- "Wajjahtu wajhiya lilladzi fataras samawati wal ardha..." (HR. Muslim dari Ali bin Abi Thalib)
- "Allahumma ba'id baini wa baina khatayaya..." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
- "Allahumma rabba jibrila wa mikaila wa israfila..." (HR. Muslim dari Aisyah)
Tentang hadits yang sedang kita bahas, Imam At-Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini hanya dikenal dari jalur Haritsah bin Abi ar-Rijal, dan beliau menyebutkan bahwa Haritsah dikritik dari segi hafalannya. Namun, Imam Al-Albani setelah meneliti seluruh jalur periwayatan, menyimpulkan bahwa hadits ini shahih karena memiliki syawahid (penguat) dari riwayat lain, di antaranya dari jalur Abu Sa'id al-Khudri dan Ali bin Abi Thalib.
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah menjelaskan bahwa doa istiftah ini mengandung pujian yang agung kepada Allah: mensucikan-Nya dari segala kekurangan, memuji-Nya, mengagungkan nama-Nya yang penuh berkah, dan menetapkan keagungan-Nya yang Maha Tinggi, serta mengikrarkan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna "tabarakasmuka" adalah nama-nama Allah semuanya mengandung berkah—setiap kali seorang hamba menyebut nama Allah, ia mendapatkan kebaikan dan keberkahan. Sedangkan "ta'ala jadduka" berarti Maha Tinggi keagungan dan kebesaran Allah di atas segala sesuatu.
Para ulama sepakat bahwa membaca doa istiftah hukumnya sunnah (bukan wajib), dan seseorang boleh memilih salah satu versi yang diajarkan Nabi ﷺ. Yang terpenting adalah kekhusyukan dan kehadiran hati saat membacanya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal sangat memperhatikan doa istiftah dalam shalatnya. Beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat khusyuk dalam shalat, dan ketika ditanya tentang doa istiftah, beliau menganjurkan untuk membaca doa-doa yang shahih dari Nabi ﷺ, termasuk doa "Subhanaka Allahumma wa bihamdika..."
Ada kisah tentang seorang ulama salaf yang ketika membaca doa istiftah, beliau merasakan keagungan makna "wa ta'ala jadduka"—bahwa keagungan Allah jauh melampaui segala sesuatu yang kita bayangkan. Beliau menangis karena merasakan betapa kecilnya dirinya di hadapan kebesaran Allah, dan betapa agungnya nikmat Allah yang mengizinkan hamba-Nya untuk berdiri menghadap-Nya dalam shalat.
Hikmahnya: doa istiftah bukan sekadar bacaan rutin, tetapi merupakan momen untuk menghadirkan hati di hadapan Allah—mengakui keagungan-Nya, mensucikan-Nya, dan memohon keberkahan dari nama-nama-Nya yang indah.
Kesimpulan Praktis
- Boleh membaca doa istiftah "Subhanaka Allahumma wa bihamdika..." karena haditsnya shahih menurut penelitian Imam Al-Albani dan diamalkan oleh banyak ulama.
- Disunnahkan membaca doa istiftah setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah.
- Boleh memilih di antara doa-doa istiftah yang shahih—semuanya diajarkan Nabi ﷺ dan mengandung makna yang agung.
- Yang terpenting adalah kekhusyukan—hadirkan hati saat membaca, renungkan maknanya, dan rasakan kebesaran Allah.
- Jangan menjadikan perbedaan doa istiftah sebagai bahan perpecahan—semua versi shahih dan mengandung kebaikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.