Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan satu prinsip besar: utamakan keridhaan Allah walaupun manusia marah, maka Allah akan mencukupkan urusanmu dari manusia. Sebaliknya, siapa yang mengorbankan keridhaan Allah demi menyenangkan manusia, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia itu sendiri. Inilah nasihat singkat Aisyah رضي الله عنها kepada Mu'awiyah رضي الله عنه.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2414) dalam Kitab az-Zuhd, dari Aisyah رضي الله عنها. Sanad pertama melalui Abdullah bin al-Mubarak (seorang ulama yang termasuk dalam daftar rujukan). At-Tirmidzi juga menyebut jalur kedua melalui Sufyan ats-Tsauri dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah, dengan makna yang sama namun tidak marfu' (tidak disandarkan langsung kepada Nabi ﷺ).
Ayat yang mendukung makna hadits ini:
QS. Al-Ahzab [33]: 39
وَالَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا
"Dan orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, dan mereka takut kepada-Nya dan tidak takut kepada seorang pun selain Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan."
QS. At-Taubah [9]: 129
فَإِن تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
"Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: 'Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung.'"
QS. Al-Ankabut [29]: 69
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Hadits ini mengandung dua kaidah besar yang saling berkaitan:
Pertama: "Barangsiapa mencari keridhaan Allah dengan kemarahan manusia, maka Allah akan mencukupinya dari urusan manusia."
Artinya, seseorang yang tetap teguh di atas kebenaran, walaupun orang-orang di sekitarnya marah atau tidak suka, maka Allah akan menjaga dan mencukupkan kebutuhannya dari manusia. Ia tidak perlu takut kehilangan rezeki, kedudukan, atau dukungan manusia, karena Allah yang Maha Kaya akan menggantikannya.
Kedua: "Barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan kemarahan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia."
Artinya, orang yang mengorbankan ketaatan kepada Allah demi menyenangkan manusia — misalnya meninggalkan yang wajib atau melakukan yang haram karena takut dimarahi manusia — maka Allah akan membiarkannya bergantung kepada manusia. Manusia yang ia takuti itu tidak akan pernah benar-benar membahagiakannya, bahkan bisa menjadi sumber kekecewaan dan kehinaan.
Pemahaman para ulama dalam daftar:
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini termasuk jawaami'ul kalim (kalimat singkat yang padat makna). Beliau menegaskan bahwa siapa yang hatinya bergantung kepada makhluk, maka Allah akan menyerahkannya kepada makhluk tersebut, dan ia akan merasakan kehinaan. Sebaliknya, siapa yang hatinya bergantung hanya kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan segala urusannya.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa poros kebahagiaan seorang hamba adalah ikhlas dan tawakkal. Barangsiapa yang mencari ridha Allah, maka Allah akan mencukupkannya. Dan barangsiapa yang sibuk mencari ridha manusia, maka ia akan kelelahan karena hati manusia tidak akan pernah bisa dipuaskan.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits-hadits tentang tawakkal dan zuhud menegaskan bahwa seorang mukmin harus menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama, bukan ridha manusia. Karena ridha manusia tidak akan pernah bisa diraih seluruhnya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjah Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah dan ikhlas dalam beragama adalah sebab datangnya pertolongan dan kecukupan dari Allah. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan tawhid dalam tujuan dan ketergantungan hati. Hati hanya boleh bergantung kepada Allah, bukan kepada manusia. Jika seseorang bergantung kepada manusia, maka ia akan kecewa, karena manusia tidak memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau menolak mudharat kecuali dengan izin Allah.
Catatan tentang sanad:
At-Tirmidzi menyebutkan dua jalur. Jalur pertama melalui Abdullah bin al-Mubarak dari Abdul-Wahhab bin al-Ward dari seorang laki-laki penduduk Madinah (tidak disebutkan namanya) dari Aisyah, dan ini marfu' (disandarkan kepada Nabi ﷺ). Jalur kedua melalui Sufyan ats-Tsauri dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah, namun tidak marfu' (hanya perkataan Aisyah). Meskipun demikian, makna hadits ini shahih dan didukung oleh banyak dalil Al-Qur'an dan hadits lain yang semakna.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Aisyah رضي الله عنها, Ummul Mukminin yang paling dicintai Rasulullah ﷺ, pernah diminta nasihat oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه, seorang khalifah yang memimpin umat Islam. Mu'awiyah meminta nasihat yang singkat dan tidak berpanjang-panjang.
Maka Aisyah رضي الله عنها menulis surat yang sangat singkat namun penuh hikmah. Beliau tidak menulis nasihat panjang lebar tentang politik, pemerintahan, atau urusan dunia. Beliau hanya menyampaikan satu hadits yang beliau dengar langsung dari Rasulullah ﷺ — sebuah hadits yang menjadi pondasi bagi setiap pemimpin dan setiap muslim: utamakan ridha Allah, maka Allah akan mencukupkan urusanmu dari manusia.
Hikmahnya: Aisyah رضي الله عنها mengajarkan bahwa nasihat terbaik bukanlah nasihat yang panjang, tetapi nasihat yang tepat sasaran dan bersumber dari wahyu. Beliau juga mengajarkan bahwa seorang pemimpin sekaliber Mu'awiyah pun tetap membutuhkan nasihat dan pengingat tentang Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dalam setiap ucapan, perbuatan, dan keputusan. Jangan pernah mengorbankan ketaatan kepada Allah demi menyenangkan manusia.
- Jangan takut kepada kemarahan manusia jika kita berada di atas kebenaran. Allah yang Maha Kuasa akan mencukupkan urusan kita dari manusia.
- Jangan bergantung kepada manusia dalam hal yang hanya Allah yang mampu memberi. Bergantunglah hanya kepada Allah, karena manusia tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.
- Nasihatilah dengan singkat dan padat jika memang itu lebih bermanfaat, sebagaimana Aisyah رضي الله عنها menulis surat singkat namun penuh makna kepada Mu'awiyah.
- Renungkanlah bahwa siapa yang mencari ridha manusia dengan mengorbankan ridha Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia — dan manusia tidak akan pernah bisa mencukupinya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.