Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2344 tentang Tawakal kepada Allah menjamin rezeki

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa tawakkal yang benar kepada Allah akan mendatangkan rezeki, sebagaimana burung yang keluar pagi dalam keadaan lapar dan kembali sore dalam keadaan kenyang. Tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi menggantungkan hati kepada Allah setelah melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan. Hadits ini menunjukkan keutamaan tawakkal dan jaminan rezeki bagi hamba yang benar-benar bertawakkal.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Ath-Thalaq [65]: 2-3

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu."

Hadits:

Hadits riwayat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Zuhd, Bab Tentang Tawakkal kepada Allah, no. 2344. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Kaitan dengan Ulama:

  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa tawakkal yang hakiki adalah menggantungkan hati kepada Allah semata dalam meraih manfaat dan menolak mudharat, disertai dengan melakukan sebab-sebab yang diperintahkan.
  • Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang makna tawakkal, beliau menjawab: "Tawakkal adalah putusnya pengharapan kepada makhluk." (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam Al-Amru bi al-Ma'ruf)
  • Sufyan ats-Tsauri berkata: "Tawakkal itu adalah engkau meninggalkan segala urusanmu kepada Allah." (Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah)

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung pelajaran besar tentang hakikat tawakkal. Rasulullah ﷺ mengumpamakan orang yang bertawakkal seperti burung. Burung keluar di pagi hari dalam keadaan lapar (khimashan) dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang (bithanan). Ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak menghilangkan usaha, karena burung tetap pergi mencari rezeki. Namun burung tidak pernah khawatir tentang rezekinya, ia hanya berusaha lalu pulang dengan keyakinan bahwa Allah akan mencukupkannya.

Penjelasan Ulama tentang Makna Tawakkal:

  1. Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa tawakkal yang benar mencakup dua hal:
  • Kejujuran hati dalam menggantungkan diri kepada Allah
  • Melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan syariat

Beliau berkata: "Tawakkal bukanlah meninggalkan sebab, karena Allah memerintahkan untuk melakukan sebab dan memerintahkan untuk bertawakkal. Maka melakukan sebab adalah ketaatan, dan bertawakkal adalah keyakinan kepada Allah." (Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, syarah hadits ke-49)

  1. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madarij as-Salikin (2/117) membagi tawakkal menjadi tiga tingkatan:
  • Tawakkalnya orang awam: meminta kepada Allah dan pasrah
  • Tawakkalnya orang khusus: ridha dengan apapun yang Allah berikan
  • Tawakkalnya orang yang lebih khusus: fana dari kehendak diri sendiri dan tenggelam dalam kehendak Allah
  1. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "wa man yatawakkal 'ala Allahi fahuwa hasbuh" (barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya) adalah jaminan dari Allah bahwa siapa yang bertawakkal dengan benar, Allah akan mencukupi segala kebutuhannya di dunia dan akhirat.

Perbedaan Pendapat Ulama tentang Tawakkal dan Usaha:

Para ulama sepakat bahwa tawakkal tidak menafikan usaha. Namun ada perbedaan dalam memahami kadar usaha:

  • Imam Ahmad bin Hanbal dan Sufyan ats-Tsauri menekankan bahwa tawakkal adalah kondisi hati, bukan meninggalkan aktivitas. Beliau berdua tetap bekerja dan berdagang.
  • Al-Hasan al-Bashri berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin itu bertawakkal dalam usahanya, dan berusaha dalam tawakkalnya." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya)
  • Fudail bin 'Iyadh berkata: "Tawakkal itu adalah engkau tidak peduli siapa yang memberi rezeki kepadamu dari makhluk." (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman)

Pendapat yang paling kuat adalah bahwa tawakkal harus disertai usaha, karena Nabi ﷺ sendiri berdagang, berhijrah, dan berperang. Bahkan dalam hadits lain, beliau bersabda: "Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi dalam keadaan lapar dan kembali sore dalam keadaan kenyang." (HR. At-Tirmidzi). Perhatikan bahwa burung tetap pergi (berusaha), bukan diam di sarang.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah melihat beberapa orang yang duduk-duduk di masjid tanpa beraktivitas. Beliau bertanya: "Siapa kalian?" Mereka menjawab: "Kami adalah orang-orang yang bertawakkal kepada Allah." Maka Umar berkata: "Kalian bukan orang yang bertawakkal. Sesungguhnya orang yang bertawakkal adalah orang yang menanam benih di bumi, lalu bertawakkal kepada Allah." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam At-Tawakkal 'ala Allah)

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami tawakkal bukan sebagai sikap pasif, tetapi sebagai keyakinan hati yang dibarengi dengan usaha maksimal. Umar mengajarkan bahwa tawakkal yang benar adalah setelah melakukan sebab-sebab yang Allah perintahkan, barulah hati digantungkan kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Tawakkal adalah ibadah hati – gantungkan segala urusan hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk.
  2. Tawakkal tidak menafikan usaha – lakukan sebab-sebab yang halal dengan sungguh-sungguh, seperti burung yang tetap pergi mencari rezeki.
  3. Jaminan rezeki – Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi hamba yang benar-benar bertawakkal.
  4. Jauhi sikap ekstrem – jangan meninggalkan usaha dengan alasan tawakkal, dan jangan pula terlalu bergantung pada usaha sehingga lupa kepada Allah.
  5. Latih hati – biasakan hati untuk tidak khawatir berlebihan tentang rezeki, karena Allah yang mengatur dan menjamin.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.