Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2327 tentang Penyesalan karena tidak mematuhi wasiat Rasulullah tentang harta

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang qana'ah (merasa cukup) dan zuhud (tidak berlebihan dalam urusan dunia). Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kecukupan harta itu sederhana: sekedar pembantu/khodim dan kendaraan untuk berjuang di jalan Allah. Abu Hasyim bin 'Utbah menangis di akhir hayatnya karena merasa belum bisa mengamalkan wasiat Nabi ﷺ ini dengan sempurna—bukan karena sakit atau cinta dunia, tetapi karena merasa kurang dalam menaati petunjuk Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi, Kitab Zuhud, no. 2327 dari Abu Wail, dari Abu Hasyim bin 'Utbah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa hadits ini juga diriwayatkan oleh Zaidah dan 'Ubaidah bin Humaid dari Manshur dari Abu Wail dari Samurah bin Sahm dengan makna yang serupa.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hadid [57]: 20

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan..."

Penjelasan ulama:

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti mengharamkan harta, tetapi zuhud adalah hati tidak bergantung pada harta, dan harta hanya berada di tangan, bukan di hati. Beliau menukil perkataan Al-Hasan Al-Bashri: "Zuhud terhadap dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, tetapi zuhud adalah engkau lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu."

Penjelasan Rinci

1. Konteks Hadits

Abu Hasyim bin 'Utbah adalah salah seorang sahabat Nabi ﷺ yang mulia. Beliau adalah keponakan dari Sa'ad bin Abi Waqqash dan termasuk kerabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Ketika sakit menjelang wafat, Mu'awiyah datang menjenguknya dan bertanya mengapa ia menangis.

Jawaban Abu Hasyim sangat dalam: "Bukan karena sakit, bukan pula karena cinta dunia. Tetapi Rasulullah ﷺ pernah berwasiat kepadaku sebuah wasiat yang belum aku amalkan dengan baik." Wasiat itu adalah: "Cukuplah bagimu dari mengumpulkan harta itu seorang pelayan dan kendaraan di jalan Allah."

2. Makna "Khādim" dan "Markab fī Sabīlillāh"

Khādim (خادم) artinya pembantu atau pelayan yang membantu kebutuhan hidup. Markab fī sabīlillāh (مركب في سبيل الله) artinya kendaraan untuk berjuang di jalan Allah—baik untuk jihad, mencari ilmu, atau kebutuhan ibadah.

Imam As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa Islam tidak melarang memiliki harta, tetapi melarang hati diperbudak oleh harta. Kebutuhan pokok yang wajar—seperti pembantu dan kendaraan—adalah hal yang dibolehkan bahkan dianjurkan, karena itu termasuk "mencukupi diri" yang diperintahkan.

3. Pelajaran dari Tangisan Abu Hasyim

Abu Hasyim menangis bukan karena dosa besar, tetapi karena merasa kurang sempurna dalam mengamalkan wasiat Nabi ﷺ. Ini menunjukkan betapa tingginya kepekaan para sahabat terhadap petunjuk Nabi ﷺ. Mereka merasa sedih jika ada satu saja wasiat Nabi yang belum mereka amalkan dengan sempurna.

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa tangisan seperti ini adalah tanda hidupnya hati—hati yang selalu merasa kurang dalam ketaatan dan takut tidak bisa memenuhi hak-hak Allah dan Rasul-Nya.

4. Zuhud Menurut Para Ulama

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang zuhud, beliau menjawab: "Zuhud adalah pendeknya angan-angan (qisharul amal)." Artinya, seseorang tidak terlalu panjang angan-angannya dalam urusan dunia, sehingga ia fokus mempersiapkan bekal akhirat.

Sufyan Ats-Tsauri berkata: "Zuhud di dunia adalah pendeknya angan-angan, bukan memakan makanan kasar atau memakai pakaian kasar."

Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Demi Allah, bukanlah zuhud itu mengharamkan yang halal, bukan pula menyia-nyiakan harta. Tetapi zuhud adalah engkau lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu."

5. Perbedaan Pendapat Ulama tentang "Cukup" dalam Harta

Para ulama berbeda pendapat tentang batasan "cukup" dalam harta:

  • Pendapat pertama (mayoritas salaf): Cukup adalah sekedar kebutuhan pokok yang wajar—makanan, pakaian, tempat tinggal, dan alat bantu ibadah/pekerjaan. Ini berdasarkan hadits ini.
  • Pendapat kedua: Cukup adalah sesuai kebutuhan masing-masing orang, karena kebutuhan orang berbeda-beda. Yang penting hati tidak diperbudak harta.

Kedua pendapat ini sebenarnya saling melengkapi. Yang terpenting adalah hati tidak bergantung pada harta, dan harta hanya sebagai alat, bukan tujuan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hasyim bin 'Utbah adalah salah seorang sahabat yang ikut dalam penaklukan negeri-negeri. Beliau termasuk orang yang memiliki harta dari hasil rampasan perang dan pemberian para pemimpin. Namun di akhir hayatnya, beliau justru menangis karena merasa belum sempurna mengamalkan wasiat Nabi ﷺ.

Kisah ini mengajarkan kita: semakin dekat seseorang dengan Allah, semakin besar rasa takutnya untuk lalai dari petunjuk Nabi ﷺ. Para sahabat tidak pernah merasa puas dengan amal mereka. Mereka selalu merasa kurang, dan ini justru menjadi pendorong untuk terus meningkatkan ketaatan.

Imam Ibnul Qayyim berkata: "Barangsiapa yang merasa cukup dengan amalnya, maka ia telah terhalang dari kebaikan yang banyak. Karena orang yang merasa cukup akan berhenti berusaha, sedangkan orang yang merasa kurang akan terus berusaha."

Kesimpulan Praktis

  1. Sederhanakan kebutuhan hidup — Harta yang cukup adalah yang bisa memenuhi kebutuhan pokok dan membantu ibadah, bukan menumpuk untuk bermegah-megahan.
  2. Jadikan harta sebagai alat, bukan tujuan — Harta untuk memudahkan ibadah dan membantu sesama, bukan untuk dibanggakan.
  3. Jangan menangis karena kurang harta, tetapi menangislah jika kurang amal — Sebagaimana Abu Hasyim menangis karena merasa kurang mengamalkan wasiat Nabi ﷺ.
  4. Perbanyak mengingat kematian — Karena mengingat kematian akan memendekkan angan-angan dan membuat kita fokus pada bekal akhirat.
  5. Qana'ah adalah kekayaan yang hakiki — Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan hati." (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?