Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan tiga sumpah Nabi ﷺ: sedekah tidak mengurangi harta, sabar atas kezaliman menambah kemuliaan, dan meminta-minta membuka pintu kemiskinan. Kemudian Nabi ﷺ membagi manusia dalam urusan dunia menjadi empat golongan berdasarkan ilmu dan harta: yang terbaik adalah orang berilmu dan berharta yang digunakan untuk taat; yang buruk adalah orang berharta tanpa ilmu yang menyia-nyiakannya; dan dua golongan lainnya dinilai berdasarkan niat mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. At-Taghabun [64]: 15-16
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ. فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan. Di sisi Allah ada pahala yang besar. Maka bertakwalah kamu kepada Allah semampu kamu, dengarlah dan taatlah, serta infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."
QS. Al-Baqarah [2]: 261
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui."
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Zuhud, Bab 32, no. 2325. Beliau menilai hadits ini hasan shahih. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan Ibnu Majah.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (syarah atas 40 hadits an-Nawawi) membahas makna hadits ini secara panjang lebar, terutama tentang keutamaan niat dan hubungan ilmu dengan amal. Beliau menjelaskan bahwa orang yang memiliki ilmu namun tidak memiliki harta, lalu berniat tulus untuk beramal jika memiliki harta, maka pahalanya sama dengan orang yang beramal. Ini berdasarkan kaidah bahwa niat orang mukmin lebih baik daripada amalnya (sebagaimana hadits shahih riwayat Ath-Thabrani).
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menjelaskan bahwa sedekah tidak mengurangi harta secara hakiki, karena Allah akan menggantinya dengan keberkahan dan pahala.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung tiga sumpah Nabi ﷺ yang sangat penting:
Pertama: Sedekah tidak mengurangi harta. Ini adalah sumpah yang menegaskan hakikat keberkahan. Secara matematis, harta berkurang, tetapi secara hakiki, Allah menggantinya dengan pahala, keberkahan, dan bahkan tambahan harta di dunia. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa sedekah adalah salah satu sebab datangnya rezeki dan menolak bala. Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 261.
Kedua: Sabar atas kezaliman menambah kemuliaan. Orang yang dizalimi lalu bersabar tanpa membalas dengan keburukan, maka Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada seorang pun yang diberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (HR. Bukhari dan Muslim). Kesabaran di sini adalah menahan diri dari membalas dendam dan mengadukan kepada Allah.
Ketiga: Meminta-minta membuka pintu kemiskinan. Ini adalah peringatan keras agar tidak meminta-minta tanpa kebutuhan yang mendesak. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa meminta-minta adalah pintu menuju kefakiran hati dan harta. Sebaliknya, orang yang menjaga kehormatan diri dari meminta-minta, Allah akan mencukupkannya.
Kemudian Nabi ﷺ membagi manusia dalam urusan dunia menjadi empat golongan:
- Golongan Terbaik: Orang yang diberi ilmu dan harta, lalu menggunakan keduanya untuk taat kepada Allah, menyambung silaturahmi, dan menunaikan hak Allah. Ini adalah kedudukan para nabi, shiddiqin, dan ulama yang beramal.
- Golongan Kedua: Orang yang diberi ilmu tetapi tidak diberi harta, namun ia memiliki niat tulus untuk beramal jika memiliki harta. Pahalanya sama dengan orang yang beramal. Imam Ibn Rajab menjelaskan bahwa ini adalah keutamaan niat yang ikhlas. Dalam hadits shahih riwayat At-Tirmidzi, Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mampu melakukannya, maka ditulis baginya satu kebaikan penuh."
- Golongan Ketiga (Terburuk): Orang yang diberi harta tetapi tidak diberi ilmu. Ia menggunakan hartanya tanpa ilmu, tidak bertakwa, tidak menyambung silaturahmi, dan tidak menunaikan hak Allah. Ini adalah golongan yang paling buruk karena hartanya menjadi bencana baginya.
- Golongan Keempat: Orang yang tidak diberi harta dan ilmu, tetapi ia memiliki niat buruk untuk berbuat dosa jika memiliki harta. Dosanya sama dengan orang yang benar-benar berbuat dosa. Ini menunjukkan bahwa niat buruk juga dihisab oleh Allah, meskipun tidak terlaksana.
Imam Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa ilmu tanpa amal adalah hujjah, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Maka, ilmu harus diamalkan, dan amal harus berdasarkan ilmu.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Kabshah al-Anmari, sahabat yang meriwayatkan hadits ini. Beliau adalah seorang sahabat yang zuhud. Suatu hari, beliau mendengar langsung dari Nabi ﷺ sabda ini. Para sahabat sangat memperhatikan karena Nabi ﷺ memulai dengan sumpah. Ini menunjukkan betapa pentingnya pesan ini.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menceritakan bahwa para salaf sangat berhati-hati dalam menggunakan harta. Mereka tidak mau menggunakan harta kecuali dengan ilmu. Al-Hasan al-Bashri berkata: "Berhati-hatilah terhadap dunia, karena ia lebih berbahaya daripada ular berbisa. Ular hanya membunuh satu orang, tetapi dunia bisa membinasakan agama seseorang."
Kisah lain: Seorang lelaki datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal dan berkata, "Aku memiliki harta yang banyak, tetapi aku tidak tahu bagaimana menggunakannya." Imam Ahmad menjawab, "Pelajarilah ilmu tentang halal dan haram, baru kemudian gunakan hartamu. Jika tidak, engkau akan terjerumus dalam dosa."
Kesimpulan Praktis
- Bersedekahlah dengan ikhlas, karena sedekah tidak mengurangi harta, malah menambah keberkahan.
- Bersabarlah atas kezaliman, karena kesabaran akan meninggikan derajatmu di sisi Allah.
- Jauhilah meminta-minta tanpa kebutuhan yang mendesak, karena itu membuka pintu kemiskinan.
- Tuntutlah ilmu syar'i agar engkau bisa menggunakan harta dengan benar.
- Perbaiki niatmu, karena niat yang baik akan mendatangkan pahala meskipun belum terlaksana, dan niat buruk akan mendatangkan dosa.
- Jadilah seperti golongan pertama: berilmu dan berharta, lalu gunakan keduanya untuk taat kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.