Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2321 tentang Dunia lebih hina daripada bangkai domba di sisi Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kepada kita tentang hakikat dunia yang sangat hina di sisi Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ menggunakan perumpamaan seekor anak kambing yang mati dan dibuang oleh pemiliknya karena sudah tidak berguna. Beliau menjelaskan bahwa dunia ini lebih hina lagi di sisi Allah daripada bangkai anak kambing tersebut di mata pemiliknya. Ini bukan berarti kita dilarang menikmati dunia, tetapi kita tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan melupakan akhirat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat At-Tirmidzi:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan):

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، عَنِ الْمُسْتَوْرِدِ بْنِ شَدَّادٍ، قَالَ كُنْتُ مَعَ الرَّكْبِ الَّذِينَ وَقَفُوا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عَلَى السَّخْلَةِ الْمَيِّتَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " أَتَرَوْنَ هَذِهِ هَانَتْ عَلَى أَهْلِهَا حِينَ أَلْقَوْهَا " . قَالُوا مِنْ هَوَانِهَا أَلْقَوْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ " فَالدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ عَلَى أَهْلِهَا "

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hadid [57]: 20

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ

Artinya: "Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan..."

Penjelasan Ulama:

Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan (baik). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Shahih Ibni Majah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang hakikat dunia.

1. Makna "Hina di Sisi Allah"

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kehinaan dunia di sisi Allah bukan berarti Allah membenci segala sesuatu yang ada di dunia secara mutlak. Akan tetapi, yang dimaksud adalah dunia ini kecil dan tidak sebanding dengan nikmat akhirat. Allah menciptakan dunia sebagai tempat ujian, bukan sebagai tujuan akhir. Nilai dunia di sisi Allah sangat kecil dibandingkan dengan surga yang kekal.

2. Perumpamaan Anak Kambing yang Mati

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya 'Uddatush Shabirin menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ memilih perumpamaan anak kambing yang mati dan dibuang karena beberapa alasan:

  • Anak kambing yang mati sudah tidak bermanfaat sama sekali bagi pemiliknya
  • Pemiliknya membuangnya dengan penuh kehinaan, tidak ada yang mau mengambilnya
  • Ini menggambarkan bahwa dunia di sisi Allah lebih rendah daripada bangkai yang hina itu

3. Bukan Berarti Dunia Harus Ditinggalkan Total

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa pemahaman yang benar dari hadits ini adalah:

  • Kita boleh memanfaatkan dunia sebagai bekal untuk akhirat
  • Kita tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan utama
  • Hati kita tidak boleh terikat pada dunia sehingga lupa beribadah kepada Allah

4. Perbedaan Pendapat Ulama tentang "Kehinaan Dunia"

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami maksud "dunia hina di sisi Allah":

  • Pendapat pertama (mayoritas ulama seperti Imam Ahmad, Ibnu Rajab): Dunia itu hina karena ia adalah tempat ujian dan cobaan, bukan tempat pembalasan yang kekal. Allah menciptakannya dengan hikmah, tetapi nilainya kecil dibanding akhirat.
  • Pendapat kedua (sebagian ulama seperti yang dinukil Ibnu Rajab): Yang hina adalah sisi dunia yang melalaikan dari akhirat, bukan dunia itu sendiri sebagai ciptaan Allah. Karena Allah sendiri memuji sebagian nikmat dunia dalam Al-Qur'an.

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama dengan penjelasan: kehinaan dunia adalah kehinaan relatif, yaitu dibandingkan dengan akhirat. Ini tidak bertentangan dengan firman Allah yang menyebutkan bahwa Allah menundukkan bumi untuk manusia.

5. Pelajaran dari Sahabat

Al-Mustawrid bin Shaddad adalah sahabat yang meriwayatkan hadits ini. Beliau termasuk sahabat yang ikut dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Para sahabat memahami bahwa dunia ini hanyalah ladang untuk menanam amal akhirat. Mereka tidak terpedaya oleh gemerlap dunia.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak — salah satu perawi dalam sanad hadits ini — adalah seorang ulama yang sangat zuhud. Beliau memiliki harta yang banyak, namun hampir seluruhnya diinfakkan di jalan Allah.

Suatu ketika beliau ditanya: "Wahai Abu Abdurrahman, engkau memiliki harta yang banyak, mengapa engkau tidak menikmati duniamu?"

Beliau menjawab: "Aku mendengar hadits Rasulullah ﷺ bahwa dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai anak kambing. Maka bagaimana mungkin aku menjadikan sesuatu yang hina di sisi Allah sebagai tujuan hidupku?"

Kemudian beliau membacakan firman Allah tentang kehidupan dunia yang hanya permainan dan senda gurau. Beliau melanjutkan: "Aku hanya ingin menjadikan hartaku sebagai bekal untuk kampung akhirat yang kekal."

Hikmah dari kisah ini: Abdullah bin al-Mubarak memahami bahwa memiliki harta tidak dilarang, tetapi yang dilarang adalah menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Beliau menggunakan hartanya untuk ketaatan, bukan untuk kemaksiatan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menjadikan dunia sebagai tujuan utama — dunia hanyalah jembatan menuju akhirat, bukan tempat tinggal yang kekal.
  2. Gunakan dunia sebagai bekal akhirat — harta, waktu, dan kesehatan seharusnya digunakan untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah.
  3. Jangan terlalu sedih kehilangan dunia — karena dunia ini hina di sisi Allah, maka kehilangan sebagian darinya bukanlah musibah besar.
  4. Jangan terlalu bangga dengan dunia — karena apa pun yang kita miliki di dunia akan sirna dan tidak sebanding dengan nikmat akhirat.
  5. Perbanyak amal akhirat — seperti shalat, zakat, sedekah, dan kebaikan lainnya yang akan menjadi bekal di akhirat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?