Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2306 tentang Bersegera beramal sebelum datangnya tujuh halangan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ agar kita bersegera melakukan amal saleh sebelum datangnya tujuh penghalang: kemiskinan yang melupakan, kekayaan yang melalaikan, penyakit yang merusak, usia tua yang melemahkan, kematian yang mendadak, fitnah Dajjal, dan Hari Kiamat. Meskipun sanad hadits ini dinilai da'if (lemah) oleh para ulama hadits, maknanya sangat selaras dengan banyak ayat Al-Qur'an dan hadits shahih lainnya yang memerintahkan kita untuk bersegera dalam kebaikan. Kita tetap boleh mengambil pelajaran darinya selama tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Hadid [57]: 21

سَابِقُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ

"Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi..."

2. Hadits Shahih terkait:

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Bersegeralah (beramal saleh) sebelum datangnya tujuh perkara. Apakah kalian menunggu selain kemiskinan yang melupakan, kekayaan yang melampaui batas, penyakit yang merusak, usia tua yang melemahkan, kematian yang mendadak, Dajjal (yang merupakan seburuk-buruk perkara yang dinanti), atau Hari Kiamat? Hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit." (HR. At-Tirmidzi no. 2306, dinilai da'if oleh Syaikh Al-Albani)

Catatan Ulama: Imam At-Tirmidzi sendiri mengatakan hadits ini hasan gharib. Namun Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Ad-Da'ifah menilai sanadnya lemah karena adanya perawi bernama Muharrar bin Harun yang diperselisihkan. Meski demikian, makna hadits ini diperkuat oleh banyak dalil lain yang shahih.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung prinsip al-mubadarah (bersegera) dalam ketaatan. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Mu'minun [23]: 61 yang memuji orang-orang yang "bersegera dalam kebaikan."

Tujuh perkara yang disebutkan Nabi ﷺ:

  1. Kemiskinan yang melupakan (faqran munsiyan) — Syaikh Abdurrahman As-Sa'di menjelaskan bahwa kemiskinan bisa membuat seseorang sibuk mencari nafkah hingga lalai dari ibadah dan ketaatan.
  2. Kekayaan yang melampaui batas (ghinan muthghiyan) — Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa'id mengingatkan bahwa kekayaan bisa membuat seseorang sombong dan lupa diri, sebagaimana Qarun yang binasa karena kekayaannya.
  3. Penyakit yang merusak (maradhan mufsidan) — Penyakit berat bisa menghalangi seseorang dari beramal. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menekankan pentingnya memanfaatkan kesehatan sebelum sakit.
  4. Usia tua yang melemahkan (haraman mufannidan) — Usia lanjut membuat fisik lemah dan akal menurun. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menganjurkan memperbanyak amal di masa muda.
  5. Kematian yang mendadak (mautan mujhizan) — Kematian bisa datang kapan saja tanpa peringatan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin sering mengingatkan bahwa tidak ada yang bisa menjamin umurnya sampai esok hari.
  6. Fitnah Dajjal — Ini adalah ujian terbesar di akhir zaman. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Dajjal akan datang dengan berbagai tipu daya dan ujian.
  7. Hari Kiamat — Ini adalah perkara yang paling dahsyat dan pahit, sebagaimana Allah gambarkan dalam banyak ayat Al-Qur'an.

Pandangan Ulama tentang Derajat Hadits:

Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib. Namun Syaikh Al-Albani setelah meneliti sanadnya, menyimpulkan bahwa hadits ini da'if karena Muharrar bin Harun — salah satu perawinya — dinilai layyin al-hadits (lemah hafalannya) oleh para kritikus hadits seperti Imam Yahya bin Ma'in dan Imam Abu Hatim Ar-Razi.

Meskipun demikian, para ulama tetap mengambil pelajaran dari hadits ini karena:

  • Maknanya didukung oleh banyak dalil shahih tentang anjuran bersegera dalam kebaikan
  • Kandungannya tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan hadits shahih
  • Para ulama seperti Imam Al-Bukhari mencantumkan hadits serupa dalam Shahih-nya dari jalur lain yang lebih kuat

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Al-Hasan Al-Bashri — seorang ulama tabi'in yang terkenal zuhud — pernah berkata:

"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilanglah sebagian darimu. Apabila engkau tidak bersegera beramal saleh, maka engkau akan menyesal di hari ketika penyesalan tidak lagi berguna."

Beliau juga sering menangis ketika membaca firman Allah: "Maka pada hari itu tidak bermanfaat lagi syafaat kecuali dari orang yang Allah izinkan..." (QS. Thaha [20]: 109). Beliau memahami bahwa kesempatan beramal sangat terbatas dan tidak bisa diulang.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa para salaf sangat memahami pentingnya bersegera dalam ketaatan. Mereka tidak menunda-nunda amal karena tahu bahwa ajal tidak pernah menunggu.

Kesimpulan Praktis

  1. Segera lakukan amal saleh — Jangan menunda shalat, puasa, sedekah, atau kebaikan lainnya karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.
  2. Manfaatkan masa muda dan sehat — Masa muda dan kesehatan adalah nikmat besar yang sering dilalaikan. Gunakan untuk memperbanyak ibadah dan ketaatan.
  3. Waspada terhadap fitnah harta — Baik kemiskinan maupun kekayaan bisa menjadi ujian. Jadikan keduanya sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjauhkan.
  4. Persiapkan diri menghadapi kematian — Perbanyak istighfar, taubat, dan amal jariyah sebelum kematian datang.
  5. Jangan menunda taubat — Setiap hari yang berlalu adalah kesempatan yang tidak akan kembali. Segera perbaiki diri sebelum datangnya hari yang tidak ada lagi kesempatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?