Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan salah satu kebiasaan Nabi ﷺ setelah shalat Subuh, yaitu menghadap kepada para sahabat dan bertanya apakah ada di antara mereka yang bermimpi. Ini mengajarkan kita bahwa mimpi—terutama mimpi baik—adalah sesuatu yang diperhatikan dalam Islam, dan para sahabat terbiasa menceritakan mimpi mereka kepada Nabi ﷺ untuk mendapatkan takwil (tafsir mimpi) darinya. Kebiasaan ini juga menunjukkan perhatian Nabi ﷺ terhadap keadaan dan kabar para sahabatnya di pagi hari.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, Kitab Mimpi, Bab "Apa yang Dikatakan tentang Mimpi Nabi ﷺ, Timbangan dan Ember", no. 2294. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Teks hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dengan sanadnya. Berikut poin pentingnya:
- Sanad: Muhammad bin Basysyar → Wahb bin Jarir bin Hazim → ayahnya (Jarir bin Hazim) → Abu Raja' (Imran bin Milhan) → Samurah bin Jundab radhiyallahu 'anhu.
- Matan: "Ketika Nabi ﷺ shalat Subuh bersama kami, beliau menghadap kepada orang-orang dan bersabda: 'Apakah ada di antara kalian yang bermimpi semalam?'"
Hadits ini juga diriwayatkan dalam bentuk panjang oleh Imam Muslim (no. 2276) dari jalur Samurah bin Jundab, yang menceritakan kisah lengkap tentang dua mimpi Nabi ﷺ yang berisi pelajaran tentang orang yang mencukur rambutnya, orang yang berjalan dengan lutut, dan lain-lain.
Dalil terkait tentang mimpi:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Yusuf [12]: 6:
وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ
"Dan demikianlah Tuhanmu memilihmu (Yusuf) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi-mimpi."
Ayat ini menunjukkan bahwa menafsirkan mimpi adalah ilmu yang diajarkan Allah kepada para nabi-Nya, dan Nabi ﷺ mewarisi ilmu ini untuk umatnya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah dari hadits ini:
1. Perhatian Nabi ﷺ terhadap mimpi para sahabat
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kebiasaan Nabi ﷺ bertanya tentang mimpi setelah shalat Subuh menunjukkan bahwa mimpi yang baik adalah bagian dari kenabian, dan Nabi ﷺ ingin mengetahui mimpi para sahabatnya untuk menakwilkannya. Ini juga menunjukkan bahwa mimpi baik adalah kabar gembira bagi seorang mukmin.
2. Waktu bertanya tentang mimpi
Para ulama menjelaskan bahwa bertanya tentang mimpi setelah shalat Subuh adalah waktu yang tepat karena:
- Hati masih tenang dan jernih setelah ibadah
- Mimpi yang dilihat di akhir malam (menjelang Subuh) lebih dekat kepada kebenaran
- Ini menjadi pembuka percakapan yang baik dengan jamaah
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa mimpi yang benar biasanya terjadi di waktu sahur atau menjelang Subuh, karena saat itu rahmat Allah turun dan syaitan lebih lemah.
3. Adab menceritakan mimpi
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya menceritakan mimpi baik kepada orang yang bisa menakwilkannya, dan dianjurkan bagi seorang guru atau pemimpin untuk bertanya tentang keadaan murid atau bawahannya di pagi hari sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang.
4. Perbedaan mimpi baik dan buruk
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin membagi mimpi menjadi tiga:
- Mimpi dari Allah (mimpi baik, kabar gembira)
- Mimpi dari syaitan (mimpi buruk, menakutkan)
- Mimpi dari bisikan jiwa (pikiran yang mengganggu)
Nabi ﷺ mengajarkan jika seseorang melihat mimpi buruk, hendaknya meludah ke kiri tiga kali, berlindung kepada Allah dari kejahatannya, dan tidak menceritakannya kepada orang lain.
5. Hikmah pertanyaan Nabi ﷺ
Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa pertanyaan Nabi ﷺ ini adalah bentuk pendidikan kepada umatnya agar memperhatikan mimpi, karena mimpi baik adalah bagian dari 46 bagian kenabian. Juga agar para sahabat terbiasa berbagi kabar baik di pagi hari.
Story Telling
Dalam riwayat panjang yang disebutkan Imam At-Tirmidzi dan juga Imam Muslim, setelah Samurah bin Jundab menceritakan bahwa tidak ada yang bermimpi, Nabi ﷺ bersabda: "Tetapi aku bermimpi tadi malam." Lalu beliau menceritakan mimpi yang sangat menakjubkan tentang dua orang yang membawanya berjalan, lalu mereka bertemu dengan berbagai pemandangan:
- Orang yang kepalanya dipecahkan dengan batu, lalu sembuh, lalu dipecahkan lagi — itu adalah orang yang belajar Al-Qur'an lalu meninggalkannya dan tidur meninggalkan shalat wajib.
- Orang yang berjalan dengan lutut — itu adalah orang yang berdusta dengan dusta yang tersebar ke mana-mana.
- Orang yang makan daging busuk — itu adalah orang yang berzina.
- Dan lainnya.
Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat peduli untuk menyampaikan pelajaran melalui mimpi, dan mimpi beliau adalah wahyu yang benar. Para sahabat sangat antusias mendengarkan takwil mimpi dari Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Perhatikan mimpi baik — Mimpi baik adalah kabar gembira dari Allah, hendaknya kita bersyukur dan menceritakannya kepada orang yang dipercaya.
- Jangan menceritakan mimpi buruk — Cukup berlindung kepada Allah dan tidak menceritakannya kepada orang lain.
- Meneladani Nabi ﷺ dalam perhatian kepada orang lain — Bertanya kabar dan keadaan orang-orang di sekitar kita di pagi hari adalah akhlak mulia.
- Menjaga shalat Subuh — Hadits ini menunjukkan bahwa setelah shalat Subuh ada waktu untuk ta'lim dan silaturahmi.
- Jangan terlalu sibuk menakwilkan mimpi sendiri — Jika ingin menakwilkan, mintalah kepada ahlinya yang memahami Al-Qur'an dan Sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.