Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2180 tentang Larangan meniru kebiasaan orang-orang sebelum kita

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya meniru kebiasaan orang-orang kafir dan musyrik, meskipun dalam perkara yang tampak sepele. Beliau mengibaratkan permintaan sebagian sahabat untuk membuat pohon "Dhat Anwat" sebagai tempat menggantung senjata (untuk keberkahan) sama seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa untuk membuat berhala. Hadits ini juga mengabarkan bahwa umat Islam akan mengikuti jejak umat-umat terdahulu, dan ini menjadi peringatan agar kita waspada terhadap segala bentuk penyerupaan dengan orang-orang kafir dalam perkara ibadah dan kebiasaan yang bertentangan dengan tauhid.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi No. 2180 dari Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Dalil lain yang terkait:

QS. Al-A'raf [7]: 138

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

"Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan, lalu mereka sampai kepada suatu kaum yang sedang menyembah berhala-berhala mereka. Mereka (Bani Israil) berkata: 'Wahai Musa! Buatlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan-sesembahan itu.' Musa menjawab: 'Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (kebesaran Allah).'"

Hadits lain yang semakna:

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ

"Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika mereka masuk ke lubang biawak pun, kalian akan mengikutinya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudri)

Penjelasan Ulama:

  • Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan menyerupai orang-orang musyrik dalam perkara yang menjadi ciri khas mereka, meskipun niatnya baik.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang saddudz dzari'ah (menutup jalan menuju perbuatan haram), karena permintaan para sahabat itu lahir dari keinginan untuk keberkahan, namun Nabi ﷺ menolak karena itu adalah wasilah menuju kesyirikan.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dalam hal-hal yang menjadi syi'ar mereka.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Bahaya Tasyabbuh (Menyerupai) Orang Kafir

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Iqtidha' Ash-Shirath Al-Mustaqim menjelaskan bahwa menyerupai orang-orang kafir dalam perkara lahiriah bisa membawa kepada penyerupaan dalam perkara batiniah (keyakinan). Beliau berkata: "Menyerupai mereka dalam perkara lahir akan menumbuhkan kecintaan dan kesetiaan dalam hati, sebagaimana kecintaan batin akan melahirkan penyerupaan lahir."

2. Niat Baik Tidak Menghalalkan Cara yang Salah

Para sahabat yang meminta dibuatkan "Dhat Anwat" memiliki niat yang baik—mereka ingin mendapatkan keberkahan sebagaimana orang-orang musyrik mendapatkan keberkahan dari pohon tersebut. Namun Nabi ﷺ menolak dengan tegas. Ini menunjukkan bahwa niat baik tidak cukup untuk membenarkan perbuatan yang bertentangan dengan syariat.

Imam Asy-Syafi'i menjelaskan bahwa syariat datang untuk menutup semua jalan yang bisa mengantarkan kepada kesyirikan, meskipun pelakunya memiliki niat baik.

3. Mengikuti Jejak Umat Terdahulu adalah Kenyataan

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa umatnya akan mengikuti kebiasaan umat-umat terdahulu. Ini bukan berarti kita boleh melakukannya, tetapi ini adalah kabar berita (ikhbar) sekaligus peringatan agar kita waspada. Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan bahwa hadits ini adalah mukjizat Nabi ﷺ karena apa yang beliau kabarkan benar-benar terjadi.

4. Prinsip "Saddudz Dzari'ah" (Menutup Jalan Keburukan)

Imam Ibnul Qayyim dalam I'lamul Muwaqqi'in menjelaskan bahwa syariat Islam sangat memperhatikan prinsip ini. Sesuatu yang mubah bisa menjadi haram jika menjadi wasilah menuju perbuatan haram. Dalam hadits ini, menggantungkan senjata di pohon adalah perkara mubah, tetapi karena itu adalah kebiasaan orang musyrik dan bisa menjadi sarana kesyirikan, maka Nabi ﷺ melarangnya.

5. Perbedaan Antara Ibadah yang Disyariatkan dan Bid'ah

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ibadah hanya boleh dilakukan dengan cara yang dicontohkan Nabi ﷺ. Membuat cara ibadah baru yang tidak dicontohkan adalah bid'ah yang tertolak, meskipun niatnya baik.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika para sahabat meminta dibuatkan "Dhat Anwat", Nabi ﷺ menjawab dengan kalimat "Subhanallah" — sebuah ungkapan ta'ajjub (heran) dan pengagungan kepada Allah. Beliau heran bagaimana mungkin orang-orang yang baru saja memeluk Islam dan meninggalkan kesyirikan, tiba-tiba meminta sesuatu yang menyerupai perbuatan orang musyrik.

Kemudian beliau mengingatkan mereka dengan kisah Bani Israil. Ketika Nabi Musa melewati suatu kaum yang menyembah berhala, Bani Israil justru meminta dibuatkan berhala serupa. Nabi Musa menjawab: "Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (kebesaran Allah)."

Para ulama menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa cepatnya manusia bisa tergelincir ke dalam kesyirikan jika tidak memiliki ilmu yang benar. Oleh karena itu, Nabi ﷺ sangat tegas dalam masalah ini, karena beliau tahu bahwa syirik adalah dosa terbesar yang tidak diampuni oleh Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi menyerupai orang kafir dalam perkara ibadah, pakaian, dan kebiasaan yang menjadi ciri khas mereka.
  2. Niat baik tidak membenarkan cara yang salah — setiap ibadah harus sesuai tuntunan Nabi ﷺ.
  3. Waspadai bid'ah dalam agama, meskipun pelakunya memiliki niat yang baik.
  4. Pelajari tauhid dan syirik agar kita tidak terjatuh ke dalam kesyirikan tanpa sadar.
  5. Jadikan hadits ini sebagai peringatan untuk selalu kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah dalam setiap perkara.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi