Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar penting dari Nabi ﷺ tentang tiga permohonan beliau untuk umatnya. Dua permohonan dikabulkan Allah: umat ini tidak akan dibinasakan dengan kekeringan (paceklik) dan tidak akan dikuasai oleh musuh dari luar. Satu permohonan ditolak: agar sebagian umat tidak saling menzalimi dan memerangi sebagian yang lain. Ini adalah peringatan keras bahwa ujian terbesar umat Islam justru datang dari dalam, berupa perselisihan dan peperangan di antara sesama muslim.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi (No. 2175)
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Al-Fitan, Bab "Ma Ja'a fi Su'al an-Nabi ﷺ 'an Ummatihi Tsalatsa Marratin". Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib shahih.
Sanadnya: Muhammad bin Basysyar ← Wahb bin Jarir ← Jarir (bin Hazim) ← An-Nu'man bin Rasyid ← Az-Zuhri ← Abdullah bin Al-Harits ← Abdullah bin Khabbab bin Al-Aratt ← ayahnya (Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu 'anhu).
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (No. 2890) dari jalur lain, dengan lafaz yang semakna.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)."
(QS. Asy-Syura [42]: 30)
Ayat ini menjelaskan bahwa banyak musibah, termasuk perpecahan dan peperangan sesama muslim, adalah akibat dari perbuatan dosa manusia sendiri.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan hadits ini dengan sangat mendalam. Mari kita bedah satu per satu:
1. Shalat Raghabah wa Rahbah (Shalat Harapan dan Ketakutan)
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "shalat raghbah wa rahbah" adalah shalat yang dilakukan seseorang ketika ia sangat berharap kepada Allah dan sangat takut kepada-Nya. Ini adalah shalat yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan, di mana seseorang memohon dengan sangat kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa doa di dalam shalat adalah momen yang sangat mustajab, dan Nabi ﷺ memanfaatkan shalat untuk memohon hal-hal besar bagi umatnya.
2. Tiga Permohonan Nabi ﷺ
- Permohonan Pertama (Dikabulkan): Agar umatnya tidak dibinasakan dengan sannah (kekeringan/paceklik yang berkepanjangan). Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah bencana kelaparan yang melanda seluruh umat secara menyeluruh. Ini adalah rahmat besar, karena meskipun umat Islam pernah mengalami paceklik, namun tidak sampai membinasakan seluruh umat.
- Permohonan Kedua (Dikabulkan): Agar umatnya tidak dikuasai oleh musuh dari luar mereka. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa ini adalah kekuasaan musuh yang bersifat menyeluruh dan menghancurkan. Meskipun umat Islam pernah dikalahkan dalam beberapa peperangan, namun tidak pernah ada musuh yang berhasil menghancurkan dan melenyapkan umat Islam secara total.
- Permohonan Ketiga (Ditolak): Agar sebagian umat tidak merasakan ba's (keburukan/peperangan) dari sebagian yang lain. Permohonan ini ditolak oleh Allah. Ini adalah kabar yang sangat penting. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa penolakan ini adalah ketetapan Allah yang penuh hikmah. Umat Islam akan terus diuji dengan perselisihan dan peperangan di antara sesama mereka. Ini adalah ujian yang menunjukkan keimanan siapa yang sabar dan siapa yang tidak.
3. Pelajaran dari Penolakan Permohonan Ketiga
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa penolakan ini bukan berarti Nabi ﷺ tidak dicintai Allah, tetapi justru ini adalah ujian bagi umatnya. Allah ingin menguji kesabaran dan keimanan umat ini. Peperangan sesama muslim adalah musibah terbesar, dan ini telah terjadi sepanjang sejarah Islam, sejak masa Khulafaur Rasyidin (Perang Jamal dan Shiffin) hingga hari ini.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat QS. Asy-Syura [42]: 30 di atas adalah kunci untuk memahami mengapa umat Islam ditimpa musibah perpecahan. Ini adalah akibat dari dosa-dosa dan maksiat yang dilakukan umat itu sendiri.
4. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Makna "Ba's"
Sebagian ulama seperti Imam Al-Khathabi berpendapat bahwa yang dimaksud ba's di sini adalah peperangan yang melibatkan banyak korban dan kehancuran besar. Sedangkan sebagian ulama lain seperti Imam Al-Qadhi 'Iyadh berpendapat bahwa ini mencakup semua bentuk kezaliman, pembunuhan, dan permusuhan di antara sesama muslim. Pendapat kedua lebih umum dan lebih kuat, karena sesuai dengan kenyataan sejarah dan makna bahasa.
Story Telling
Ada kisah yang sangat menyentuh dari masa sahabat yang berkaitan dengan hadits ini. Ketika terjadi fitnah besar antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah radhiyallahu 'anhuma, sebagian sahabat bertanya kepada Abdullah bin Khabbab bin Al-Aratt — yang meriwayatkan hadits ini dari ayahnya — tentang kondisi umat saat itu. Beliau menangis dan berkata, "Demi Allah, inilah yang dikabarkan Rasulullah ﷺ. Beliau telah memperingatkan kita bahwa akan terjadi peperangan di antara sesama muslim. Kita harus berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah, dan menjauhi perpecahan."
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami betul bahwa hadits ini adalah peringatan nyata, bukan sekadar kabar biasa. Mereka menjadikannya sebagai pedoman untuk bersikap hati-hati dalam menghadapi fitnah.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukur atas dua rahmat besar: Kita harus bersyukur bahwa umat Islam tidak dibinasakan dengan paceklik total dan tidak dihancurkan oleh musuh dari luar secara menyeluruh. Ini adalah rahmat Allah yang agung.
- Waspada terhadap perpecahan: Ujian terbesar umat ini adalah perselisihan dan permusuhan di antara sesama muslim. Kita harus berusaha keras untuk menjaga persatuan, menjauhi perdebatan yang tidak bermanfaat, dan tidak mudah saling mengkafirkan atau memusuhi.
- Introspeksi diri: Musibah perpecahan adalah akibat dari dosa-dosa kita. Kita harus banyak beristighfar dan memperbaiki diri, karena perbaikan umat dimulai dari perbaikan individu.
- Meneladani Nabi ﷺ dalam berdoa: Nabi ﷺ memanfaatkan shalat untuk memohon kebaikan bagi umatnya. Kita pun harus banyak berdoa untuk kebaikan umat Islam secara umum, bukan hanya untuk diri sendiri.
- Bersabar menghadapi ujian: Ketika melihat perpecahan di tengah umat, kita tidak boleh putus asa. Kita harus bersabar, berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah, serta berusaha menjadi penengah yang baik.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.