Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2155 tentang Takdir telah ditulis Allah sebelum penciptaan langit dan bumi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil terpenting tentang wajibnya beriman kepada takdir (qadar), baik yang baik maupun yang buruk. Hadits ini mengajarkan bahwa takdir telah ditulis oleh Allah di Lauhul Mahfuzh (Ummul Kitab) sebelum penciptaan langit dan bumi, dan bahwa iman kepada takdir adalah syarat untuk bisa bertakwa dengan benar. Intinya, kita harus yakin sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi sudah diketahui dan ditulis oleh Allah sejak azali.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang disebut dalam hadits:

QS. Az-Zukhruf [43]: 1-4

<p>حمٓ ۝ وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ ۝ إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ۝ وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ</p>

"Ha Mim. Demi Kitab yang jelas. Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Qur'an dalam bahasa Arab agar kamu mengerti. Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu dalam Ummul Kitab (Lauhul Mahfuzh) di sisi Kami, benar-benar tinggi (nilainya) dan penuh hikmah."

QS. Al-Lahab [111]: 1

<p>تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ</p>

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia."

2. Hadits yang diriwayatkan:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya (no. 2155), dari Abdul-Wahid bin Sulaim, dari Atha' bin Abi Rabah, dari Al-Walid bin Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, dari ayahnya, dari Nabi ﷺ. Imam At-Tirmidzi mengatakan hadits ini gharib dari jalur ini.

3. Kaitan dengan ulama:

Hadits ini sangat relevan dengan penjelasan Imam Atha' bin Abi Rabah (ulama tabi'in yang masuk dalam daftar rujukan) tentang makna Ummul Kitab. Beliau menegaskan bahwa Ummul Kitab adalah kitab yang Allah tulis sebelum menciptakan langit dan bumi. Penjelasan ini juga diperkuat oleh para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim dalam kitab-kitab mereka tentang qadar.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Iman kepada Qadar adalah bagian dari takwa.

Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu memberikan wasiat kepada anaknya, Al-Walid, bahwa seseorang tidak akan bisa bertakwa kepada Allah dengan benar sampai ia beriman kepada takdir seluruhnya, baik dan buruknya. Ini menunjukkan bahwa iman kepada takdir bukan sekadar pelengkap, tetapi fondasi dari ketakwaan itu sendiri.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa iman kepada qadar mencakup empat tingkatan: (1) ilmu Allah yang azali, (2) penulisan takdir di Lauhul Mahfuzh, (3) kehendak Allah yang pasti terjadi, dan (4) penciptaan Allah atas segala sesuatu. Barangsiapa mengingkari salah satu tingkatan ini, maka imannya kepada takdir belum sempurna.

2. Takdir ditulis sebelum penciptaan langit dan bumi.

Dalam hadits ini, Atha' bin Abi Rabah menjelaskan bahwa Ummul Kitab adalah kitab yang Allah tulis sebelum menciptakan langit dan bumi. Di dalamnya sudah tercatat nasib setiap makhluk, termasuk Fir'aun yang termasuk penduduk neraka dan Abu Lahab yang akan binasa.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Syifa'ul 'Alil menjelaskan bahwa penulisan takdir ini menunjukkan kesempurnaan ilmu Allah dan kekuasaan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan Allah, dan semua yang terjadi di alam semesta ini sudah direncanakan dengan hikmah yang sempurna.

3. Pena adalah makhluk pertama yang diciptakan.

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ bersabda bahwa makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah Pena (Al-Qalam). Allah memerintahkan pena untuk menulis takdir segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat. Ini menunjukkan bahwa takdir sudah ditetapkan sejak awal penciptaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keagungan ilmu Allah. Sebelum menciptakan alam semesta, Allah sudah menuliskan segala sesuatu yang akan terjadi. Ini bukan berarti manusia dipaksa, karena Allah juga memberikan kehendak dan pilihan kepada manusia. Namun kehendak manusia tetap berada di bawah kehendak Allah.

4. Peringatan keras bagi yang mengingkari takdir.

Wasiat Ubadah bin Ash-Shamit kepada anaknya sangat tegas: "Jika kamu mati di atas selain keyakinan ini, kamu akan masuk neraka." Ini menunjukkan bahwa mengingkari takdir adalah keyakinan yang sangat berbahaya. Para ulama menjelaskan bahwa orang yang mengingkari takdir atau mencela takdir ketika mendapat musibah, maka ia telah keluar dari kesempurnaan iman.

Imam Atha' bin Abi Rabah sendiri ketika ditanya tentang orang-orang Bashrah yang memperbincangkan masalah qadar, beliau tidak langsung berdebat, tetapi mengajak bertanya balik tentang Al-Qur'an. Ini mengajarkan adab dalam berdialog: kembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah, bukan kepada perdebatan yang tidak bermanfaat.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu adalah salah seorang sahabat yang ikut dalam Bai'at Aqabah kedua dan termasuk ahli Badar. Beliau dikenal sebagai sahabat yang sangat teguh dalam masalah aqidah. Ketika menjelang wafatnya, beliau memanggil putranya, Al-Walid, dan memberikan wasiat yang sangat berharga ini.

Wasiat ini menunjukkan betapa besar perhatian para sahabat terhadap aqidah keturunan mereka. Mereka tidak mewariskan harta benda semata, tetapi yang lebih utama adalah mewariskan iman yang benar. Al-Walid bin Ubadah kemudian menyampaikan wasiat ini kepada Atha' bin Abi Rabah, dan dari Atha' inilah hadits ini tersebar ke generasi berikutnya.

Hikmah dari kisah ini: para ulama salaf sangat menjaga aqidah dan mewariskannya dengan penuh kasih sayang kepada anak-anak mereka. Mereka paham bahwa keselamatan di akhirat bergantung pada kebenaran aqidah, bukan pada banyaknya harta atau kedudukan.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib beriman kepada takdir secara menyeluruh, baik yang baik maupun yang buruk, karena ini bagian dari rukun iman.
  2. Yakinlah bahwa segala sesuatu sudah ditulis oleh Allah di Lauhul Mahfuzh sebelum penciptaan langit dan bumi.
  3. Ketika menghadapi musibah, jangan mencela takdir, tetapi bersabarlah dan yakini bahwa semua ada hikmahnya.
  4. Jangan sibuk berdebat tentang qadar yang tidak bermanfaat, tetapi pelajari dari Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan ulama.
  5. Ajarkan aqidah yang benar kepada keluarga, sebagaimana Ubadah bin Ash-Shamit mewasiatkan kepada anaknya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi