Penjelasan Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 2153
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa di antara umat Nabi ﷺ akan terjadi bencana besar (khosf, yaitu ditenggelamkan ke dalam bumi) dan perubahan bentuk (maskh), dan hal itu menimpa orang-orang yang mendustakan takdir (qadar). Ini menunjukkan betapa besarnya dosa mendustakan takdir, karena ia menyangkut keyakinan terhadap ilmu dan kehendak Allah yang sempurna.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Qamar [54]: 49
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir (ukuran yang telah ditetapkan)."
QS. Al-Hadid [57]: 22
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Terjemahan: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."
Hadits terkait:
Hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi no. 2153, Kitab al-Qadar. Sanadnya: Qutaibah → Rasyidin bin Sa'd → Abu Sakhr (Humayd bin Ziyad) → Nafi' → Ibnu Umar → Nabi ﷺ.
Hadits lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dalam Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang golongan yang mendustakan takdir akan mengalami kehinaan dan bencana.
Kaitan dengan ulama:
- Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits ini dalam kitab al-Qadar, menunjukkan bab khusus tentang penetapan takdir dan ancaman bagi pendustanya.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang khosf dan maskh bagi pendusta takdir menunjukkan besarnya bahaya penyimpangan dalam masalah qadar.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Syarh al-Qashidah an-Nuniyyah dan Madarij as-Salikin menegaskan bahwa mendustakan takdir adalah pintu masuk kekufuran dan penyimpangan akidah.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa beriman kepada takdir adalah bagian dari rukun iman yang enam.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara bahasa dan istilah:
- الْخَسْفُ (al-khosf): ditenggelamkan ke dalam bumi, sebagaimana yang terjadi pada Qarun dan kaum Nabi Luth.
- الْمَسْخُ (al-maskh): perubahan bentuk/rupa menjadi bentuk yang hina, sebagaimana yang terjadi pada Bani Israil yang melanggar larangan berburu di hari Sabtu.
- الْمُكَذِّبِينَ بِالْقَدَرِ: orang-orang yang mendustakan takdir, yaitu mereka yang mengingkari bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah sejak azali.
Pemahaman ulama tentang hadits ini:
Imam At-Tirmidzi memasukkan hadits ini dalam kitab al-Qadar, yang menunjukkan bahwa beliau memandangnya sebagai dalil kuat tentang kewajiban beriman kepada takdir dan ancaman berat bagi yang mengingkarinya.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits-hadits semacam ini termasuk hadits-hadits yang menunjukkan tanda-tanda kiamat dan hukuman duniawi bagi penyimpangan akidah. Beliau juga menjelaskan bahwa pendusta takdir terbagi dua golongan:
- Jabriyah: yang mengatakan manusia tidak punya pilihan sama sekali, sehingga mereka meniadakan hikmah dan keadilan Allah.
- Qadariyah: yang mengatakan manusia menciptakan perbuatannya sendiri tanpa ketetapan Allah, sehingga mereka meniadakan ilmu dan kehendak Allah yang mencakup segala sesuatu.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa beriman kepada takdir mencakup empat tingkatan:
- Ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu.
- Penulisan segala sesuatu di Lauh Mahfuzh.
- Kehendak Allah yang pasti terjadi.
- Penciptaan Allah atas segala sesuatu, termasuk perbuatan hamba.
Barangsiapa mengingkari salah satu dari empat tingkatan ini, maka ia termasuk pendusta takdir yang diancam dalam hadits ini.
Syaikh as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menegaskan bahwa ayat "إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ" adalah dalil bahwa takdir adalah ketetapan Allah yang sempurna, dan beriman kepadanya adalah kewajiban setiap muslim.
Perbedaan pendapat ulama:
Sebagian ulama memahami khosf dan maskh dalam hadits ini secara hakiki (benar-benar terjadi secara fisik), sebagaimana yang dipahami Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir. Sebagian lain memahami secara majazi (kiasan), yaitu kehancuran dan perubahan keadaan. Namun yang paling kuat menurut dalil adalah pemahaman hakiki, karena hadits-hadits lain tentang khosf dan maskh juga dipahami secara hakiki, dan ini sesuai dengan keumuman ancaman bagi pendusta takdir.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma — perawi hadits ini — adalah seorang sahabat yang sangat kuat dalam mengikuti sunnah dan sangat waspada terhadap penyimpangan akidah. Beliau pernah berkata tentang kaum Qadariyah:
"Jika kalian bertemu mereka, maka kabarkanlah bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka berlepas diri dariku."
(Disebutkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya)
Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat keras dalam menolak penyimpangan dalam masalah takdir, karena masalah ini menyangkut keimanan kepada Allah secara langsung.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang orang yang mendustakan takdir, maka beliau menjawab dengan tegas bahwa mereka adalah kaum yang sesat dan harus dijauhi. Beliau juga menyatakan bahwa beriman kepada takdir adalah bagian dari pokok agama.
Sufyan ats-Tsauri berkata: "Tidaklah aku menghadapi suatu kaum yang lebih aku benci daripada kaum Qadariyah, karena mereka ingin menghapus ilmu Allah."
Kesimpulan Praktis
- Wajib beriman kepada takdir sebagai bagian dari rukun iman yang enam, mencakup ilmu Allah, penulisan, kehendak, dan penciptaan-Nya.
- Mendustakan takdir adalah dosa besar yang diancam dengan hukuman berat di dunia dan akhirat.
- Hindari dua ekstrem: Jabriyah (meniadakan usaha manusia) dan Qadariyah (meniadakan kehendak Allah).
- Pelajari akidah takdir dari kitab-kitab ulama Ahlus Sunnah seperti Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, Madarij as-Salikin, dan Fathul Bari.
- Berhati-hatilah terhadap pemikiran yang meragukan takdir, karena itu pintu masuk kekufuran.
- Berdoalah agar Allah menetapkan hati kita di atas akidah yang benar dan menjauhkan kita dari penyimpangan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.