Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2136 tentang Takdir telah ditentukan, manusia tetap harus beramal

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang iman kepada takdir, bahwa Allah ﷻ telah menuliskan tempat akhir setiap hamba, baik di surga maupun neraka. Namun, ini bukan alasan untuk bermalas-malasan. Justru, Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk tetap beramal dan bekerja keras, karena setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan amalan yang sesuai dengan takdirnya. Hadits ini menyeimbangkan antara iman kepada takdir dan ikhtiar (usaha) dalam beramal.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, nomor 2136, dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang serupa.

Dalil dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

> وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

"Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya." (QS. Asy-Syams [91]: 7-8)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah memberikan potensi dan petunjuk kepada setiap jiwa untuk memilih jalan kebaikan atau keburukan, yang sejalan dengan makna hadits bahwa setiap orang dimudahkan untuk apa yang diciptakan untuknya.

Hadits terkait:

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

> مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ قَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ

"Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan telah ditulis tempat duduknya di neraka dan tempat duduknya di surga." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal (yang merupakan imam dalam akidah Ahlus Sunnah), memahami hadits ini sebagai penetapan takdir yang telah Allah tulis. Mereka menegaskan bahwa takdir adalah rahasia Allah yang wajib kita imani, namun tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan amal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa iman kepada takdir tidak bertentangan dengan perintah untuk beramal, karena Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berusaha dan berdoa, dan Allah telah menetapkan sebab-sebab yang mengantarkan pada hasil.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki makna yang sangat dalam tentang hubungan antara takdir dan usaha manusia. Mari kita bedah satu per satu:

  1. "Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan telah ditulis tempat duduknya di neraka dan tempat duduknya di surga."

Ini adalah penetapan takdir yang bersifat azali (sejak zaman azali, sebelum penciptaan). Allah ﷻ telah menuliskan di Lauhul Mahfuzh tentang nasib akhir setiap manusia. Ini adalah bagian dari rukun iman kepada Qada dan Qadar. Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab shahihnya untuk menegaskan bahwa takdir telah ditetapkan. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "telah ditulis" di sini adalah catatan takdir yang telah Allah tetapkan berdasarkan ilmu-Nya yang azali.

  1. "Apakah kita tidak boleh bergantung kepada ini, wahai Rasulullah?"

Pertanyaan para sahabat ini menunjukkan pemahaman mereka yang mendalam. Mereka khawatir jika takdir sudah ditentukan, maka amal ibadah menjadi sia-sia. Ini adalah pertanyaan yang sangat logis dan sering muncul di benak manusia. Para sahabat tidak langsung menerima begitu saja, tetapi mereka bertanya untuk mendapatkan kejelasan.

  1. "Tidak. Bekerjalah, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang diciptakannya."

Ini adalah jawaban kunci dari Nabi ﷺ. Beliau melarang umatnya untuk berpasrah diri (tawakkal yang salah) dan memerintahkan untuk beramal. Frasa "setiap orang dimudahkan untuk apa yang diciptakannya" memiliki dua makna yang saling melengkapi:

  • Makna Pertama: Allah memberikan kemudahan kepada setiap hamba untuk melakukan amalan yang sesuai dengan takdirnya. Orang yang ditakdirkan bahagia akan dimudahkan untuk beramal saleh, dan orang yang ditakdirkan sengsara akan dimudahkan untuk beramal buruk. Ini adalah sunnatullah (hukum alam) yang berlaku.
  • Makna Kedua: Ini adalah dorongan untuk beramal. Karena kita tidak tahu takdir kita, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin. Dan Allah akan memudahkan jalan kita sesuai dengan usaha kita.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa takdir tidak menghalangi perintah dan larangan. Beliau berkata, "Takdir adalah rahasia Allah, dan hamba tidak diperintahkan untuk mengetahuinya, tetapi diperintahkan untuk beramal. Barangsiapa yang beramal saleh, maka itu adalah tanda kebahagiaan, dan barangsiapa yang beramal buruk, maka itu adalah tanda kesengsaraan."

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Syifa' Al-'Alil menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa amal adalah bukti dari takdir. Takdir yang baik akan melahirkan amal yang baik, dan takdir yang buruk akan melahirkan amal yang buruk. Beliau juga menegaskan bahwa hikmah Allah menutup takdir dari hamba-Nya adalah agar mereka beramal dengan sungguh-sungguh, bukan berpangku tangan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung bantahan terhadap dua kelompok sesat:

  • Kelompok Jabriyyah: Yang mengatakan manusia tidak punya usaha sama sekali dan hanya pasrah pada takdir. Hadits ini membantah mereka dengan perintah "Bekerjalah."
  • Kelompok Qadariyyah: Yang mengatakan manusia sepenuhnya menentukan takdirnya sendiri tanpa campur tangan Allah. Hadits ini membantah mereka dengan pernyataan "telah ditulis tempat duduknya."

Story Telling

Ada kisah yang sangat masyhur tentang pemahaman para sahabat terhadap takdir ini. Suatu ketika, Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu menolak untuk memasuki wilayah Syam yang sedang dilanda wabah penyakit tha'un (wabah). Sebagian sahabat bertanya, "Apakah engkau lari dari takdir Allah, wahai Umar?" Beliau menjawab dengan bijak, "Kami lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain."

Jawaban Umar ini menunjukkan pemahaman yang sangat dalam. Takdir Allah tidak bisa dipahami secara fatalistik (pasrah tanpa usaha). Justru, berlindung dari bahaya adalah bagian dari takdir Allah juga. Ini sejalan dengan perintah Nabi ﷺ dalam hadits kita, "Bekerjalah." Kita diperintahkan untuk mengambil sebab-sebab yang diperbolehkan, karena itu adalah bagian dari takdir yang telah Allah tetapkan.

Kisah lain datang dari Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau ditanya tentang takdir, lalu beliau menjawab, "Takdir adalah kekuasaan Allah yang tidak bisa ditembus oleh akal manusia. Kita wajib mengimaninya, dan kita tetap diperintahkan untuk beramal." Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat menjaga keseimbangan antara iman kepada takdir dan kewajiban beramal.

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Iman kepada takdir adalah wajib. Kita harus meyakini bahwa Allah telah menuliskan takdir setiap makhluk, termasuk tempat akhir kita di surga atau neraka.
  2. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Karena kita tidak tahu takdir kita, maka kita harus selalu berbaik sangka kepada Allah dan terus beramal saleh.
  3. Jadikan takdir sebagai motivasi, bukan penghalang. Takdir yang telah ditulis seharusnya memacu kita untuk beramal lebih giat, bukan membuat kita malas.
  4. Amal adalah bukti takdir. Orang yang dimudahkan beramal saleh adalah tanda kebahagiaan, dan orang yang dimudahkan beramal buruk adalah tanda kesengsaraan. Maka perhatikanlah keadaan hati dan amal kita.
  5. Seimbangkan antara ikhtiar dan tawakkal. Kita harus berusaha semaksimal mungkin, lalu berserah diri kepada Allah atas hasilnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?