Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2134 tentang Debat Adam dan Musa tentang takdir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan perdebatan antara Nabi Adam dan Nabi Musa 'alaihimas salam. Nabi Musa menegur Adam karena dianggap menjadi sebab manusia dikeluarkan dari surga. Namun, Nabi Adam membantah dengan dalih bahwa perbuatan itu sudah ditakdirkan Allah sebelum penciptaan langit dan bumi, sehingga Adam "menang" dalam perdebatan tersebut. Hadits ini mengajarkan kita tentang hakikat iman kepada takdir, sekaligus menjelaskan bahwa taubat Nabi Adam adalah taubat yang diterima, dan perdebatan ini adalah perdebatan yang penuh adab untuk menetapkan hujjah, bukan untuk saling menyalahkan tanpa ilmu.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an (tentang taubat Adam):

QS. Al-Baqarah [2]: 37

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

2. Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2652) dan Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3409) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam at-Tirmidzi meriwayatkannya dalam Sunan-nya (no. 2134) dan menghukuminya hasan shahih gharib dari jalur Sulaiman at-Taimi dari al-A'masy.

3. Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (Kitab Ahaditsil Anbiya') menjelaskan makna hadits ini secara panjang lebar. Beliau menukil perkataan para ulama tentang maksud "Adam membantah Musa" dan bagaimana para ulama memahaminya. Imam an-Nawawi juga menjelaskan hadits ini dalam Syarah Shahih Muslim (16/215-216) dengan sangat rinci.

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan sangat hati-hati, karena ada beberapa hal yang perlu diluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Pertama: Siapa yang benar dalam perdebatan ini?

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud "Adam membantah Musa" adalah Adam menetapkan hujjah atas Musa, bukan berarti Adam lebih mulia atau lebih utama. Keduanya adalah nabi yang mulia. Yang terjadi adalah perdebatan untuk menjelaskan kebenaran, bukan permusuhan.

Kedua: Apakah Adam berdalih dengan takdir untuk membenarkan dosanya?

Tidak. Ini poin yang sangat penting. Para ulama menjelaskan bahwa Nabi Adam tidak sedang membenarkan dosanya dengan alasan takdir. Beliau sudah bertaubat dan Allah menerima taubatnya. Yang beliau lakukan adalah mengingatkan Musa bahwa perbuatan itu sudah terjadi dan sudah diampuni, dan bahwa Allah telah menetapkan takdir tersebut.

Imam Ibnul Qayyim dalam Syifa'ul 'Alil menjelaskan bahwa Adam tidak berdalih dengan takdir untuk membenarkan dosa, tetapi beliau menjelaskan bahwa setelah bertaubat, tidak ada lagi celaan yang pantas ditujukan kepadanya. Karena Allah sudah mengampuninya.

Ketiga: Apa hikmah perdebatan ini?

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan bahwa seorang hamba tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Nabi Adam melakukan kesalahan, lalu bertaubat, dan Allah mengampuninya. Maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mencela beliau setelah taubatnya diterima.

Keempat: Tentang takdir dan usaha

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menukil dari Imam al-Khattabi bahwa hadits ini tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk meninggalkan perintah Allah dengan alasan takdir. Karena takdir adalah rahasia Allah yang tidak diketahui hamba sebelum terjadi. Setelah terjadi, barulah diketahui bahwa itu takdir. Maka tidak boleh seseorang meninggalkan kewajiban dengan alasan "sudah ditakdirkan".

Kelima: Kedudukan hadits ini

Imam at-Tirmidzi menghukumi hadits ini hasan shahih gharib. Imam al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkannya. Ini menunjukkan hadits ini shahih dan diterima oleh para ulama hadits.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika hadits ini sampai kepada sebagian ulama salaf, mereka sangat berhati-hati dalam memahaminya. Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang hadits ini, beliau menjawab: "Kami beriman kepada hadits ini dan membenarkannya, namun kami tidak mengetahui hakikatnya secara terperinci. Kami tidak menolaknya dan tidak menambah-nambahinya."

Ini adalah adab para ulama salaf: mereka menerima hadits shahih, tidak menolaknya, dan tidak memaksakan pemahaman yang keliru. Mereka menyerahkan hakikatnya kepada Allah dan Rasul-Nya, sambil mengambil pelajaran yang bisa dipahami.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada takdir adalah bagian dari rukun iman. Kita wajib mengimani bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah, baik yang baik maupun yang buruk.
  2. Taubat menghapus dosa. Nabi Adam bertaubat dan Allah mengampuninya. Maka jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
  3. Takdir bukan alasan untuk bermaksiat. Kita tidak boleh meninggalkan perintah Allah dengan alasan "sudah ditakdirkan". Karena kita tidak tahu takdir sebelum terjadi.
  4. Adab dalam berdebat. Perdebatan Nabi Adam dan Musa adalah perdebatan yang penuh hikmah, bukan untuk saling menjatuhkan. Kita harus menjaga adab ketika berbeda pendapat.
  5. Jangan mencela orang yang sudah bertaubat. Jika seseorang sudah bertaubat dengan tulus, maka tidak pantas kita mencela masa lalunya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?