Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2027 tentang Malu dan lemah bicara bagian iman, dusta dan banyak bicara bagian kemunafikan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa rasa malu (al-hayâ') dan sedikit bicara yang terkontrol (al-'iy) adalah dua cabang keimanan, sedangkan ucapan kotor (al-badzâ') dan banyak bicara yang berlebihan (al-bayân) adalah dua cabang kemunafikan. Imam at-Tirmidzi menjelaskan bahwa al-'iy adalah sedikit bicara, al-badzâ' adalah ucapan keji, dan al-bayân di sini adalah banyak bicara seperti para khatib yang memperpanjang pidato untuk memuji manusia dengan pujian yang tidak diridhai Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Jâmi' at-Tirmidzi, Kitab al-Birr wa ash-Shilah, Bab Mâ Jâ'a fî al-'Iy, no. 2027, dari Abu Umamah al-Bâhilî radhiyallahu 'anhu. Imam at-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan gharîb, kami hanya mengetahuinya dari hadits Abu Ghassân Muhammad bin Mutharrif."

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema ini:

QS. Al-Ahzab [33]: 70

وَيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (tepat)."

QS. Al-Hujurat [49]: 11 (potongan yang relevan)

وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ

Terjemahan: "Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman."

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini melarang ucapan kotor dan keji, serta memerintahkan menjaga lisan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim menegaskan bahwa menjaga lisan adalah bagian dari iman, dan bahwa banyak bicara tanpa manfaat dapat mengeraskan hati.

Penjelasan Rinci

Makna al-hayâ' (rasa malu):

Al-hayâ' adalah sifat yang mendorong seseorang meninggalkan perbuatan buruk karena merasa malu kepada Allah dan kepada manusia. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jâmi' al-'Ulûm wa al-Hikam menjelaskan bahwa al-hayâ' adalah cabang iman yang paling utama, karena ia mencegah seseorang dari kemaksiatan. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa al-hayâ' adalah sifat yang mengantarkan seseorang kepada kebaikan dan menjauhkannya dari keburukan.

Makna al-'iy (sedikit bicara yang terkontrol):

Imam at-Tirmidzi menjelaskan bahwa al-'iy adalah qillatu al-kalâm (sedikit bicara). Ini bukan berarti bisu atau tidak mampu bicara, melainkan menahan diri dari banyak bicara yang tidak bermanfaat. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata bahwa orang yang banyak bicara biasanya banyak salahnya. Ibnul Qayyim dalam Madârij as-Sâlikîn menjelaskan bahwa lisan adalah anggota tubuh yang paling banyak menjerumuskan manusia, sehingga menahan diri dari bicara yang tidak perlu adalah bagian dari iman.

Makna al-badzâ' (ucapan kotor/keji):

Al-badzâ' adalah al-fuhsy fî al-kalâm (ucapan yang keji dan kotor). Ini termasuk dosa besar karena melanggar adab Islam. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang suka berkata kotor, beliau menjawab bahwa itu adalah sifat yang tercela dan bertentangan dengan sunnah Nabi ﷺ. Nabi ﷺ sendiri bersabda dalam hadits lain yang shahih: "Tidaklah seorang mukmin itu pencela, pelaknat, atau suka berkata kotor." (HR. at-Tirmidzi)

Makna al-bayân (banyak bicara yang berlebihan):

Imam at-Tirmidzi menjelaskan bahwa al-bayân di sini adalah katsratu al-kalâm (banyak bicara), seperti para khatib yang memperpanjang pidato dan memperindah ucapan untuk memuji manusia dengan pujian yang tidak diridhai Allah. Ini adalah bentuk kemunafikan karena tujuannya bukan mencari ridha Allah, melainkan mencari pujian dan popularitas. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bârî menyebutkan bahwa banyak bicara yang tidak bermanfaat dapat mengeraskan hati dan menjauhkan seseorang dari keikhlasan.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama memahami al-'iy sebagai kekurangan dalam berbicara yang bersifat bawaan, namun Imam at-Tirmidzi dan jumhur ulama memahaminya sebagai sedikit bicara yang disengaja untuk menjaga lisan. Yang paling kuat adalah pendapat Imam at-Tirmidzi, karena beliau adalah perawi hadits ini dan lebih mengetahui konteksnya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Al-Hasan al-Bashri rahimahullah dan bertanya, "Wahai Imam, aku ingin belajar banyak ilmu." Al-Hasan menjawab, "Kalau begitu, belajarlah diam terlebih dahulu." Orang itu bertanya, "Bagaimana caranya?" Al-Hasan berkata, "Jangan bicara kecuali yang bermanfaat, dan tahanlah lisanmu dari ucapan kotor. Sesungguhnya diam yang disertai iman lebih baik daripada bicara yang disertai kemunafikan." (Kisah ini disebutkan dalam Az-Zuhd karya Imam Ahmad dan Hilyah al-Auliyâ')

Hikmahnya: Menjaga lisan adalah tanda keimanan yang kuat, sedangkan banyak bicara tanpa manfaat adalah tanda kemunafikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jagalah rasa malu (al-hayâ') dalam setiap keadaan, karena ia adalah cabang iman yang paling utama.
  2. Sedikitlah bicara kecuali yang bermanfaat, dan hindari banyak bicara yang tidak perlu.
  3. Jauhilah ucapan kotor dan keji (al-badzâ'), karena itu adalah cabang kemunafikan.
  4. Jangan memperpanjang pidato atau ucapan hanya untuk memuji manusia atau mencari popularitas.
  5. Muhasabah lisan setiap hari: berapa banyak ucapan kita yang bermanfaat dan berapa banyak yang sia-sia?

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?