Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang dua momen agung dalam sepekan, yaitu hari Senin dan Kamis, ketika pintu-pintu surga dibuka dan dosa-dosa hamba yang tidak berbuat syirik diampuni. Namun, ada satu golongan yang terhalang dari ampunan tersebut, yaitu dua orang Muslim yang sedang saling memutuskan hubungan (bermusuhan) dan tidak mau berdamai. Malaikat diperintahkan untuk menunda pengampunan bagi mereka hingga keduanya berdamai. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa memutus silaturahmi dan betapa Allah sangat mencintai persatuan dan kerukunan di antara kaum Muslimin.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:
Teks hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dengan sanad dan matan. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2565) dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat [49]: 10)
Kaitan dengan Ulama:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kewajiban untuk mendamaikan dua orang yang berselisih, karena mereka adalah saudara seiman. Memutuskan hubungan persaudaraan adalah perbuatan yang sangat tercela dan menghalangi datangnya rahmat Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
- Keutamaan Hari Senin dan Kamis: Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan hari Senin dan Kamis. Pada dua hari ini, amalan-amalan hamba diangkat dan diperlihatkan kepada Allah. Ini adalah momen istimewa untuk memperbanyak amal shalih dan beristighfar.
- Syarat Mendapat Ampunan: Ampunan pada hari itu diberikan kepada orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun. Ini menegaskan bahwa ampunan dosa-dosa kecil sangat terkait dengan kemurnian tauhid. Dosa syirik adalah dosa yang tidak diampuni jika pelakunya mati dalam keadaan tersebut, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa' [4]: 48.
- Larangan Memutus Silaturahmi (Al-Hijr): Kata al-muhtajirayn (المهتجرين) artinya dua orang yang saling memutuskan hubungan dan menjauhi satu sama lain. Imam At-Tirmidzi sendiri menjelaskan bahwa maknanya adalah al-mutasharimain (المتصارمين), yaitu dua orang yang saling bermusuhan. Ini diperkuat dengan hadits lain yang beliau sebutkan: "Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
- Hukuman yang Menghalangi Ampunan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa meskipun orang yang berseteru itu bukan pelaku syirik, namun karena dosa memutus silaturahmi sangat besar, Allah memerintahkan malaikat untuk menunda pengampunan bagi mereka. Ini adalah bentuk hukuman di dunia dan peringatan keras agar segera berdamai. Dosa ini lebih berat daripada dosa-dosa kecil lainnya, sehingga menghalangi ampunan yang turun pada hari Senin dan Kamis.
- Perintah untuk Segera Berdamai: Hadits ini secara tidak langsung memerintahkan kaum Muslimin untuk segera menyelesaikan perselisihan. Jika ada dua orang yang bertengkar, maka menjadi kewajiban bagi yang lain untuk mendamaikan mereka, sebagaimana perintah dalam QS. Al-Hujurat [49]: 10. Dan bagi kedua orang yang bertengkar, dianjurkan untuk saling mendahului mengucapkan salam dan berdamai, karena ini adalah perbuatan yang paling utama.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ
"Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya bertemu, lalu yang satu berpaling dan yang lain berpaling. Dan sebaik-baik keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mengajarkan kepada kita sebuah adab yang mulia. Jika terjadi perselisihan, maka orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang berani melangkah lebih dulu untuk berdamai, meskipun dia merasa benar. Karena menjaga ukhuwah Islamiyah jauh lebih utama daripada memenangkan ego pribadi. Kisah ini mengingatkan kita pada kisah para sahabat yang selalu mengutamakan persatuan di atas segalanya.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak amal shalih di hari Senin dan Kamis, karena pada hari itu pintu surga dibuka dan ampunan Allah turun.
- Jaga kemurnian tauhid, karena itu adalah syarat utama untuk mendapatkan ampunan Allah.
- Jangan pernah memutuskan silaturahmi lebih dari tiga hari. Jika sudah terlanjur, maka segeralah berdamai.
- Jadilah orang yang memulai perdamaian, karena itulah sifat orang yang paling baik di antara dua orang yang berseteru.
- Bantu damaikan orang lain yang sedang berselisih, karena itu adalah perintah Allah dan akan mendatangkan rahmat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.