Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 2007 tentang Jangan ikuti keburukan, tetaplah berbuat baik

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini melarang kita menjadi "imma'ah" yaitu orang yang tidak punya pendirian, hanya ikut-ikutan orang lain. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita memiliki prinsip yang tetap: berbuat baik kepada siapa pun, dan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Ini adalah akhlak mulia yang dicontohkan para nabi dan salafus shalih.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

  • Perawi: Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu
  • Kitab: Jami' At-Tirmidzi, no. 2007
  • Status: Hasan Gharib menurut Imam At-Tirmidzi

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

QS. Fussilat [41]: 34

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

"Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia."

Penjelasan Ulama:

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mengandung larangan menjadi orang yang tidak memiliki prinsip dalam kebaikan. Beliau berkata: "Al-imma'ah adalah orang yang tidak memiliki pendirian, ia mengikuti setiap orang yang bersuara." (Syarh Hadits no. 28)

Imam Ibn Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (13/42) menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah: "Janganlah kalian menjadi orang yang tidak punya pendirian, yang berkata: 'Jika orang baik, kami baik; jika orang jahat, kami jahat.' Tetapi tetapiah berbuat baik, dan jangan berbuat zalim meskipun orang lain berbuat zalim."

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengajarkan tentang istiqamah dalam akhlak mulia. Kata "imma'ah" (إِمَّعَةً) berasal dari kata "amma" yang berarti mengikuti. Dalam bahasa Arab, "imma'ah" adalah orang yang tidak punya pendirian, selalu mengikuti orang lain tanpa pertimbangan.

Rasulullah ﷺ melarang sikap ini karena beberapa alasan:

  1. Menghilangkan kepribadian muslim - Seorang muslim harus memiliki prinsip yang jelas berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, bukan sekadar ikut-ikutan.
  2. Kebaikan harus karena Allah - Berbuat baik bukan karena orang lain baik kepada kita, tetapi karena Allah memerintahkan kebaikan. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: "Pokok agama ada pada tiga hadits: (1) 'Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya', (2) 'Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya maka tertolak', (3) 'Janganlah kalian menjadi imma'ah'." (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah)
  3. Mencegah pembalasan dendam - Jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan, kita jatuh ke dalam dosa yang sama. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Madarij as-Salikin (2/326) menjelaskan bahwa akhlak mulia adalah memaafkan dan berbuat baik, sebagaimana Allah memerintahkan.

Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik akhlak adalah yang paling sesuai dengan sunnah." (Diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi dalam Manaqib asy-Syafi'i)

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa suatu ketika ia melihat seorang penggembala kambing. Ia berkata: "Wahai penggembala, juallah kambingmu kepadaku." Penggembala itu menjawab: "Kambing ini bukan milikku, tetapi milik tuanku." Abdullah bin Umar berkata: "Katakan saja kepada tuanmu bahwa kambing itu mati." Penggembala itu menjawab: "Demi Allah, aku tidak akan melakukannya." Maka Abdullah bin Umar berkata: "Inilah akhlak yang baik. Engkau tidak mau berbuat zalim meskipun ada kesempatan." (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatha' dengan sanad yang shahih)

Kisah ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus memiliki prinsip yang kokoh dalam kejujuran dan keadilan, meskipun ada peluang untuk berbuat curang.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadilah muslim yang berprinsip - Tetapkan niat dan tujuan hidup berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, bukan ikut-ikutan orang lain.
  2. Berbuat baik karena Allah - Jangan hanya berbuat baik ketika diperlakukan baik, tetapi berbuat baiklah karena Allah memerintahkannya.
  3. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan - Jika dizalimi, jangan membalas dengan kezaliman. Sabar dan maafkan, atau ambil hak dengan cara yang benar tanpa melampaui batas.
  4. Latih diri untuk istiqamah - Biasakan diri untuk selalu berbuat baik meskipun orang lain berbuat jahat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Biasakanlah diri kalian..."

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.