Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1979 tentang Perintah mempelajari nasab untuk mempererat silaturahmi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah anjuran dari Nabi ﷺ untuk mempelajari silsilah atau garis keturunan (nasab) kita, tetapi dengan tujuan yang sangat mulia: agar kita bisa menjalin dan menjaga silaturahmi dengan kerabat. Hadits ini juga menyebutkan keutamaan silaturahmi, yaitu menumbuhkan kasih sayang, melapangkan rezeki, dan memberikan keberkahan umur. Ini bukan perintah untuk berbangga diri dengan nasab, melainkan untuk mempererat tali persaudaraan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Kebaikan dan Silaturahmi, Bab Apa yang Dikatakan tentang Belajar Nasab, nomor 1979. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini gharib (asing) dari jalur periwayatan ini.

Teks Hadits (sebagaimana Anda tuliskan):

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عِيسَى الثَّقَفِيِّ، عَنْ يَزِيدَ، مَوْلَى الْمُنْبَعِثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: " تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِي الأَثَرِ "

Terjemahan: "Pelajarilah oleh kalian nasab-nasab kalian yang dengannya kalian bisa menyambung tali silaturahmi. Karena sesungguhnya silaturahmi itu menumbuhkan kasih sayang di keluarga, memperbanyak harta, dan mengundurkan ajal (memperpanjang umur)."

Catatan Penting: Hadits ini dinilai dha'if (lemah) oleh sebagian ulama hadits karena dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Abdul Malik bin Isa Ats-Tsaqafi yang dinilai majhul (tidak dikenal) oleh sebagian ulama. Namun, makna hadits ini sangat didukung oleh banyak hadits shahih lainnya tentang keutamaan silaturahmi.

Dalil Penguat dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. An-Nisa' [4]: 1:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Terjemahan: "Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa); dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

Dalil Penguat dari Hadits Shahih:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Al-Bukhari no. 2067 dan Muslim no. 2557)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua pelajaran utama:

1. Anjuran Mempelajari Nasab dengan Tujuan yang Benar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam syarahnya menjelaskan bahwa mempelajari nasab bukanlah tujuan akhir, melainkan wasilah (perantara). Tujuannya adalah untuk mengetahui siapa saja kerabat kita yang memiliki hak untuk disambung silaturahmi. Ini berbeda dengan kebiasaan orang-orang Jahiliyah yang mempelajari nasab untuk berbangga diri dan merendahkan orang lain.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa silaturahmi yang diperintahkan adalah kepada kerabat dekat maupun jauh yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Mengetahui nasab membantu kita untuk tidak lalai terhadap hak-hak mereka.

2. Keutamaan Silaturahmi

Hadits ini menyebutkan tiga keutamaan silaturahmi:

  • Mahabbah fil ahli (kasih sayang di tengah keluarga): Silaturahmi menumbuhkan rasa cinta dan kehangatan. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi (meski tidak dalam daftar, maknanya sejalan dengan ulama lain) bahwa interaksi yang baik antar kerabat akan melahirkan kasih sayang.
  • Matsraatun fil maal (bertambahnya harta): Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa silaturahmi adalah sebab datangnya keberkahan rezeki. Ini bisa melalui bantuan ekonomi antar kerabat, atau melalui keberkahan yang Allah berikan karena ketaatan ini.
  • Mansa'atun fil atsar (panjang umur): Imam At-Tirmidzi sendiri menjelaskan dalam riwayat ini bahwa maknanya adalah ziyadatun fil 'umur (bertambahnya umur). Para ulama menjelaskan bahwa ini bisa bermakna:
  • Umur yang diberkahi sehingga waktunya bermanfaat untuk kebaikan
  • Dicatat di Lauhul Mahfuzh sebagai orang yang panjang umur karena sebab silaturahmi
  • Namanya dikenang baik setelah meninggal (pahala yang terus mengalir)

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan bahwa sebab-sebab rezeki dan umur itu ada yang bersifat qadari (takdir yang digantungkan pada sebab). Silaturahmi adalah salah satu sebab yang Allah tetapkan untuk menambah rezeki dan umur seseorang.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ash-Shahihah menyebutkan bahwa meskipun sanad hadits ini dha'if, namun kandungan maknanya shahih karena didukung oleh hadits-hadits lain yang shahih.

Story Telling

Dahulu, ada seorang sahabat yang bernama Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu 'anhu. Beliau memiliki hubungan kekerabatan dengan seorang pamannya yang tinggal di luar Madinah. Setiap kali beliau bepergian untuk berdagang atau berperang, beliau selalu menyempatkan diri untuk singgah dan mengunjungi pamannya tersebut.

Suatu ketika, para sahabat bertanya kepadanya, "Wahai Abu Ayyub, mengapa engkau selalu menyempatkan diri mengunjungi pamannya padahal jaraknya jauh?"

Abu Ayyub menjawab dengan bijak, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.' Maka aku tidak ingin meninggalkan amalan yang mulia ini."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat sangat bersemangat dalam menjaga silaturahmi karena mereka memahami janji Rasulullah ﷺ tentang keutamaannya. Mereka tidak menjadikan jarak dan kesibukan sebagai alasan untuk memutuskan tali kekerabatan.

Kesimpulan Praktis

  1. Pelajari nasab kita setidaknya sampai batas di mana kita masih bisa mengenali kerabat yang memiliki hak silaturahmi. Ini bukan untuk berbangga diri, tetapi untuk menunaikan kewajiban.
  2. Jalin silaturahmi dengan kerabat baik yang dekat maupun jauh, baik yang kaya maupun miskin, baik yang shalih maupun yang masih jauh dari agama. Silaturahmi adalah sarana dakwah yang efektif.
  3. Yakini janji Allah bahwa silaturahmi akan mendatangkan kasih sayang, keberkahan rezeki, dan keberkahan umur. Jangan ragu untuk berkorban demi menjaganya.
  4. Jadikan silaturahmi sebagai sarana berbagi, bukan hanya sekadar bertemu dan berbincang. Bantulah kerabat yang membutuhkan, baik dengan harta, tenaga, maupun doa.
  5. Hindari memutus silaturahmi karena ini adalah dosa besar yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai perbuatan yang dilaknat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi