Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan secara jelas tata cara adzan yang dicontohkan oleh Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu di hadapan Nabi ﷺ. Di antara amalan yang disebutkan adalah memasukkan kedua jari telunjuk ke dalam telinga saat adzan dan menolehkan wajah (ke kanan dan ke kiri) saat mengucapkan lafaz adzan. Para ulama menganjurkan amalan ini karena merupakan perbuatan yang disaksikan langsung oleh Nabi ﷺ dan beliau tidak melarangnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi (No. 197)
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu 'Isa At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, dari sahabat Abu Juhaifah Wahb bin Abdullah As-Suwa'i radhiyallahu 'anhu. Beliau berkata:
> "Saya melihat Bilal mengumandangkan adzan, ia berputar dan mengikuti (arah) mulutnya ke sana ke mari, sedang kedua jarinya berada di kedua telinganya, dan Rasulullah ﷺ berada di dalam kubah (tenda) merah miliknya..."
Imam At-Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini berkata: "Hadits Abu Juhaifah adalah hadits hasan shahih. Dan menjadi amalan para ulama; mereka menganjurkan agar muadzin memasukkan kedua jarinya ke kedua telinganya ketika adzan. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu juga dilakukan pada iqamah, dan ini adalah pendapat Al-Auza'i."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, 'Sungguh, aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'" (QS. Fushshilat [41]: 33)
Ayat ini menunjukkan keutamaan orang yang menyeru kepada Allah, dan muadzin adalah bagian dari penyeru tersebut.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah dari hadits ini:
1. Disunnahkan Memasukkan Jari ke Telinga Saat Adzan
Imam At-Tirmidzi menegaskan bahwa amalan ini menjadi pegangan para ulama. Mereka menganjurkan muadzin memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam kedua telinganya. Hal ini bertujuan agar suara adzan lebih lantang dan jelas, serta membantu muadzin untuk mengeraskan suaranya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hikmah memasukkan jari ke telinga adalah untuk membantu muadzin mengeraskan suaranya, karena lubang telinga yang tertutup akan membuat suara sendiri terdengar lebih jelas, sehingga muadzin bisa mengatur volume suaranya agar tetap nyaring.
2. Menoleh ke Kanan dan ke Kiri Saat Hayya 'alash Shalah
Dalam hadits ini disebutkan bahwa Bilal berputar dan mengikuti arah mulutnya ke sana ke mari. Ini menunjukkan bahwa beliau menoleh ke kanan saat mengucapkan "Hayya 'alash shalah" dan ke kiri saat mengucapkan "Hayya 'alal falah". Para ulama menjelaskan bahwa perbuatan ini dilakukan agar seruan adzan dapat menjangkau lebih luas ke segala arah.
Imam Al-Auza'i - sebagaimana disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi - berpendapat bahwa memasukkan jari ke telinga juga disunnahkan saat iqamah, sebagaimana saat adzan.
3. Tentang Hullah Merah dan Anazah
Dalam hadits ini juga disebutkan bahwa Nabi ﷺ mengenakan hullah (pakaian) merah dan shalat menghadap anazah (tongkat/tombak pendek) yang ditancapkan di tanah sebagai pembatas (sutrah). Ini menunjukkan bahwa shalat dengan sutrah adalah sunnah, dan bolehnya memakai pakaian yang ada warna merahnya selama bukan merah menyala yang mencolok (mufardam). Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud merah di sini adalah kain bergaris-garis merah dari Yaman (hibrah), bukan merah polos.
4. Keabsahan Hadits
Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi. Hadits ini diriwayatkan dari jalur Sufyan Ats-Tsauri - salah satu ulama besar tabi'ut tabi'in yang masuk dalam daftar rujukan kita - dari 'Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya.
Story Telling
Abu Juhaifah Wahb bin Abdullah As-Suwa'i adalah seorang sahabat muda yang mulia. Beliau menceritakan momen indah ini dengan penuh ketelitian, seolah-olah ia sedang melukiskan sebuah pemandangan yang sangat berkesan. Ia berkata: "Seolah-olah aku masih melihat kilau betis Rasulullah ﷺ."
Perhatikanlah bagaimana seorang sahabat memperhatikan detail-detail ibadah Nabi ﷺ dan Bilal. Mereka tidak menganggap remeh hal-hal yang tampak kecil seperti posisi jari saat adzan, karena semua itu adalah bagian dari syiar Islam yang agung. Dari sini kita belajar bahwa seorang muslim hendaknya memperhatikan tata cara ibadah dengan teliti, bukan asal-asalan.
Kesimpulan Praktis
- Memasukkan kedua jari telunjuk ke telinga saat adzan adalah sunnah yang dianjurkan, karena dilakukan Bilal di hadapan Nabi ﷺ dan beliau tidak melarangnya.
- Menoleh ke kanan saat "Hayya 'alash shalah" dan ke kiri saat "Hayya 'alal falah" adalah sunnah agar seruan adzan lebih meluas.
- Memasang sutrah (pembatas) saat shalat adalah sunnah, sebagaimana Nabi ﷺ shalat menghadap anazah.
- Memakai pakaian yang ada unsur merah (seperti kain bergaris) diperbolehkan, selama bukan merah menyala yang diharamkan.
- Bolehnya shalat di tanah lapang dan adzan di luar masjid, sebagaimana yang dilakukan Bilal di Bathha'.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.