Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan adzan kepada Abu Mahdhurah dengan 19 kalimat dan iqamah dengan 17 kalimat. Ini menunjukkan bahwa iqamah juga terdiri dari kalimat yang berulang (bukan hanya sekali), dan inilah yang dipilih sebagian ulama. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam at-Tirmidzi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama (Jami' at-Tirmidzi no. 192, Kitab Shalat, Bab Tarji' dalam Adzan), dari Abu Mahdhurah (Samurah bin Mi'yar) radhiyallahu 'anhu:
Nabi ﷺ mengajarkan adzan kepadanya dengan sembilan belas kalimat, dan iqamah dengan tujuh belas kalimat.
Imam at-Tirmidzi berkata: "Ini hadits hasan shahih." Beliau juga menyebut bahwa sebagian ahli ilmu mengamalkan hadits ini dalam masalah adzan, dan diriwayatkan bahwa Abu Mahdhurah menggenapkan (mengulang) iqamah.
Ayat terkait — perintah adzan dan seruan shalat:
QS. Al-Ma'idah [5]: 58
وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
"Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti."
Kaitan ulama: Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas perbedaan lafazh adzan dan iqamah, termasuk riwayat Abu Mahdhurah ini. Ibnu Rajab al-Hanbali juga membahas keutamaan adzan dalam kitabnya.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Hadits ini menerangkan bahwa lafazh adzan tersusun dari 19 kalimat, sedangkan iqamah 17 kalimat. Rinciannya menurut riwayat Abu Mahdhurah yang masyhur:
- Adzan (19 kalimat): "Allahu Akbar" 4x, "Asyhadu an laa ilaaha illallah" 2x, "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" 2x, "Hayya 'alash shalah" 2x, "Hayya 'alal falah" 2x, "Allahu Akbar" 2x, "Laa ilaaha illallah" 1x — dengan tambahan tarji' (mengulang syahadat dengan suara rendah lalu tinggi) pada sebagian riwayat.
- Iqamah (17 kalimat): hampir sama, namun ditambah "Qad qamatish shalah" 2x, dan sebagian lafazhnya dibaca sekali.
Pemahaman ulama:
- Imam at-Tirmidzi menegaskan hadits ini hasan shahih dan menyatakan sebagian ahli ilmu mengamalkannya. Beliau juga menyebut riwayat bahwa Abu Mahdhurah sendiri menggenapkan iqamah (yakni mengulang-ulang lafazhnya, tidak hanya sekali).
- Perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar:
- Sebagian (seperti yang dipilih dalam madzhab Syafi'i, sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi dalam al-Majmu') berpendapat iqamah dibaca dengan lafazh yang diulang (17 kalimat), sesuai hadits Abu Mahdhurah ini.
- Sebagian lain (dalam madzhab Hanafi dan sebagian riwayat dari Hanabilah) berpendapat iqamah dibaca sekali-sekali (11 kalimat), berdasarkan hadits lain dari Anas bin Malik dan lainnya.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perbedaan ini adalah perbedaan yang luas (khilaf masyhur), dan masing-masing memiliki dalil.
- Yang paling kuat menurut dalil: Hadits Abu Mahdhurah ini shahih dan tegas menyebutkan jumlah kalimat iqamah 17, sehingga pendapat yang menggenapkan iqamah lebih kuat dari sisi riwayat ini. Namun karena ada riwayat lain yang shahih pula tentang iqamah sekali-sekali, para ulama tetap menghormati kedua pendapat. Syaikh al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menguatkan lafazh Abu Mahdhurah untuk adzan dan iqamah.
- Hikmah: Adzan dan iqamah adalah syi'ar Islam yang agung. Mengulang kalimat menunjukkan penekanan makna tauhid dan seruan kepada shalat, agar hati manusia tersentuh dan siap menghadap Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Mahdhurah radhiyallahu 'anhu dahulu adalah seorang pemuda yang suaranya indah. Ketika Nabi ﷺ kembali dari perang Hunain, beliau memerintahkan beberapa orang untuk adzan. Abu Mahdhurah ikut mengumandangkan adzan, dan Nabi ﷺ kagum dengan suaranya. Beliau lalu mengajarinya adzan secara langsung, mengusap ubunnya, dan mendoakannya dengan keberkahan. Sejak itu Abu Mahdhurah menjadi muadzin tetap di Masjidil Haram hingga wafatnya. (Kisah ini disebutkan dalam riwayat-riwayat tentang Abu Mahdhurah, dan dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah serta Ibnu Katsir dalam kitab sejarahnya.)
Hikmah: Betapa besar keutamaan adzan, sampai-sampai Nabi ﷺ mengajarkannya secara pribadi dan mendoakan muadzinnya. Ini mengajarkan kita untuk memuliakan syi'ar-syi'ar Islam dan bersemangat dalam ketaatan.
Kesimpulan Praktis
- Adzan dan iqamah adalah ibadah yang lafazhnya diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ — jangan menambah atau mengurangi tanpa dalil.
- Iqamah boleh dibaca dengan lafazh berulang (17 kalimat) sebagaimana hadits Abu Mahdhurah, dan ini dipilih banyak ulama seperti Imam an-Nawawi dan dikuatkan Syaikh al-Albani.
- Hormati perbedaan pendapat di antara ulama dalam masalah lafazh iqamah, karena keduanya memiliki dalil.
- Bersemangatlah menjaga adzan dan iqamah karena keduanya syi'ar agung dan sebab ampunan serta keberkahan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.