Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1907 tentang Allah menjaga yang menjaga silaturahmi, memutus yang memutusnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan "rahim" (hubungan kekerabatan) dan mengaitkannya dengan nama-Nya "Ar-Rahman". Siapa yang menyambung silaturahmi, Allah akan menyambung hubungan dengannya; siapa yang memutusnya, Allah akan memutus hubungan dengannya. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan silaturahmi dalam Islam.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 1907) dari jalur Sufyan bin 'Uyainah, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abdurrahman bin 'Awf رضي الله عنه. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits Sufyan dari Az-Zuhri adalah hadits shahih."

Teks hadits yang disebutkan:

قَالَ اللَّهُ: أَنَا اللَّهُ وَأَنَا الرَّحْمَنُ، خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا مِنَ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

Terjemahan: "Allah berfirman: 'Aku adalah Allah, dan Aku adalah Ar-Rahman. Aku menciptakan rahim dan menamakannya dengan nama-Ku. Maka siapa yang menyambungnya, Aku akan menyambungnya; dan siapa yang memutusnya, Aku akan memutusnya.'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

QS. An-Nisa' [4]: 1 — "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk menjaga silaturahmi setelah memerintahkan takwa kepada Allah, menunjukkan betapa pentingnya kedudukan silaturahmi.

Penjelasan Rinci

Makna Hadits:

Hadits ini adalah hadits qudsi (firman Allah yang disampaikan melalui Nabi ﷺ). Allah ﷻ menyebutkan bahwa Dia menciptakan "rahim" — yang oleh para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dijelaskan sebagai hubungan kekerabatan atau ikatan nasab. Allah mengaitkan nama "rahim" dengan nama-Nya "Ar-Rahman" karena kedekatan makna kasih sayang.

Penjelasan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim: Beliau menjelaskan bahwa "menyambung rahim" berarti berbuat baik kepada kerabat, menjaga hubungan, mengunjungi, memberi bantuan, dan tidak memutus komunikasi. Sedangkan "memutus rahim" adalah kebalikannya.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa Allah mengaitkan rahim dengan nama-Nya menunjukkan kemuliaan rahim dan besarnya dosa memutusnya. Ini juga menunjukkan bahwa menyambung silaturahmi adalah sebab datangnya keberkahan dan kasih sayang Allah.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan menjelaskan bahwa memutus silaturahmi adalah dosa besar yang menghalangi doa dan menyebabkan terputusnya rahmat Allah.

Perbedaan Riwayat:

Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa Ma'mar meriwayatkan hadits ini dengan sanad: Az-Zuhri → Abu Salamah → Raddad Al-Laitsi → Abdurrahman bin 'Awf. Sedangkan Sufyan bin 'Uyainah meriwayatkan: Az-Zuhri → Abu Salamah (langsung) dari Abdurrahman bin 'Awf. Imam Muhammad bin Isma'il (Al-Bukhari) — sebagaimana disebutkan At-Tirmidzi — menyatakan bahwa riwayat Ma'mar adalah khatha' (keliru). Yang benar adalah riwayat Sufyan.

Pendapat Ulama tentang Hukum:

  • Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menyatakan bahwa memutus silaturahmi adalah dosa besar berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama sepakat wajibnya menyambung silaturahmi dan haramnya memutusnya.

Story Telling

Dikisahkan dalam hadits ini bahwa Abu Ar-Raddad Al-Laitsi sedang sakit, lalu Abdurrahman bin 'Awf رضي الله عنه — salah satu sahabat utama dan termasuk sepuluh sahabat yang dijamin surga — menjenguknya. Abu Ar-Raddad berkata kepada Abdurrahman bin 'Awf: "Orang yang terbaik di antara kalian dan yang paling pantas menjaga hubungan baik, sejauh yang aku tahu, adalah Abu Muhammad (yaitu Abdurrahman bin 'Awf)."

Mendengar pujian itu, Abdurrahman bin 'Awf tidak berbangga diri. Beliau justru menyampaikan sabda Nabi ﷺ tentang keutamaan silaturahmi, mengingatkan bahwa yang menjaga hubungan baik akan dijaga oleh Allah, dan yang memutusnya akan diputus oleh Allah.

Hikmah: Seorang mukmin sejati tidak mencari pujian, tetapi mengarahkan perhatian kepada Allah dan akhirat. Abdurrahman bin 'Awf mengalihkan pujian kepada Allah dengan menyampaikan hadits ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib menjaga silaturahmi — menyambung hubungan dengan kerabat, mengunjungi, menelepon, membantu, dan mendoakan mereka.
  2. Haram memutus silaturahmi — termasuk tidak menyapa, tidak menjawab salam, atau memboikot kerabat tanpa alasan syar'i.
  3. Silaturahmi adalah sebab rahmat Allah — siapa yang menyambungnya, Allah akan menyambung hubungan dengannya di dunia dan akhirat.
  4. Jangan menunda — jika ada kerabat yang hubungannya renggang, segera perbaiki.
  5. Doa: Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?