Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu riwayat terpenting tentang asal-usul disyariatkannya adzan. Hadits ini menceritakan bahwa adzan pertama kali disyariatkan berdasarkan mimpi yang benar (ru'ya shadiqah) yang dialami oleh Abdullah bin Zaid radhiyallahu 'anhu. Rasulullah ﷺ membenarkan mimpi tersebut, lalu memerintahkan Bilal bin Rabah untuk mengumandangkannya karena suaranya lebih indah dan lebih keras. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu juga mendapat mimpi yang sama, yang semakin menguatkan dan menetapkan pensyariatan adzan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab "Apa yang Dikatakan tentang Awal Adzan", no. 189. Beliau menilai hadits ini hasan shahih.
Adapun dalil dari Al-Qur'an tentang perintah shalat dan panggilan untuk shalat, Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Jumu'ah [62]: 9
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
Ayat ini menunjukkan bahwa panggilan shalat (adzan) adalah perkara yang sudah mapan dalam syariat, dan hadits ini menjelaskan bagaimana awal mula pensyariatannya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu bukti nyata bahwa mimpi para sahabat yang shalih bisa menjadi salah satu sebab penetapan syariat, selama tidak bertentangan dengan wahyu dan dibenarkan oleh Rasulullah ﷺ.
1. Pensyariatan Adzan dan Peran Mimpi
Imam At-Tirmidzi menyebutkan hadits ini dalam bab awal adzan. Dalam riwayat yang lebih panjang (yang juga disebutkan oleh At-Tirmidzi dari riwayat Ibrahim bin Sa'd dari Muhammad bin Ishaq), diceritakan bahwa ketika kaum muslimin di Madinah kesulitan menentukan waktu shalat, mereka berdiskusi tentang cara memanggil orang untuk shalat. Ada yang mengusulkan mengibarkan bendera, menyalakan api, atau meniup terompet, namun semua itu kurang tepat.
Kemudian Abdullah bin Zaid radhiyallahu 'anhu bermimpi melihat seseorang membawa lonceng. Ia bertanya, "Maukah engkau menjual lonceng itu?" Orang itu balik bertanya, "Untuk apa?" Abdullah menjawab, "Untuk memanggil shalat." Orang itu lalu mengajarkan lafazh adzan kepadanya. Keesokan harinya, Abdullah bin Zaid mendatangi Rasulullah ﷺ dan menceritakan mimpinya. Rasulullah ﷺ bersabda, "Ini adalah mimpi yang benar." Beliau lalu memerintahkan Abdullah untuk mengajarkan lafazh tersebut kepada Bilal, karena suara Bilal lebih lantang dan merdu.
2. Penguatan dari Mimpi Umar bin Al-Khattab
Yang menarik, Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu juga mengalami mimpi yang sama. Ketika ia mendengar Bilal mengumandangkan adzan, ia segera menemui Rasulullah ﷺ dengan tergesa-gesa hingga menarik kainnya, dan berkata bahwa ia juga bermimpi hal yang sama. Rasulullah ﷺ bersabda, "Segala puji bagi Allah, itu semakin menguatkan (pensyariatan adzan)."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mimpi Umar ini menjadi penguat (mu'ayyid) bagi mimpi Abdullah bin Zaid, sehingga pensyariatan adzan menjadi lebih mantap. Ini menunjukkan hikmah Allah dalam menjaga syariat-Nya dengan saling menguatkan di antara para sahabat.
3. Pelajaran tentang Suara Bilal
Rasulullah ﷺ memilih Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan adzan karena suaranya yang indah dan keras. Ini menunjukkan bahwa dalam syariat, memilih orang yang memiliki suara bagus untuk adzan adalah perkara yang dianjurkan, selama orang tersebut juga memiliki kualitas keimanan dan ketakwaan. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menyebutkan bahwa disunnahkan muadzin memiliki suara yang bagus dan lantang.
4. Keistimewaan Abdullah bin Zaid
At-Tirmidzi menjelaskan bahwa Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih ini tidak dikenal memiliki hadits shahih dari Nabi ﷺ kecuali hadits adzan ini. Ini menunjukkan bahwa satu hadits yang shahih saja sudah cukup menjadi kemuliaan bagi seorang sahabat. Adapun Abdullah bin Zaid bin 'Ashim Al-Mazini adalah orang yang berbeda, dan ia memiliki banyak hadits dari Nabi ﷺ.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang bagaimana para sahabat berdiskusi mencari cara memanggil umat untuk shalat. Di antara usulan yang muncul adalah:
- Ada yang mengusulkan mengibarkan bendera sebagai tanda masuknya waktu shalat.
- Ada yang mengusulkan menyalakan api di tempat tinggi.
- Ada yang mengusulkan meniup terompet seperti kebiasaan orang Yahudi.
- Ada pula yang mengusulkan membunyikan lonceng seperti kebiasaan orang Nashrani.
Namun semua usulan itu terasa kurang tepat. Sahabat Umar bin Al-Khattab bahkan sempat mengusulkan agar ada orang yang ditugaskan untuk memanggil shalat, namun belum ada keputusan final.
Di tengah kebingungan itu, Allah memberikan jalan keluar melalui mimpi yang benar. Abdullah bin Zaid bermimpi diajari lafazh adzan, dan Umar juga bermimpi hal yang sama. Ketika Rasulullah ﷺ mendengar hal ini, beliau bersabda, "Sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar." Maka sejak saat itu, adzan menjadi syiar Islam yang menggema di seluruh penjuru dunia hingga hari ini.
Hikmah dari kisah ini: Ketika umat bersungguh-sungguh mencari solusi untuk kebaikan, Allah akan membukakan jalan. Dan syariat Islam tidak pernah lepas dari penjagaan Allah, baik melalui wahyu langsung maupun melalui perantara mimpi para hamba-Nya yang shalih.
Kesimpulan Praktis
- Adzan adalah syariat yang agung — ia disyariatkan melalui mimpi yang benar dan dibenarkan oleh Rasulullah ﷺ, lalu diperkuat dengan mimpi Umar bin Al-Khattab.
- Mimpi orang shalih bisa menjadi sebab kebaikan — selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah, dan selama tidak dijadikan sumber hukum mandiri tanpa dalil.
- Memilih muadzin yang bersuara bagus adalah sunnah — sebagaimana Rasulullah ﷺ memilih Bilal karena suaranya yang merdu dan lantang.
- Menghargai peran para sahabat — mereka adalah generasi terbaik yang menjadi perantara sampainya syariat ini kepada kita.
- Bersegera menuju shalat — sebagaimana Umar yang tergesa-gesa menemui Rasulullah ﷺ karena kegembiraannya mendengar adzan, kita pun seharusnya bersemangat ketika mendengar panggilan shalat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.