Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1649 tentang Keutamaan berjihad pagi dan sore di jalan Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar berjihad di jalan Allah, khususnya berangkat pagi atau sore hari untuk menegakkan agama-Nya. Satu kali keberangkatan saja—pagi atau sore—lebih bernilai daripada seluruh dunia beserta isinya. Ini menunjukkan bahwa amal akhirat yang ikhlas jauh lebih berharga daripada kenikmatan dunia yang fana.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (Jami' At-Tirmidzi no. 1649, Kitab Keutamaan Jihad, Bab Keutamaan Berangkat Pagi dan Sore di Jalan Allah):

Dari Abu Hurairah dan Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

غَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

"Berangkat di pagi hari di jalan Allah, atau di sore hari, lebih baik dari dunia dan apa yang ada di dalamnya."

At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan gharib." Beliau juga menjelaskan bahwa Abu Hazim yang meriwayatkan dari Sahl bin Sa'd adalah Abu Hazim az-Zahid (Salimah bin Dinar, Madinah), sedangkan Abu Hazim yang meriwayatkan dari Abu Hurairah adalah Abu Hazim al-Asyja'i al-Kufi (Salman, maula 'Azzah al-Asyja'iyyah).

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan — QS. At-Taubah [9]: 38:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa apabila dikatakan kepadamu 'Berangkatlah untuk berjihad di jalan Allah', kamu merasa berat dan ingin tetap tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan) kehidupan akhirat hanyalah sedikit."

Hadits pendukung — Shahih Al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

"Sungguh satu keberangkatan pagi di jalan Allah atau satu keberangkatan sore lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya."

Penjelasan Rinci

Makna kata kunci:

  • الغَدْوَة (al-ghadwah): keberangkatan di awal siang (pagi).
  • الرَّوْحَة (ar-rawhah): keberangkatan di akhir siang menjelang sore.
  • فِي سَبِيلِ اللَّهِ (fi sabilillah): di jalan Allah, yaitu berjihad untuk menegakkan kalimat Allah, bukan untuk kepentingan pribadi, harta, atau kedudukan.

Pemahaman para ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "lebih baik dari dunia dan apa yang ada di dalamnya" adalah bahwa pahala satu keberangkatan pagi atau sore di jalan Allah melebihi seluruh nilai dunia seisinya. Ini karena dunia bersifat fana dan terbatas, sedangkan pahala jihad adalah amal akhirat yang kekal.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini merupakan dorongan kuat untuk berjihad dan menunjukkan betapa agungnya kedudukan mujahid di sisi Allah. Beliau juga menjelaskan bahwa keutamaan ini berlaku bagi siapa saja yang keluar dengan niat ikhlas mencari ridha Allah, meskipun hanya sebentar.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa jihad memiliki tingkatan-tingkatan, dan salah satu keutamaannya adalah bahwa waktu yang dihabiskan di jalan Allah—meskipun singkat seperti pagi atau sore—memiliki nilai yang tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan dunia. Beliau menekankan bahwa ini berlaku ketika jihad dilakukan dengan niat yang benar dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. At-Taubah [9]: 38 mengajarkan bahwa kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat melemahkan semangat berjihad. Beliau menegaskan bahwa dunia dibandingkan akhirat hanyalah sedikit, sehingga seorang mukmin seharusnya tidak mengorbankan kepentingan akhirat demi kenikmatan dunia yang sementara.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan amal yang dilakukan di jalan Allah, dan bahwa nilai dunia tidak sebanding dengan pahala amal akhirat. Beliau juga mengingatkan bahwa jihad harus dilakukan sesuai syariat dan dengan izin pemimpin yang sah, serta tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

Catatan tentang status hadits:

At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan gharib. Para ulama hadits seperti Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dengan lafaz yang sedikit berbeda, sehingga maknanya kuat dan shahih. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini memiliki banyak jalur periwayatan yang saling menguatkan.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang amal yang paling utama. Nabi ﷺ menjawab dengan menyebutkan iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya. Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda bahwa puncak segala urusan adalah jihad di jalan Allah.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, meskipun dikenal sebagai imam ahli hadits, beliau juga memiliki semangat jihad yang tinggi. Dalam Siyar A'lam an-Nubala (karya Adz-Dzahabi), disebutkan bahwa Imam Ahmad pernah berkata tentang keutamaan jihad dan pentingnya niat yang ikhlas dalam beramal. Beliau menekankan bahwa amal yang sedikit namun ikhlas lebih baik daripada amal yang banyak namun tanpa keikhlasan.

Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa nilai amal tidak diukur dari banyaknya, tetapi dari keikhlasan dan kesesuaiannya dengan tuntunan Nabi ﷺ. Satu keberangkatan pagi atau sore di jalan Allah—jika dilakukan dengan ikhlas—lebih berharga dari seluruh dunia.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikhlas dalam beramal: Setiap amal, termasuk jihad, harus dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah, bukan untuk pamer atau mencari keuntungan duniawi.
  2. Menghargai waktu: Waktu pagi dan sore adalah waktu yang berharga. Gunakan untuk amal saleh, termasuk mendukung perjuangan menegakkan agama Allah sesuai kemampuan masing-masing.
  3. Zuhud terhadap dunia: Jangan terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat. Dunia hanyalah sarana, bukan tujuan.
  4. Mendukung jihad sesuai syariat: Bagi yang tidak bisa berjihad secara fisik, dukunglah dengan harta, doa, dan dakwah yang benar sesuai tuntunan Nabi ﷺ dan pemahaman para ulama.
  5. Mengikuti pemahaman ulama: Pahami hadits ini sesuai penjelasan para ulama Ahlus Sunnah, bukan berdasarkan emosi atau pemahaman sendiri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?